Jumat, 8 Mei 2026

Menjenguk Penjual Laru di Naimata

Sekolahkan Anak dari Jual Laru

Ada 14 titik di sepanjang ruas jalan ini yang warganya menjual laru putih. Mereka menjual dalam ukuran botol dan juga jerigen.

Tayang:
Penulis: maksi_marho | Editor: Sipri Seko
POS KUPANG/MAXI MARHO
Ny. Marlis Nggelan bersama laru putih yang dijualnya di Jalan Taebenu, Kelurahan Naimata, Kupang, Sabtu (20/6/2015). 

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Memasuki bulan Juni 2015, minuman lokal, laru putih mulai ramai dijual di Kota Kupang. Laru putih adalah minuman alam hasil sadapan (diiris) pohon lontar atau disebut pohon tuak. Minuman ini sudah dikenal masyarakat NTT terutama suku Timor, Rote dan Sabu sejak zaman dahulu.

Selain laru putih, ada juga tuak manis, minuman alam yang juga diperoleh dari sadapan pohon lontar. Ada wanita-wanita yang menjajakan laru atau tuak manis dengan berkeliling dari satu kompleks perumahan ke kompleks perumahan yang lain.

Di Kelurahan Naimata, laru putih bisa didapati di sepanjang Jalan Taebenu, ruas jalan yang menghubungkan wilayah Penfui-Naimata-Liliba hingga ke Oebufu. Ada sekitar 14 titik di sepanjang ruas jalan ini yang warganya menjual laru putih. Mereka menjual dalam ukuran botol dan juga jerigen.

Tiga warga diantaranya yang menjadi penjual laru putih adalah Ny. Marlis Nggelan, Ny. Adel Nggelan dan Yosep Giri. Mereka adalah warga RT 19/RW 06 Kelurahan Naimata. Menjual laru putih sudah menjadi pekerjaan mereka setiap tahun ketika tiba musim pohon lontar berbunga dan berbuah. Saat berbuah itu adalah waktu yang tepat untuk bisa disadap lalu diolah menjadi laru putih.

Menurut ketiga warga ini, laru putih yang mereka jual diperoleh dari orang yang menyadap dari pohon lontar yang ada disekitar wilayah Kelurahan Naimata. Mereka beli dengan jerigen ukuran 20 liter lalu menjual kembali secara eceran dengan seharga Rp 5 ribu per botol ukuran dua liter. Atau dijual dalam jerigen ukuran lima liter seharga Rp 15 ribu.

"Laru putih ini bukan kami yang sadap sendiri. Ada orang yang sadap terus kami beli. Jadi kami hanya menjual saja. Dalam sehari kadang-kadang satu jeregen ukuran 20 liter tidak habis terjual. Tapi kalau sedang ramai pembeli, dalam sehari bisa satu jeregen habis," kata Ny. Marlis Nggelan ketika ditemui saat sedang berjualan di Jalan Taebenu, Naimata, Sabtu (20/6/2015).

Menjual laru, tidak segampang yang dikira orang. Mereka harus memiliki kemampuan untuk menawarkan laru kepada orang yang datang. Pasalnya, jumlah penjual laru saat ini makin banyak sehingga tentu menambah persaingan sesama penjual. "Laru adalah mata pencaharian kami. Sumber pendapatan ekonomi keluarga kami. Anak-anak kami sekolah dengan biaya hasil jual laru. Ada yang sampai tamat kuliah dari hasil jual laru," kata Adel dan Marlis.

Karena itu, bagi mereka menjual laru adalah pekerjaan mulia. Apalagi laru merupakan jenis minuman yang merakyat sejak turun-temurun. "Kami menjual laru di Jalan Taebenu ini sejak pagi hingga jam 10 malam (pukul 22.00 Wita). Minum laru bisa membuat tubuh lebih gemuk dan sehat. Boleh datang ke Jalan Taebenu Naimata kalau ingin membeli laru," tambah Yosep Giri.

Daud Lau, penyadap nira yang ditemui mengatakan, laru putih itu diperolehnya dari menyadap lontar yang ada di wilayah itu. Hasil sadapannya ia jual kepada penjual yang berada di sepanjang Jalan Taebenu tersebut. Ia menjual dengan harga Rp 25 ribu per jeregen laru putih ukuran 20 liter. **

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved