Satu Abad Gereja Paroki Nita
"Gereja Ini Mempunyai Nilai Sejarah yang Agung"
Silewe naik di atas mimbar, memberi hormat kepada ribuan umat, kepada uskup Maumere, MGR Gerulfus Kherubim Pareira, SVD yang masih berada di singgasan
Laporan Wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu
POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Paulus Silewe didaulat panitia untuk mewakili umat menyampaikan wejangan usai perayaan misa 100 Tahun keberadaan Paroki Nita, Keuskupan Maumere, Selasa (29/9/2015).
Silewe naik di atas mimbar, memberi hormat kepada ribuan umat, kepada uskup Maumere, MGR Gerulfus Kherubim Pareira, SVD yang masih berada di singgasana altar, yang memimpin misa akbar hari itu.
Umat Paroki dari lima desa, Desa Tebuk, Desa Nita, Desa Nitakloang, Desa Ladogahar dan Desa Wuliwutik memadati halaman gereja yang dibangun pertama kali oleh Pater Fransiskus Martens, 18 Januari 1924 itu.
"Mengawali sambutan ini, saya atas nama umat mengajak kita menundukan kepala, berdoa memohon berkat Tuhan untuk para misionaris, para imam yang telah bekerja di paroki ini, biarawan biarawati asal paroki, tokoh umat dan umat yang telah mendahului kita menghadap Tuhan. Mereka telah berjasa untuk umat paroki Nita," demikian Silewe mengawali sambutannya.
Umat semuanya tenang, mendengarkan tutur Silewe mengenai sejarah perjalanan Paroki Nita, 100 Tahun silam hingga kini.
"Waktu berjalan tanpa terasa. Begitu cepat hari kemarin berlalu, sudah tiba hari ini dan seterusnya. Esok pun datang lagi, dan seterusnya akan berlalu. Seratus tahun, satu rentang waktu yang amat panjang. Dua bahkan tiga generasi, umat berama pemimpinnya telah mengisi lembaran sejarah paroki ini," ujar Silewe.
Silewe pun menceritakan awal pengembangan iman Paroki Nita, sejak dibabtisnya dua orang Nita tahun 1885. Pater Anton Jsseldijk mencatat sejak itu, semakin banyak orang Nita dibabtis menjadi pengikut Kristus, bahkan sebagian istana Raja Kerajaan Nita dirombak untuk pelayanan iman umat.
Sebelum menjadi Paroki, 29 September 1915, Nita merupakan salah satu stasi dari Paroki Koting. Setelah resmi menjadi paroki, luas wilayahanya kala itu termasuk Paroki Tilang, Paroki Bloro, Paroki Nita dan Wairpelit.
"Pater Thedorus Roupe Van-dervoord, SJ adalah pastor Paroki Nita yang pertama," kata Silewe.
Bangunan gereja resmi didirikan Sembilan tahun setelah Paroki ada, yakni 18 Januari 1924. Gereja ini mengalami pemugaran sebanyak tiga kali, (1981, 1983 dan 1985). Namun gempar dasyat 1992 merobohkan bangunan gereja, yang kemudian umat bersama dengan pastor Parokinya, Romo Yakobus Soba membangun kembali reruntuhan yang ada (196-1998).
Mempertingati 100 tahun, gereja ini atas kesepakatan Romo Domi, dewan pengurus paroki dan umat, gereja ini kembali dipugar untuk ketiga kalinya. Umat secara sukarela memberikan sumbangan per keluarga, Rp.250.000.Umat juga bahu membahu mendukung material berupa bambu untuk mendukung pengerjaan Gereja kebanggan umat ini.
"Gereja ini mempunyai nilai sejarah yang agung, mulia untuk pengembangan dan pendewaaan iman. Berbagai ritual telah dan akan tetap dilangsungkan di sini. Di sini kita dipermandikan, di sini kita menerima sakramen Krisma, kita tunduk dalam toba menerima sakramen pengakuan, penuh sopan menyambut Tubuh Darah Kristus, dan ikrar sehidup semati dalam Sakramen Pernikahan. Di sin pula minyak suci diambil untuk mengurapi kita sebelum ajal menjemput nyawa," kata tokoh umat Gereja Nita itu.
Dalam rentang waktu itu, paroki Nita telah mempersembahkan 14 imam, 20-an suster, sejumlah bruder dan frater untuk bekerja di ladang Tuhan.
Pada kesempatan itu pun, mewakili suara umat Paroki Nita, Silewe mengharapkan dukungan lima desa dalam parokinya untuk menyisihkan dana untuk dipakai membangun gedung serba guna Gereja Paroki Nita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gereja-paroki-nita_20150929_181930.jpg)