El Tari Memorial Cup

Mari Belajar dari ETMC 2015

Tulisan ini sekedar mau menarik pelajaran dari penyelenggaraan ETMC tersebut.

Editor: Dion DB Putra

Oleh Patrix Wea
Penikmat Bola Kaki NTT, Tinggal di Waingapu

POS KUPANG.COM - Hajat dua tahunan kompetisi sepak bola terbesar dan paling berkelas di NTT, El Tari Memorial Cup Tahun 2015 di Maumere, pada akhirnya selesai. Kepada kesebelasan yang menjuarai kompetisi ini, patut kita ucapkan proficiat. Kepada kesebelasan yang belum beruntung, semoga kegagalan kali ini menjadi daya yang mendorong pembinaan sepak bola di daerah masing-masing.

Tulisan ini sekedar mau menarik pelajaran dari penyelenggaraan ETMC tersebut. Paling kurang, dengan itu, di tahun-tahun mendatang, penyelenggaraan ETMC akan semakin memberi kepuasan kepada tim-tim yang terlibat dan para pendukungnya.

Lebih dari itu, spirit awal mendiang Gubernur El Tari yang mencetuskan kompetisi ini, yaitu sebagai ajang untuk membina bibit-bibit lokal sepak bola, dan sebagai ajang solidaritas dan membina persatuan masyarakat NTT tetap terjaga. Bahwa dalam kompetisi apapun selalu ada kekurangan dan ketidakpuasan dari banyak pihak, tidak menjadi alasan untuk tidak memberikan kritik dan masukan kepada penyelenggara.

Paling tidak ada tiga pembelajaran yang bisa kita ambil dari momen ETMC 2015 ini, yaitu tentang panitia penyelenggara, tentang setiap kesebelasan yang bertanding, dan tentang para pendukungnya. Sebagian besar yang disampaikan dalam tulisan ini telah terungkap dalam media cetak Harian Pagi Pos Kupang dan dari media sosial Facebook. Anggaplah, tulisan ini merupakan rangkuman dari pendapat-pendapat tersebut.

Kepada Panitia Penyelenggara
Ada dua kekecewaan terhadap PSSI NTT, sebagai penyelenggara ETMC. Pertama, persiapan yang kurang memadai. Kedua, wasit yang terkesan berat sebelah.

Persiapan yang kurang memadai terlihat dari fasilitas pertandingan yang minim. Belum ada koordinasi yang baik dengan tuan rumah dalam mempersiapkan lapangan pertandingan yang betul-betul layak. Penonton berada terlalu dekat dengan pemain, hanya dibatasi dengan pagar bambu atau tali. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan pemain dalam menampilkan permainan yang betul-betul indah. Konsentrasi pemain akan terpecah antara sorak dan makian penonton, dengan instruksi pelatih dan kapten tim.

Keamanan pemain pun menjadi kurang terjamin, karena apabila terjadi insiden di lapangan, bisa saja penonton pun akan ambil bagian dan menjadikan para pemain sebagai sasaran amuk. Beruntung saja, penonton dan pendukung kita belum sefanatik pendukung klub-klub besar di pulau Jawa. Penonton pun harus berdiri dan berdesak-desakan di bawah terik matahari selama dua kali pertandingan.

Ke depan, PSSI NTT perlu membuat standardisasi fasilitas pertandingan, dan secara periodik mengevaluasi kesiapan tuan rumah. Sebelum menetapkan tuan rumah untuk turnamen berikutnya, harus ada komitmen dari calon tuan rumah untuk menyiapkan fasilitas pertandingan sesuai dengan standar tersebut. Dua tahun, saya kira,waktu yang cukup.

Selanjutnya, tentang wasit yang berat sebelah. Kesan ini dirasakan jelas oleh beberapa tim. Salah satunya oleh kesebelasan Persedaya Sumbat Barat Daya, yang sejak awal-awal babak penyisihan, sudah merasa dicurangi oleh wasit yang memimpin pertandingan. Demikian juga, ketika pertandingan antara PSN Ngada dengan Persamba Manggarai Barat.

Bahwa wasit adalah juga manusia, yang tidak terlepas dari unsur-unsur subyektif atau tekanan-tekanan psikologis, tidak bisa dipungkiri. Tetapi hendaknya hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak mengevaluasi dan menindak wasit yang telah dengan jelas-jelas berbuat curang.

Saya tertarik dengan celetuk salah satu pengguna media sosial, yang mengusulkan agar ke depan penyelenggara pertandingan ditenderkan saja kepada pihak ketiga, agar ajang ETMC ini menjadi nir politik dari pihak-pihak tertentu di PSSI NTT yang mempunyai kepentingan atau mau mengambil keuntungan tertentu. Mungkin perlu kita pikirkan secara serius.

Kepada Tim yang Bertanding
Tujuan penyelenggaraan ETMC ini adalah untuk mencari dan mengembangkan bibit-bibit lokal, yang saya yakin ada di setiap daerah di wilayah NTT ini. Nampaknya spirit awal tersebut sudah dilupakan oleh beberapa kesebelasan. Ambisi untuk merebut kemenangan secara instan, tanpa perlu mengeluarkan dana dan tenaga untuk mengembangkan bibit lokal, telah menodai keberadaan potensi-potensi lokal. Bila belum ada bibit lokal, maka lebih terhormat bila kesebelasan tersebut alpa dulu dari turnamen ETMC. Sayang, bila hanya kebanggaan dan kemenangan saja yang mau dikejar. Namun, harus saya katakan, maaf, bahwa kemenangan dan kebanggaan seperti itu bersifat semu.

Setiap tim kesebelasan yang bertanding paling tidak harus mempunyai visi tentang sepak bola daerahnya. Akan jadi apakah kesebelasan daerahnya ke depan? Atau, mau dikemanakan nanti potensi-potensi anak daerah? Apakah daerah kita, provinsi kita, mau terus jadi penonton di negeri sendiri? Sampai kapan?

Sebenarnya saya tidak anti pemain luar. Boleh saja orang luar NTT datang dan terlibat dalam kompetisi ini. Namun, kalau sampai pemain berasal dari luar provinsi, yang cuma datang sebentar lalu pergi, itu keterlaluan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved