Bom di Sekitar Kita

Dunia prihatin lalu menangis. Bom bukan lagi masalah suatu wilayah daerah saja. Bom menjadi masalah pelik global kini.

Editor: Dion DB Putra
KOMPAS.COM / XINHUA
Foto ini dirilis oleh agensi berita China Xinhua, seorang pria tak dikenal dengan senjata berjalan dengan latar belakang kerumunan orang, di kawasan Jalan MH Thamrin, dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016. Pria ini termasuk salah seorang pelaku teror bom. 

Oleh Mario F. C. Putra, CMF

POS KUPANG.COM - Setelah Paris, Perancis, medio November 2015, Istanbul, Turki, Selasa (12/1/2016), kini Jakarta, Indonesia, Kamis (14/1/2016) yang diguyur bom para teroris. Banyak korban berjatuhan dan sungguh berdampak pada realitas sosial. Tampak sekarang kita perlu berhati-hati ketika beraktivitas di publik.

Dunia prihatin lalu menangis. Bom bukan lagi masalah suatu wilayah daerah saja. Bom menjadi masalah pelik global kini. Seperti yang diberitakan Kompas (15/1/2016), sejumlah pejabat negara dari berbagai belahan dunia meneriakkan kecamannya terhadap aksi teror di Jakarta.

Masih dalam Kompas (15/1/2016), beberapa pemimpin agama seperti Ketua Umum Pengurus Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Ignatius Suharyo, dan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Henriette TH Lebang turut menyampaikan rasa keprihatinan dan kesedihannya.

Presiden Joko Widodo pun demikian. Beliau mengungkapkan rasa belasungkawanya. Beliau turut mengecam aksi teror bom di Jakarta. "Negara, bangsa, dan rakyat, kita tidak boleh takut dan kalah" (Kompas, 15/1/2016).

Kebiadaban!
Praktek teror adalah praktek biadab. Tindakan yang dilakoni oleh para teroris adalah praktek biadab. Mengutip Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, tindakan teror adalah perbuatan terkutuk, yang kiranya bukan merupakan tindakan yang sesuai dengan ajaran agama manapun, lanjut Said Aqil Siroj.

Kebiadaban ini menggarisbawahi suatu fakta sosial: betapa muramnya toleransi/penghargaan antarsesama manusia. Artinya, hidup sesamanya manusia hanyalah kotoran bagi dirinya lalu mesti disingkirkan. Biadab!

Lawrence Wright dalam bukunya yang berjudul, Sejarah Teror, menulis kata-kata Osama Bin Laden, pemimpin Al-Qaeda, demikian, "...meneror penindas dan penjahat dan pencuri dan perampok adalah hal yang dibutuhkan demi keamanan orang dan untuk melindungi harta mereka... Terorisme yang kami praktekkan adalah terorisme yang terpuji" (Lawrence Wright, 2011: 329).

Yang diutarakan oleh bin Laden tidak dapat dibenarkan. Jika menurut bin Laden adalah sebuah kebenaran yang perlu dipraktekkan, maka itu adalah hal yang tidak pantas bagi manusia (juga makhluk hidup lain). Terorisme bukan budaya manusia.

Fenomena kebiadaban ini akan berdampak pada realitas sosial. Masyarakat akan semakin hidup dalam ketakutan ketika hendak bepergian. Lebih parah lagi, orang akan menaruh sikap curiga berlebihan terhadap orang lain.

Hal itu terbukti, seperti yang diberitakan Kompas (15/1/2016), Kedubes AS untuk Indonesia menutup pelayanannya dan meminta warga negara AS di Indonesia menjauhi keramaian. Begitu pula dengan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang meminta para wisatawan untuk tidak takut berkunjung ke Jakarta pasca teror bom, seperti dilansir Metro TV (15/1/2016). Inilah hasil dari kebiadaban itu.

Hati-hati!
Pasca aksi teror bom Jakarta, banyak media cetak maupun media elektronik beramai-ramai memberitakan tentang pengawasan ketat di berbagai tempat. Bandara, pelabuhan laut, mal-mal, hotel-hotel merupakan contoh tempat-tempat yang mendapat perhatian lebih dalam pengawasan.

Selain pengawasan ketat, muncul gerakan-gerakan sosial seperti #KamiTidakTakut dan #PrayForJakarta. Dua tagar ini merupakan bentuk solidaritas untuk melawan tindakan biadab para teroris.

Namun, satu hal yang perlu saya soroti di sini adalah meningkatkan sikap kehati-hatian. Kita tidak cukup hanya memberikan suara untuk melawan teroris. Masing-masing pribadi perlu berhati-hati.

Suasana kondusif dan normal tidak bisa dijadikan alasan situasi benar-benar 100% terjamin keamanannya. Justru sebaliknya, bisa saja situasi yang demikian merupakan corong bagi kebiadaban teroris untuk kembali melakukan hal yang sama, namun di tempat dan waktu yang berbeda tentunya.
Untuk itu, kita boleh saja memberikan suara perlawanan kita terhadap kebiadaban teroris, tetapi kita perlu terus-menerus memasang tameng hati-hati di berbagai situasi hidup karena bom masih ada di sekitar kita.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved