Budaya Intip
Pemahaman Schopenhauer yang demikian ini berangkat dari sebuah kesadaran empirik akan daya
Oleh Dony Kleden
Rohaniwan dan Antropolog Sumba, NTT
POS KUPANG.COM - "Naluri seks adalah penyebab perang dan tujuan damai; ia pendorong semua tindakan penting, tapi juga obyek gurauan, sumber kebisuan yang tak pernah kering, ajakan yang tak terkatakan, asal bisikan mesum, persembunyian pandangan misterius, obsesi pikiran dan asal segala peristiwa", (Schopenhauer).
Pemahaman Schopenhauer yang demikian ini berangkat dari sebuah kesadaran empirik akan daya sentil seks yang begitu sensitif dalam hidup manusia. Seks begitu memikat dan mempesona, sehingga tidak ada satu pun manusia mengabaikan dan sanggup menekan naluri seksnya sampai pada tingkat ketiadaan. Seks oleh Michel Foucault merupakan bagian dari ciri manusia sebagai makhluk yang berhasrat (the desiring subject).
Kasus prostitusi para artis dengan 'korban' Nikita Mirzani yang begitu mengemparkan sampai sekarang ini, adalah sebuah tanda bahwa seks memang nikmat untuk dibicarakan karena dia bisa seperti yang dikatakan oleh Schopenhauer adalah asal segalanya dan punya arti tersendiri. Seks oleh Michel Foucaul dalam The history of sexuality, mempunyai bias ganda. Dia tidak hanya menjadi sebagai pemenuhan kebutuhan biologi sebagaimana yang dikatakan oleh para antropolog, tetapi juga mengusung sebuah prestise yang tinggi demi sebuah pengakuan (Michel Foucault, 1985).
Seks oleh Foucault dilihat sebagai sebuah pembuktian diri, baik diri sisi libido, ekonomi, kedudukan maupun kekuasaan. Seks adalah sasaran intip, dari semua mata manusia yang ingin terlibat dalam membicarakan privasi orang.
Seks dengan demikian tidak hanya membatasi diri dan tidak bisa dilokalisir pada sebuah ruang privat tetapi dia sudah menjadi panseksualitas. Istilah panseksualitas di sini mau mengatakan bahwa seks memang merasuk dalam berbagai sekat hidup manusia dan bahkan mendikte manusia untuk melakukan sesuatu, termasuk dengan segala motivasi dan tujuan. Seks pada dirinya sendiri tidak mempunyai tujuan tunggal.
Seks bisa sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi, politik, sosial, agama, dan budaya. Dalam semua bidang ini seks tidak pernah absen, apalagi men-tabu-kan diri untuk hadir. Dia bahkan menjadi perekat relasi dan jaminan yang membangkitkan kepercayaan.
Rasanya ini bukan rahasia lagi, walaupun kita cenderung untuk mengatakannya rahasia, supaya kita jangan tampil apa adanya. Kita lebih suka menampilkan kepalsuan dan memoles diri dengan kesucian seolah-olah naluri seks kita sangat terkendali, pada hal itu semua adalah kepura-puraan belaka. Artis Nikita Mirzani adalah korban dari hasrat seks kita yang tidak terbendung. Dia adalah korban dari daya cenderung kita yang sukanya mengintip privasi orang, khususnya seks yang dikatakan sebagai sangat memikat itu.
Saya tidak bermaksud membersihkan Nikita Mirzani dari segala tuduhan. Dalam arti ini saya hanya mau mengatakan bahwa seks memang nikmat dibicarakan oleh mereka yang masih terpasung dalam selubung kepalsuan, tanpa menghiraukan sanksi sosial dari yang dijadikan objek pembicaraan. Dan dengan membicarakannya secara bombastis, mereka sebenarnya telah mencapai 'orgasme seks', yang selama ini terpendam dalam berbagai aturan dan batasan-batasan yang katanya suci dan karena itu harus dipatuhi. Padahal kesucian itu pun adalah hasil dari sebuah proses simbolisme manusia dan karena itu pada dirinya sendiri terkandung tafsir.
Seks dan Agama
Gejolak seks yang begitu merebak dalam berbagai sekat kehidupan manusia sebenarnya juga adalah sebuah resistensi terhadap norma-norma yang mengukung. Orang-orang modern menampilkan sebuah sebuah budaya baru yang disebut budaya diferensial.
Budaya diferensial adalah budaya tanding yang memperkenalkan sebuah corak perilaku baru. Dan corak perilaku baru ini cenderung melepaskan diri dari berbagai ikatan norma yang dianggap benar dan suci yang sebagian besar dari padanya adalah produk dari agama.
Harus kita akui bahwa, dalam hal urusan seks, agama sangat mengontrol dan menekan. Pada abad ke tujuh belas, ketika moral Eropa masih dikuasai oleh Kristianisme, yang berkisar sekitar 'tujuh dosa berat', dosa seks merupakan salah satu di antaranya. Agama Kristen pada waktu itu menjadi The Second God yang menentukan mana yang baik, benar, suci dan mana yang jahat, kotor, najis. Aroganis agama sangat mencekam dan membunuh hasrat serta kreativitas manusia, karena memproduk sejumlah norma larangan.
Namun di zaman sekarang ini, ketika manusia dihadapkan dengan berbagai persoalan yang baru dan berbeda, kiranya segala norma dan larangan-larangan suci yang klasik perlu ditinjau lagi. Kasus Nikita Mirzani sebenarnya adalah pewujudan dari budaya diferensial itu. Kasus Nikita Mirzani hanyalah setitik nila yang terkuak dari berjuta-juta genangan nila yang masih terendam dalam alam kepalsuan. Kasus Nikita Mirzani, kalau itu memang benar, maka dalam pemikiran Michel Foucault adalah sebuah resistensi terhadap norma-norma yang dianggap mapan.
Maka sangatlah tidak adil kalau kita terus mendakwa dan melontarkan sumpah serapah kepada Nikita Mirzani. Justru sebaliknya, kiranya kasus Nikita Mirzani ini menjadi cermin bagi kita semua untuk melihat diri. Dan pada cermin itu, kita akan melihat bahwa ternyata diri kita pun sudah melekat dalam diri Nikita Mirzani sendiri. Kalau memang demikian, maka mencerca Nikita Mirzani dengan segala tuduhan dan hinaan, sebenarnya kita mencerca diri sendiri. Dan mengingat seks adalah ruang privasi masing-masing orang, maka tidak terlalu etik dan etis kalau kita suka mengintip dan mencampuri privasi orang.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/puty-revita-dan-nikita-mirzani_20151214_161911.jpg)