Renungan Ramadhan

Kuat Menjaga Amanah

Amanah adalah sifat memelihara yang menjadi tanggung jawabnya, baik berupa materi atau nonmateri, baik terang-terang atau secara sembunyi.

Editor: Benny Dasman

Oleh KH Cholil Nafis Ph D

KERUSAKAN sistem sosial dan politik karena pemangku kepentingan tidak dapat menjaga amanah. Akibatnya masyarakat memilih pemimpin berdasarkan bayaran bukan kelayakan, pemimpinnya korup yang mementingkan ambisi pribadi daripada kemaslahatan umum.

Pemimpin yang tidak amanah hanya berpikir untuk tujuan jangka pendek dan personal daripada kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat. Amanah adalah sifat memelihara yang menjadi tanggung jawabnya, baik berupa materi atau nonmateri, baik terang-terang atau secara sembunyi.

Islam memerintahkan menjaga amanah dalam segala situasi dan kondisi. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,..." (An-Nisa': 58).

Amanah berarti kemampuan memikul tanggung jawab. Seperti ketika Allah SWT menawarkan amanah untuk mengelola kehidupan dunia kepada langit, bumi, gunung-gunung,  tak satupun sanggup mengembannya, kecuali manusia. Ternyata, hanya manusia yang berani menyatakan kesanggupannya.

Amanah adalah satu di antara sifat terpuji yang harus dimiliki manusia yang beriman dan bertakwa. Yakni sifat manusia yang tidak berkeluh kesah bila mengalami kesulitan hidup, sebaliknya tidak arogan bila mendapatkan kesenangan.
Jadi manusia yang amanah adalah manusia yang memiliki integritas kepribadian yang stabil dan mantap, tidak mudah berubah-ubah meski godaan datang silih berganti. Bentuk ibadah yang paling melatih untuk menjaga amanah adalah puasa jika dilaksanakan secara baik dan ikhlas.

Puasa dapat menjaga amanah diri dari makanan dan munuman serta syahwat, menjaga panca indra dari perbuatan maksiat, dan menjaga hati serta pikiran dari  godaan duniawi. Semua itu dilaksanakan karena amanah yang diawasi langsung oleh Allah SWT.

Pada dasarnya saat orang berpuasa banyak kesempatan untuk berbuat 'korup' dan menyelewengkan puasanya secara sembunyi. Karena di dekatnya banyak makanan dan pasangan sahnya untuk membatalkan puasa secara sembunyi.

Akan tetapi karena untuk menjaga amanah puasa yang selalu dipantau oleh Allah SWT, ia tidak melakukan penyelewengan dan tidak membatalkan puasanya. Puasa dapat membiasakan seseorang untuk mengaktifkan control diri dari dalam bukan dari luar, sehingga dapat merevitalisasi hati nurani dan sinar fitrah.

Puasa dapat menyegarkan  sistem internal dalam diri manusia melalui pengendalian perut dan syahwat. Pengendalinya adalah fitrah dan hati nuraninya yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT. Karenanya, puasa adalah rahasia antara diri manusia dengan Tuhannya, sehingga terpatri sistem ketahanan diri untuk selalu menjaga amanah, melakukan muhasabah diri, sebelum ditegur oleh orang lain.

Hasilnya, manusia yang berpuasa dapat memelihara dari perbuatan yang tidak pantas bagi dirinya dan menjauhkan diri dari seseuatu yang menghinakan dirinya. Seperti menyikapi ajakan berperang dan caci maki saat berpuasa dengan sikap menahan diri karena berpuasa. 

Orang yang melaksanakan puasa secara ikhlas akan selalu menjaga amanah. Rasulullah saw bersabda, " Sesuangguhnya puasa adalah amanah, maka hendaklah kalian memeliharanya." (HR Ibnu Mas'ud).  Puasa dan amanah bagaikan dua sisi mata uang.  Puasa dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa. Sedangkan amanah merupakan satu indikasi yang paling nyata dari keimanan dan ketakwaan dan kehidupannya.  (Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PB NU/Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved