Belis Gading di Sikka
Piterson Makin Sulit Dapat Gading
DI Kabupaten Sikka, NTT, gading(bala), emas(bahar), perak, kuda (jarang) dan uang(hoang) merupakan mas kawin atau biasa disebut belis Du'a Ling Weling
POS-KUPANG.COM, MAUMERE --- DI Kabupaten Sikka, NTT, gading (bala), emas (bahar), perak, kuda (jarang) dan uang (hoang) merupakan mas kawin atau biasa disebut belis Du'a Ling Weling.
Belis adalah langkah awal yang harus dilalui seorang pria sebelum menikahi seorang wanita di Sikka. Unsur belis berupa gading batangan, kuda, emas, uang dan barang lainnya.
Salah satu belis adalah batangan gading (gading utuh, taring gajah) itu merupakan harga mati untuk mengimbangi harga diri dan nilai setiap wanita yang dipinang, dikawini dan yang akan menjadi anggota keluarga suku. Belis harus diserahkan pihak keluarga pengambil wanita -(h) ata me wai pu la'i - kepada keluarga pemberi (h) ata (h) ina- (h) ama yang telah melahirkan dan membesarkannya.
AM Keupung, tokoh masyarakat Kabupaten Sikka mengatakan, belis dalam bentuk batangan gading saat ini tidak mutlak harus dipenuhi keluarga pria. Sudah ada perubahan dan keringanan yang diberikan oleh keluarga wanita terhadap keluarga pria untuk mengganti belis gading.
Saat ini sebagai pengganti gading, orang bisa membawa emas, kuda dan uang. Dalam istilah adat Sikka disebut dengan agar. "Jika tidak ada gading, agar-nya itu apa? Agar- nya itu bisa kuda, bisa uang," kata AM Keupung, di kediamannya, Rabu (12/8/2015).
Sejumlah keluarga di Sikka sudah semakin maju, dan makin berpikir rasional. Bahkan, saat ini gading batangan telah diolah menjadi barang aksesoris seperti cincin, mata kalung, gelang, pipa rokok, tongkat, dan lainnya. Karenanya, gading batangan utuh hampir sulit ditemukan lagi di Sikka.
Bagi sebagian masyarakat Kabupaten Sikka, aksesoris yang terbuat dari gading merupakan bagian dari barang-barang adat yang bisa menjadi belis. Tak mudah membuat aksesoris berbagai bentuk atau model dari gading. Dibutuhkan keterampilan dan pengalaman. Dan di Maumere, Ibu kota Kabupaten Sikka, tidak banyak orang yang bisa menekuni profesi sebagai pengrajin gading.
Felixius Piterson Kabupung (60), warga Sikka itu sudah sejak tahun 1980-an menjadi pengrajin gading. Ditemui di bengkelnya di Jalan Patiranga, Kelurahan Beru, Jumat (14/8/2015), Piter mengaku saat ini gading batangan di Sikka semakin kurang.
Meski demikian, Piter yakin gading akan selalu dibutuhkan dan akan diperolehnya dari sejumlah masyarakat.
"Ada saja yang bawa jual gading batangan ke sini. Mereka butuh uang sehingga mereka jual gading. Lebih banyak masyarakat dari Flores Timur. Kalau masyarakat Sikka sudah sedikit yang punya gading batangan," kata Piter.
Di tangan Piter, sebatang gading bisa 'disulap' menjadi berbagai jenis dan model aksesoris yang eksotik dan elegan. Sebut saja gelang, cincin, anting, giwang, tusuk konde, tongkat, dan berbagai aksesoris lainnya bisa 'diciptakan' Piter.
Bahkan akhir-akhir ini Piter bisa memodifikasi aksesoris gadingnya itu dengan balutan emas dan batu akik. Namun piter tidak menerima pembuatan batu akik.
Piter selektif saat membeli gading. Piter punya aturan main bahwa dia tidak akan pernah membeli gading batangan yang baru atau muda. Karena itu diprediksi adalah gading yang baru diambil dari gajah, entah dari mana.
"Hewan gajah itu dilindungi dan saya menghargai hal itu. Karena itu, saya tidak pernah mau membeli gading baru. Yang saya beli adalah gading lama yang merupakan warisan," ujarnya.
Piter mengatakan, harga gading cukup mahal. Misalnya, gading batangan dengan berat sekitar 20 kilogram, harganya mencapai Rp 300 juta. Piter mengatakan, di Sikka ada gading batangan yang disimpan di rumah adat Watublapi-Sikka, panjangnya mencapai tiga meter.
"Gading di Watublapi itu hanya bisa dilihat orang lain setelah digelar upacara adat. Tapi orang yang mau melihat gading itu harus mengeluarkan uang paling kurang Rp 2 juta untuk membiayai upacara adat. Itu juga hanya diberi kesempatan melihat gading batangan sekitar dua atau tiga menit saja," kata Piter.
Menurut Keupung, beberapa tahun terakhir ini, gading batangan yang beredar di Sikka didatangkan dari luar, seperti dari Flotim. "Gading di Flotim itu lebih banyak daripada gading batangan yang ada di Sikka sekarang," kata Keupung.
Saat ini juga, anggapan bahwa gading itu merupakan gengsi, sudah tidak ada lagi. Nilai gading belis saat menikah itu lebih dilihat sebagai bentuk penghormatan kepada pihak perempuan. "Gading itu simbol penghargaan terhadap perempuan. Namun saat ini gading batangan sebagai belis sudah tidak mutlak lagi," ujarnya.
Bahkan ada kasus, ketika pihak lelaki membawakan batangan gading, malah ditolak olah keluarga perempuan. Mungkin karena gading yang dibawa itu telah dipotong menjadi aksesoris.
"Orang sudah tidak terlalu menuntut belis seperti belis itu harus ada dua batang gading, uang Rp100 juta dan lain sebagainya. Permintaan semacam itu hampir tidak dipraktekan lagi," kata Keupung.
STORY HIGHLIGHTS
* Hindari Poligami Pria
* Memiliki Nilai Sakral
* Gading Batangan 20 Kg Rp 300 Juta
feliks janggu/aris ninu)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/felixius-piterson-kabupung1_20150816_071345.jpg)