Kamis, 23 April 2026

Masih Banyak Brimob di NTT yang Tinggal di Barak

Komandan Sub Den 3 Pelopor A Sumba Timur, Iptu Nehemia Nenohai yang ditemui pekan lalu

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
ilustrasi 

POS KUPANG.COM, KUPANG - Anggota Korps Brigade Mobil (Brimob) ternyata masih banyak yang tinggal di barak, kos-kosan dan rumah kontrakan. Persoalan tempat tinggal bagi pasukan pemukul di tubuh Polri ini harus menjadi perhatian pimpinan Polri dan Pemrov NTT. Hari Sabtu (14/11/2015), Brimob genap berusia 70 tahun.

Komandan Sub Den 3 Pelopor A Sumba Timur, Iptu Nehemia Nenohai yang ditemui pekan lalu menjelaskan, perumahan bagi anggota menjadi persoalan. Sub Den 3 Pelopor A Sumba Timur hanya memiliki satu barak berkapasitas 50 personel dan saat ini ditempat 23 personel bujang. Sedangkan mereka yang sudah berkeluarga masih ada yang tinggal di kos-kosan dan rumah kontrakan. Kendati demikian sudah banyak juga yang telah menempati rumah sendiri tetapi di luar kompleks.

Menurut Nenohai, keterlambatan pembangunan rumah untuk personel yang sudah berkeluarga di Sub den 3 Pelopor A Sumba Timur dipicu persoalan tanah yang masih dimiliki Departemen Kehutanan. Apalagi tanah itu belum bersertifikat dan belum dihibahkan kepada Brimob.

"Harus ada sertifikat baru bisa diajukan untuk pembangunan rumah. Tanah masih milik kehutanan. Saya sudah koordinasi dengan kehutanan dan bupati. Info yang saya dapat, pihak kehutanan sendiri sudah rapat dengan DPR, sudah disetujui untuk dihibah kepada Brimob. Sekarang menunggu SK menteri. Kalau sudah bersertifikat mungkin sudah dibangun," jelas Nenohai.

Sub Den 3 Pelopor A Sumba Timur merupakan unsur Satuan Brimob NTT yang hadir setelah Kupang. Sejak dibentuk tahun 2002, pasukan elit Polri ini kerap menangani kasus pencurian ternak yang marak di wilayah Sumba. Sub Den 3 Pelopor A mencakup wilayah Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah. Namun tahun 2013, Satuan Brimob Polda NTT melebarkan sayap dengan membentuk Kompi 4 berkedudukan di Sumba Barat Daya yang membawahi Sumba Barat dan Tengah.
Pria asal Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang sejak 2 Agustus 2013 menjabat Kasubden ini mengatakan, selain personil, fasilitas yang dimiliki juga masih terbatas yaitu satu mobil Dalmas dan tidak ada sepeda motor dinas.

"Mau tidak mau kendaraan pribadi digunakan untuk kelancaran tugas kedinasan. Kalau pemda bisa membantu, kami siap. Tapi kalau tidak ada bantuan, kadang jadi masalah jika menggeser personel ke tempat kejadian perkara," ujarnya.

Sebagai pasukan elit Polri, Sub Den 3 Pelopor A kerap menangani kasus-kasus pencurian yang sangat dominan terjadi di Sumba Timur. "Warga sering melaporkan pencurian ternak. Ada sejumlah pencuri beserta barang bukti kami tangkap. Setelah dibuatkan berita acara, kami serahkan ke Polres untuk diproses lebih lanjut," katanya.
Daerah yang sangat menonjol terjadi pencurian ternak, yaitu di wilayah timur seperti Melolo dan Rindy. Di Lewa seperti di Laihau, Letis, Laihiri dan Rinding. (aca/roy/aly)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved