Krisis Air di Kota Ruteng

Menyikapi Krisis Air di Ruteng

Bagi masyarakat di pedesaan, mengambil air bersih dalam jarak puluhan kilometer bukan persoalan

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

POS KUPANG.COM - Konstitusi negara kita, yakni UUD 1945, sudah tegas mengatur tentang semua aspek kehidupan dalam masyarakat. Salah satunya adalah tentang bumi, air dan kekayaan yang ada di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kemudian dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat.

Bagi masyarakat di pedesaan, mengambil air bersih dalam jarak puluhan kilometer bukan persoalan. Susah air, minum air hujan, bahkan harus berebutan air dari kubangan ternak pun biasa dilakukan warga. Kondisi seperti ini terjadi di beberapa wilayah di Provinsi NTT.

Kisah ironi terjadi di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Dikelilingi puluhan sumber mata air, warga Kota Ruteng malah kesulitan air minum. Pipa air hanya lewat, tanpa air yang mengalir. Di beberapa titik, airnya keluar seminggu sekali, namun debitnya sangat kecil.

Wilayah Manggarai, sejak NTT ada, dikenal sebagai salah satu daerah paling subur di NTT. Alamnya yang sejuk, tanahnya yang subur, membuat para petani berbuat apa saja, pasti menghasilkan. Buang saja di tanah, pasti tanaman itu tumbuh subur. Kata-kata itu selalu dikatakan orang-orang membanggakan potensi alamnya di Manggarai.

Namun, saat ini, ketika Kota Ruteng mulai kesulitan air, siapa yang mesti disalahkan? Apakah ketersediaan air bawah tanah di wilayah ini mulai habis sehingga debitnya menurun? Atukah salah pengelolaan oleh manajemen PDAM sehingga air tidak rata mengalir ke semua wilayah?

Mencari pembenaran diri tentu sangat mudah. Tinggal 'mengkambinghitamkan' sesuatu, masalah selesai. Namun, bila dilihat secara cermat, masyarakat Kota Ruteng mestinya sudah harus sadar bahwa wilayahnya mulai terancam krisis air. Apa masalahnya, mesti segera dikaji.

Jumlah penduduk dan pemukiman kota yang makin padat, membuat daerah tangkapan air mulai berkurang. Kawasan di sekitar hutan dirusak mengurangi wilayah tangkapan air. Hal ini yang mesti disikapi.

Menyediakan modal untuk memperbaiki jaringan transmisi air, butuh dana yang sangat besar. Waktunya pun lama. Sementara kebutuhan akan air bersih bagi warga saban hari terus meningkat.

Paling tidak, Pemkab Manggarai sudah punya rencana tata ruang kota. Tata ruang kota itu mesti diperhatikan dengan benar. Mana kawasan ruang terbuka hijau, permukiman, perkantoran, wisata hingga daerah tangkapan air dan hutan lindung mesti diperhatikan. Bila tidak, jangan harap masalah air bersih di Ruteng akan teratasi. Bukan tidak mungkin suatu saat puluhan sumber mata air itu akan kering. Ketika jaringan perpipaan berhasil dibenahi, sumber air yang justru tak menghasilkan debit yang cukup.

Krisis air menjadi pekerjaan yang mesti segera direspons Pemkab Manggarai. Bila tidak, Ruteng hanya punya nama kota dingin, tapi air bersihnya bakal dialirkan dari wilayah lain.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved