Cuaca Buruk di NTT
Badai Datang, Kami Hanya Bisa Pasrah
Cuaca mendung, usai hujan disertai angin menerpa Kota Kupang, Senin (1/2/2014)
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Cuaca mendung, usai hujan disertai angin menerpa Kota Kupang, Senin (1/2/2014). Tidak pernah dibayangkan, kejadian alam ini terjadi dengan begitu cepat. Ratusan warga Kota Kupang hanya bisa pasrah ketika harta bendanya diluluhlantakan hujan dan badai.
Yunus Faley, adalah salah satu warga Nunbaun Delha yang rumahnya diterbangkan angin. Rumah Yunus dibangun menggunakan batako yang belum diplester. Terlihat retakan-retakan pada bangunan yang berdiri tanpa atap tersebut.
Di bagian belakang rumah bapak Yunus Faley, terdapat sebuah teras, di samping kanan ada sebuah kamar dan gudang. Isi kamar terpaksa harus diungsikan ke tempat yang lebih aman. Kayu-kayu tak ada satupun yang melintang. Semuanya terlepas. Habis! Hanya bersisa kayu dan atap yang rusak.
"Waktu kejadian, saya, bapak, anak mantu dan cucu ada di rumah. Kami melihat langsung, angin menerbangkan atap rumah ini. Perasaan saya waktu itu sangat sedih. Dengan kondisi suami saya yang sedang terkena struk, rumah kami pun hancur," ujar istri Ny. Faley.
Ia mengaku, suaminya terkena struk sejak dua tahun lalu. "Dulu kerjanya sebagai tukang, tetapi kini tidak bisa lagi melakukan aktifitas seperti biasa. Saya, menggantikan Bapak. Berjualan kue seadanya. Hanya 30 potong kue yang saya jual. Penghasilan tidak menentu, terkadang Rp 10.000, kadang Rp 12.000," jelasnya.
Ibu dari empat anak ini hanya bisa berharap ada bantuan. Ia mengaku sudah tak bisa berbuat apa- apa selain berharap pada pemerintah.
Warga Namosain, Petrus Mole, juga hancur diterjang gelombang laut. Saleha, istri Petrus Mole yang ditemui menuturkan, angin kencang disertai gelombang besar terjadi pada Minggu (2/2/2014), sekitar pukul 22.00 Wita. Akibatnya, rumahnya hancur dan rata dengan tanah.
''Tidak ada yang tersisa hanya ada pakaian di badan. Perabot rumah, kulkas, mesin cuci, kasur, kursi, meja, buku-buku dan pakaian sekolah anak, pokoknya yang ada dalam rumah semua ditelan gelombang,'' ujar Saleha.
Saleha mengaku hanya bisa pasrah dengan musibah yang menimpa rumahnya tersebut. ''Saya dan suami sudah laporkan ke pihak Kelurahan Namosain. Belum ada yang datang membantu kami. Kalau dibiarkan seperti ini, kami mau tinggal dimana,'' ungkap Saleha.
Ahmad (32) warga Namosain lainnya, mengatakan, tanggul-tanggul penahan ombak di kawasan Pantai Namosain sudah hancur semua dihantam ombak. Ia mengaku, kalau tidak secepatnya diatasi maka dikhawatirkan hal yang sama akan menimpa rumah warga lainnya.
''Pemerintah harus cepat melakukan penangulangan jangan dibiarkan seperti ini. Takutnya rumah warga yang lain akan di hantam ombak juga karena tanggul penahan ombak suda hancur, '' ujar Ahmad.
Pantauan Pos Kupang di areal rumah-rumah di kawasan Pantai Namosain, ada tujuh rumah yang hancur dihantam ombak. Rumah tersebut, yakni milik Petrus Mole, Muhamad Maasin, Daniel Fatu, Majid Lasuku, Labai, Umar Lajilu dan Menas Lado. Terlihat juga tanggul penahan ombak yang rubuh sehingga air laut masuk dengan mudah ke rumah warga. (yy/jj)