Masyarakat Percaya Pulau Timor Berasal dari Buaya
Mitos yang masih dipercayai sebagian masyarakat, Pulau Timor berasal dari seekor buaya dan buaya merupakan nenek moyang orang Timor.
Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Ferry Ndoen
POS KUPANG.COM, KUPANG-Mitos yang masih dipercayai sebagian masyarakat, Pulau Timor berasal dari seekor buaya dan buaya merupakan nenek moyang orang Timor.
Namun mitos ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga ilmuwan dan instansi teknis terkait terus melakukan penelitian mengapa sepanjang Teluk Kupang dan sebagian besar pesisir Pulau Timor muncul banyak buaya muara.
Mitos ini diungkapkan Dadang Suryana (WRU BBKSDA) dan Wilson Therik (akademisi) dalam acara Foccused Group Diskussion (FGD) strategis penanganan konflik manusia dan buaya muara di Teluk Kupang serta upaya mitigasinya di Balai Penelitian Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin (21/12/2015).
Diskusi terkait pelaksanaan penelitian tentang , " Kajian Habitat dan Populasi Buaya Muara di NTT", membedah informasi multi perspectif mengenai strategi konflik manusia dan buaya muara di Teluk Kupang menghadirkan nara sumber, Dadang Susyana dari BBKSDA dengan materi , "Konflik Maunsia dan Buaya Muara di Teluk Kupang", Budiyanto D Prasetyo dengan materi, "Preferensi Masyarakat tentang Penanganan Konflik Manusia dan Buaya di Teluk Kupang dan upaya mitigasinya",
Wilson Therik dengan materi, "Dampak Perubahan Iklim di Pulau Timor dan Esklasi Konflik Manusia dan Buaya", Grace S Saragih yang menyajikan materi," Status penelitian Habitat dan Populasi Buaya Muara di Teluk Kupang", dan Pemred Harian Pos Kupang, Dion D.B Putra yang diwakili Gerardus Manyella, salah satu redaktur menyampaikan materi, "Peran Media Massa dalam mendukung upaya penanganan konflik Manusia dan Buaya di Teluk Kupang", dengan moderator Dr. S Agung S Raharjo,S.Hut,MT dan notulis, Ali Ngirom,S.Hut,MSc.
Dadang Suryana mengatakan, penanganan konflik manusia dan buaya selama ini seperti bodrex hanya obat sakit kepala.
Pemerintah daerah perlu memikirkan penangkar permanen sebagai obyek wisata, obyek penelitian dan lain-lain. Sepanjang tahun 2015, kata Dadang, pihak BBKSDA berhasil menangkap tiga ekor buaya, terakhir pada 18 Desember di Lasiana. Tiga ekor buaya ini diamankan di penangkar sementara milik BBKSDA. Jika ada pihak ketiga yang ingin menangkar untuk dijadikan obyek wisata, tinggal mengurus izinnya.
Budiyanto mengatakan, membunuh buaya tidak mengurangi habitat. Serangan buaya yang sering terjadi di Teluk Kupang membuat manusia merasa tidak aman.
Dia mengatakan, hasil wawancara dengan masyarakat responnya, saat melihat buaya akan melarikan diri. Masyarakat juga meminta tambah papan peringatan bahaya buaya di pesisir pantai yang sering muncul buaya agar warga selalu waspada.
Wilson Therik mengisahkan dulu Teluk Kupang aman, beberapa tahun terakhir ini muncul buaya yang meresahkan warga pesisir.
Dia mengisahkan perisitwa penangkapan buaya oleh warga Oeba beberapa tahun lalu, yang menjadi obyek tontonan warga bahkan dipungut Rp 1.000 pun warga mau membayar untuk menyaksikan buaya yang telah diikat dari jarak dekat.
Wilson mengatakan munculnya buaya, selain ekologinya
terganggu, juga karena penggunakan pestisida yang masih, selain mitos bahwa Pulau Timor berasal dari buaya.
Grace Saragih menyampaikan pihaknya telah melakukan survei buaya muara di Teluk Kupang. Survei itu menggunakan senter dan perahu menyusuri sungai dan pantai pada malam hari. Hasilnya buaya bersarang di Uel, Nunkurus dan sepanjang pantai Batu Putih sampai Lasiana. Hasil survei itu belum dapatkan data soal populasi, tapi ditemukan 7 individu buaya/15,06 Km.
Sedangkan Gerardus Manyella yang mewakili Pemred Harian Pos Kupang menyampaikan media mengkritisi terjadinya kerusakan lingkungan sepanjang pantai Kupang, nyaris punahnya mangrove yang menjadi tempat berkembangbiaknya habitat laut sebagai salah satui penyebab sering munculnya buaya yang meresahkan masyarakat.
Media juga selalu mengingatkan pemerintah tentang pentingnya konservasi, perlu menjaga keseimbangan lingkungan sepanjang Teluk Kupang yang merupakan daerah muara suangai-sungai di Kabupaten Kupang dan sekitarnya.
Media massa, khususnya Pos Kupang, kata Gerardus, selalu mempublikasikan peristiwa konflik manusia dan buaya, serta langkah yang diambil BBKSDA yang menangkap dan menangkarkan buaya tersebut. Media juga siap bekerjasama dengan BBKSDA dan instansi terkait lainnya dalam mencegah konflik antara manusia dan buaya.
Gerardus menyebutkan, korban konflik antara manusia dan buaya yang dilansir Pos Kupang, antara lain Agida Pinto yang tewas dimangsa buaya pada 16 November 2013, Tobi Anias, mahasiswa FT Undana yang ditemukan tewas dimangsa buaya pada 5 November 2014 dan Lazarus Naben yang tewas dimangsa buaya pada 24 November 2015.(gem)
Mudah Jinak dan Cepat Dendam
Sifat buaya itu mudah jinak tapi cepat dendam. Jika disapa secara baik, buaya tidak ganas, tapi jika diganggu buaya semakin ganas.
Dadang Suryana dari BBKSDA menceriterakan pengalaman menangkap dan menangkar buaya. Dia mengatakan buaya bisa menghilangkan jejak dan bisa membalikkan badan. Hal ini dialami mereka saat menangkap seekor buaya di Lasiana 18 Desember lalu.
Alexander, warga Lasiana yang hadir pada diskusi itu menuturkan, buaya reaksinya sangat cepat. Bagi mereka sebagai nelayan, buaya bukan musuh. Dia melihat buaya bisa mendatangkan uang sehingga perlu dipikirkan penangkar permanen yang dijadikan obyek wisata. Alexander mencontohkan, saat penangkapan buaya di Lasiana, dalam waktu tidak terlalu lama sekitar 500 orang warga Kota Kupang menuju Lasiana untuk menyaksikan buaya secara dekat.
Yonas dari Kelapa Tinggi menuturkan pengalaman dirinya dan warga di wilayahnya ketika menemukan seekor buaya. Mereka menganggap buaya adalah nenek moyang orang Timor sehingga dirinya berkomunikasi dengan buaya itu.
"Bai (kakek,Red) tinggalkan tempat ini. Begitu mendengar kalimat ini, buaya pun pergi. Ada yang buaya gigit tangan, karena orang itu panjang tangan (pencuri,Red)," tutur Yonas.
Salah seorang dosen Fakultas Perikanan Undana menyarankan dalam penelitian, perlu dicaritahu apa yang diinginkan masyarakat. Dia menyarankan tim peneliti secepatnya merampungkan data populasi.
Sedangkan Dadang mengajak pihak swasta berinvestasi penangkaran buaya yang bisa dijadikan obyek wisata. Pihaknya tak mampu melakukan karena keterbatasan dana.
Soal ini, Wilson menyarankan agar dibicarakan dengan DPRD Provinsi NTT yang ounya domain anggaran. Wilson pun sepakat agar buaya dilihat dari sisi sosial ekonomi yang bisa mendatangkan uang, sosial budaya, kearifan lokal yang membuat manusia dan buaya hidup berdampingan dan sosial ekologi. Di sini kebijakan pemerintah masih bersifat pemadam kebakaran. Ada kebijakan jika terjadi perisitiwa seperti buaya memangsa manusia.(gem)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/diskusi-buaya-dan-manusia_20151223_092635.jpg)