Nikolaus Dhuka: Politisi yang Jadi Pengusaha Ikan Air Tawar
Itulah sosok, Nikolaus Dhuka, lelaki kelahiran Bajawa 68 tahun silam. Garis-garis penuaan di rautnya
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM - Penampilannya sederhana, bicara apa adanya, tetapi semangatnya jangan ditanya. Luar biasa.....
Itulah sosok, Nikolaus Dhuka, lelaki kelahiran Bajawa 68 tahun silam. Garis-garis penuaan di rautnya mulai tampak namun tak mengurangi semangatnya dan menghalangi langkahnya untuk terus berkarya bagi kemaslahatan orang banyak.
Nikolaus yang mengawali kariernya sebagai penjahit ini mengatakan, banyak jalan menuju sukses. Tinggal ada kemauan dan kerja keras.
"Jangan terlalu memikirkan yang sulit, harus berani mulai," kata pria yang selalu berpenampilan casual ini.
Dari penjahit, pria kelahiran 16 Agustus 1947 ini merambah dunia pemerintahan dengan menjadi lurah. Hampir 22 tahun ayah enam anak dipercayakan menduduki jabatan tersebut.
Sebelum masa jabatannya selesai, Nikolaus kemudian meminta pensiun dini dan mencoba keberuntungan di dunia politik hingga akhirnya dilantik menjadi Anggota DPRD Ngada tahun 2007 lalu melalui mekanisme pergantian antar waktu (PAW). Selama menjalani tugasnya, lelaki yang hanya menamatkan pendidikan di sekolah menengah tingkat pertama ini menemukan pengetahuan tentang budidaya ikan air tawar.
"Pada saat itu kami studi banding tentang pengelolaan keuangan daerah ke Jakarta. Dalam perjalanan teman-teman mengajak pergi makan ikan bakar di salah satu warung makan. Di warung itu saya melihat mereka menangkap ikan terus dibanting lalu mereka bakar dan hidangkan kepada kami. Saya tertarik dengan pemandangan itu dan langsung berkomunikasi dengan orang warung. Saya tanya ikan ini dari mana, sumber airnya dari mana, terus lokasi tambak ikannya seperti apa dan bagaimana cara mengerjakan tambak ikan tersebut. Dari penjelasan pemilik warung, saya mulai terinspirasi untuk membudidaya ikan air tawar," bebernya.
Nikolaus menuturkan, awalnya ia membuka tambak ikan air tawar di Kota Bajawa. Namun usahanya tersebut tidak bertahan lama akibat jarak tempat tinggal dan lokasi usahanya yang terlalu jauh yang menyebabkan terjadingan pencurian.
Nikolaus tidak patah arang. Pria yang berhasil mengantarkan anak-anaknya menamatkan pendidikan di perguruan tinggi ini, memilih pindah ke Mbay, ibukota Nagekeo.
Menurutnya, prospek pasar ikan air tawar ke depan cukup bagus. Dengan pola mina tani, Nikolas mengatakan, usaha sawah tetap tidak boleh dikhinati. Namun tidak ada salahnya jika usaha sawah disandingkan dengan usaha ikan air tawar. Hasilnya, pendapatan dari ikan air tawar jauh lebih besar jika dibandingkan dengan usaha budidaya padi.
Saat ini, ungkap Nikolaus, ada sekitar 200.000 ekor benih lele dan nila merah maupun hitam di kolamnya. Bagi masyarakat yang berminat membudi daya ikan air tawar, silahkan mampir ke tambaknya di KM2 A 1 Tengah. (adiana ahmad).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/nikolaus-dhuka_20150524_165819.jpg)