Jalan Negara di Halikelen Terancam Putus Kembali
Ruas Jalan negara yang merupakan jembatan yang longsor di Kilometer 14, Halikelen, Kecamatan Tasifeto Barat, Belu, saat ini terancam putus
POS KUPANG.COM, ATAMBUA--Ruas Jalan negara yang merupakan jembatan yang longsor di Kilometer 14, Halikelen, Kecamatan Tasifeto Barat, Belu, saat ini terancam putus kembali. Jalan yang baru dibangun pertengahan tahun 2014 lalu itu, sudah mulai retak-retak, dan lebih memprihatinkan jalur alternatif yang berada di sisi kiri jembatan (dari arah Atambua, Red) terancam longsor. Kondisi ini jika tidak ditangani segera maka jalur ini akan putus total dan kendaraan tidak bisa melintas.
Disaksikan Pos Kupang, Senin (5/1/2015), aspal di sekitar ruas jalan itu sudah mulai retak dan mengalami pergeseran tanah terutama yang berada di bekas jembatan. Terlihat penurunan permukaan aspal sekitar 15-20 centimeter, karena kondisi tanah labil akibat rembesan air hujan yang mengguyur Belu selama sepekan belakangan ini. Jalur ini memang selama dalam masa perawatan dipasang dua penghalang di bagian barat dan bagian timur jembatan, untuk menghalangi kendaraan yang bertonase besar melintas. Jalur ini hanya dilewati kendaraan bertonasa kecil dan kendaraan roda dua, sementara kendaraan besar diarahkan melalui jalur alternatif yang berada di sisi kiri jembatan kalau dari arah Atambua.
Namun, kondisi tanah yang labil, jalur inipun tetancam longsor, sehingga
kendaraan bertonase besar juga harus ekstra hati-hati jika melintas.
Salah satu warga Atambua, Frans Tanjung, mengakui kondisi jalan alternatif itu yang mulai terancam longsor. Dirinya yang melintas di jalur ini ketika hendak ke Malaka, melihat jalur ini jika tidak ditangani segera maka bisa putus total dan kendaraan besar tidak bisa lagi melintas.
"Memang ada jalur alternatif, tapi itu mungkin pemadatannya belum baik sehingga bisa terancam longsor. Kalau hujan besar dalam beberapa pekan kedepan terus guyur Belu, maka jalan alternatif itupun bisa longsor. Semoga dinas teknis bisa segera turun langsung survei sehingga ada segera ditangani," pinta Tanjung.
Beberapa pengendara kendaraan roda dua seperti, Alex Seran, Eman Timo, mengaku kalau ruas jalan raya di sekitar jembatan Halikelen itu diperkirakan mulai retak ketika musim hujan turun terus-menerus belakangan ini. Mereka memperkirakan jika tidak ditangani segera maka akan longsor kembali dan jembatan itu bakal putus total lagi.
Penjabat Bupati Belu, Drs. Wilhelmus Foni, mengatakan, jalur itu merupakan jalan nasional sehingga tugas Pemda Belu hanya bisa berkoordinasi dengan Pemprov NTT untuk mencarikan jalan keluar agar jembatn itu bisa ditangani secara permanen.
"Jalan dan jembatan itu merupakan jalur nasional. Bahu jembatan itu mengalami penurunan 20 cm dan tahun ini akan ditenderkan untuk dibuatkan jembatan permanen. Kita harap jalur ini menjadi normal sehingga bisa perlancar aktivitas lalu lintas," ujar Foni singkat.
Untuk diketahui, jalur jalan negara di Halikelen tersebut longsor akibat hujan yang terus menerus di Belu pada tahun 2014 lalu. Untuk menormalisasikan kembali, PT Waskita Karya, melakukan pekerjaan dengan membuat bronjong penahan agar jalur itu bisa digunakan kembali. (yon)