Adventus dalam Pluralitas
Masa Adventus sebagai sebuah masa penantian bukanlah sebuah penantian yang pasif, melainkan aktif
Oleh Videntus Atawolo
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Oepoi, Kupang
POS KUPANG.COM - Minggu 29 November 2015 adalah hari Minggu Adventus yang pertama. Umat kristiani memasuki Masa Adventus. Masa penantian. Menanti kedatangan Yesus Kristus. Dalam konteks futuris, Adventus berarti menanti kedatangan Tuhan yang akan datang pada akhir zaman. Dalam konteks perayaan Liturgi Gerejani, Adventus bermakna memersiapkan hati untuk menyambut kedatangan Yesus dalam perayaan Natal. Yakni merayakan hari kelahiran-Nya.
Masa Adventus sebagai sebuah masa penantian bukanlah sebuah penantian yang pasif, melainkan aktif, kreatif dan produktif, karena orang tidak hanya menunggu, tetapi terlebih menyiapkan hati untuk merayakan hari kelahiran-Nya dalam konteks kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia adalah makhluk yang selalu "ada bersama". Ada bersama dirinya.
Ada bersama sesamanya. Ada bersama lingkungan hidupnya. Ada bersama Tuhan. Manusia adalah makhluk yang terbatas karena ia adalah ciptaan; karena itu ia tidak steril dari kekhilafan, kekeliruan, kesalahan dan dosa. Maka manusia perlu berefleksi untuk bertobat. Dalam konteks sosial dan pertobatan inilah, Gereja menampilkan tokoh sentral dalam permenungan Adventus, yakni Yohenas Pembaptis.
Yohanes Pembaptis muncul di padang gurun Yudea mewartakan pertobatan. Orang diarahkan dan ditawari cakrawala hidup yang baru dalam terang Kerajaan Surga. Pengarahan pertobatan itu diharapkan mengubah gaya hidup dan cakrawala berpikir serta arah langkah orang yang mau membangun diri. Pertobatan sejati menampilkan buah kebaikan dalam kehidupan orang itu sendiri maupun dalam kehidupan bersama. Pertobatan yang sejati merupakan pembaharuan hidup secara mendasar, yakni pengakuan, penerimaan dan penghormatan atas sesama dan kerelaan untuk berbuat baik dengan penuh ketulusan.
Apa yang ditawarkan Yohanes Pembaptis tentang pertobatan adalah penentuan sikap. Seperti kapak yang siap menebang pohon yang tidak berbuah, demikian juga pertobatan siap menumbangkan sikap yang mandul dan tidak memberi buah kebaikan bagi hidup bersama. Pertobatan sejati mesti mampu melahirkan sikap pengakuan dan penerimaan akan adanya pluralitas sebagai sebuah faktisitas historis yang tak terbantahkan.
Pluralitas menunjukkan kemahakuasaan dan kemuliaan Allah. Pluralitas membuat kehidupan ini bergairah, penuh romantika dan dinamika. Pluralitas menunjukkan betapa manusia itu memiliki hati, budi, rasa serta hidup bersaudara untuk membuat hidup ini lebih baik juga bumi ini semakin menjadi tempat yang layak dan menyenangkan untuk dihuni. Itulah kekuatan dari pluralitas. Namun pluralitas membutuhkan toleransi.
Toleransi menuntut pengakuan akan adanya pluralitas. Yang satu tidak bisa menegasi yang lain. Bila hal itu terjadi, maka kehidupan ini akan khaos. Dunia ini tidak akan berubah menjadi sebuah dunia yang lebih baik serta nyaman dihuni, apabila penghuninya tidak pernah berkeinginan bertoleransi yang tulus untuk menciptakan suasana yang lebih membantu setiap orang untuk menghayati hidupnya. Adanya kehancuran, kematian serta ribuan ratapan yang disuarakan para pengungsi, jeritan kesakitan mereka yang teraniaya karena teror, menunjukkan dengan jelas bahwa toleransi masih jauh dari yang diharapkan.
Orang belum toleran apabila ia tidak keberatan dengan keyakinan agama lain hanya karena baginya semua agama itu sama saja. "Mari kita baik-baik saja satu sama lain karena sebebenarnya kita semua sama saja". Inilah contoh pikiran yang digerogoti oleh relativisme yang "mengosongkan" paham toleransi dari bobotnya yang sesungguhnya.
Seseorang itu baru sungguh toleran apabila ia tidak dapat mengikuti keyakinan sesamanya, tetapi ia tetap menerimanya dengan baik dan hormat. Kemampuan untuk menerima dan menghormati yang plural, yang tidak mungkin saya yakini, itulah toleransi sesungguhnya.
Artinya, toleransi yang bermutu adalah kesediaan untuk mengakui sepenuhnya harkat kemanusiaan, hak-hak asasi, kedudukan utuh sebagai warga negara, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat saudara-saudari yang berlainan keyakinan agamanya.
Umat kristiani hendaknya menyadari bahwa orang yang tidak dibaptis pun dapat selamat kalau ia dalam rahmat Tuhan, hidup menurut suara hatinya dan berbuat baik bagi sesama dan lingkungan hidupnya. Hal itu berimplikasi bahwa Roh Kudus juga berkarya di luar batas-batas Gereja yang kelihatan.
Pengalaman mistik sejati tidak mesti terbatas pada umat kristiani. Di luar umat kristiani pun kesucian dalam arti yang sesungguhnya dapat ada. Karena itu, mereka yang dibaptis dan hidupnya dituntun oleh Roh Kudus harus menunjukkan suatu kualitas kehidupan sosial yang lebih merangkul dan mendekatkan sesama kepada Allah sebagai ekspresi dari imannya.
Bukan iman, melainkan perbuatan sebagai buah ekspresi iman itulah yang penting. Sebab iman tanpa perbuatan itu sia sia. Bahkan mati. Mereka yang dibaptis dan hidupnya dituntun oleh Roh Kudus hendaknya menyadari perbedaannya dengan agama lain, yakni, bukan bahwa ia lebih baik atau lebih dekat pada Tuhan atau lebih penuh Roh Kudus, melainkan bahwa ia dalam perjalanan menuju Tuhan, melihat kebenaran Tuhan dalam pluralitas kehidupan ini.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pohon-natal-paris_20151123_204433.jpg)