Senin, 4 Mei 2026

Kasus Tiga Kerangka Manusia, Romo 'Bongkar' Isi Surat Mary Grace

Romo Frans Amanue, Pr memberikan kesaksian dalam sidang kasus penemuan tiga kerangka manusia di Lela yang

Tayang:
Editor: Alfred Dama

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Romo Frans Amanue, Pr memberikan kesaksian dalam sidang kasus penemuan tiga kerangka manusia di Lela yang  "menyeret" terdakwa Herman Jumat Massan (HJM). Romo Frans dalam kesaksian  itu 'membongkar' isi surat yang dikirim Mary Grace kepadanya.                                   

Romo Frans memberikan kesaksiannya sekitar dua jam, mulai jam 11.00-13.00 wita. Jalannya sidang yang  menghadirkan saksi Rm. Frans Amanue, Pr, berlangsung di ruang sidang utama Kantor Pengadilan Negeri (PN) Maumere,  Kamis (13/6/2013).

Sidang dipimpin hakim ketua, Bislin Sihombing, S.H, didampingi hakim anggota, Gustaf Kupa, S.H dan Miduk Sinaga, S.H. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU)  adalah Agung Raka, S.H. Terdakwa Hermat Jumat didampingi kuasa hukum Marianus Laka, S.H  dan Marianus Moa, S.H.

Sidang ini disaksikan banyak pengunjung, tertutama keluarga Mary Grace  dari Flores Timur.                                                       

Romo Frans dalam kesaksian awalnya  mengatakan, dirinya sebagai saksi mengetahui kasus tersebut dari pemberitaan di koran tentang penemuan kerangka manusia di Lela. Namun dirinya belum  tahu itu kerangka siapa.                      

Menurut Romo Frans, dirinya mengeenal Herman Jumat Massan sejak lama, yaitu  dulu sejak ia masih  sebagai  calon imam, kemudian menjadi imam. Sementara dirinya mengeenal Mary Grace, namun sudah tidak ingat persis kapan waktunya, sekitar   tahun 1992 pasca bencana gempa bumi. Saat itu Mary Grace mahasiswi di Ledalero dan ditugaskan ke Larantuka untuk mendata soal kerusakan bencana di Larantuka.                               
Romo Frans mengungkapkan, setelah itu dirinya pernah bertemu dengan Mary Grace di RS St. Elisabeth Lela. Kemudian, lanjut Romo Frans, saat dirinya berada di Adonara, pernah bertemu dengan Mary Grace dan Herman Jumat.

"Saat itu di Adonara saya menggunakan sepeda motor membonceng keponakan saya, lalu berpapasan jalan dengan Herman Jumat yang mengendarai sebuah sepeda motor membonceng Mary Grace. Kita lalu berhenti dan bercerita. Saat itu Mary Grace mengatakan dia sudah berhenti bekerja dari RS Lela. Lalu saya tawarkan kerja di Yayasan Bapa Miskin di Keuskupan Larantuka yang saya pimpin. Ketika itu Mary Grace katakan dia masih pikir-pikir. Kemudian Mary Grace mengatakan ia ingin bekerja di yayasan itu. Mulailah dia bekerja. Mary Grace bekerja dari Januari- Desember 2001. Mary Grace di kantor yayasan itu bertugas sebagai sekretaris," jelas Romo Frans.                                             

Menurut Romo Frans,  selama Mary Grace kerja di yayasan itu  pernah dirinya melihat Mery Grace ketemu dengan terdakwa yang datang di Larantuka.  Mary Grace juga  menerima telepon dari Herman Jumat namun tidak sering. Hati kecil saya, ungkap romo Frans, memang menaruh curiga soal adanya hubungan khusus.

"Selain itu selama Mary Grace bekerja di yayasan itu, saya dan Mary Grace pernah bertugas sebanyak empat kali ke Maumere. Di Maumere kita mennginap di tempat yang sama di TOR Lela. Saya tidur di gedung kayu di TOR itu. Sementara Mary Grace di gedung lain yang satu atap dengan Herman Jumat tapi tidak tahu di kamar yang mana tapi memang di satu gedung itu. Gedung ini tidak jauh dengan gedung yang saya tempati," jelas Romo Frans.                                

Romo Frans mengatakan,  Mary Grace bekerja di yayasan yang dipimpinnya itu hingga Desember 2001. Saat itu Mary Grace minta berhenti dengan alasan mau  menemani mamanya ke Kalimantan karena neneknya sakit.                          

Setelah itu, jelas Romo Frans, dirinya tidak ketemu Mary Grace lagi. Namun sekitar bulan Januari atau Februari 2002  pernah ada komunikasi lewat surat. Surat itu dikirim Mary Grace kepadanya melalui surat Romo Herman Jumat Massan.         

"Ingat saya  isi surat tersebut bunyinya begini 'surat ini saya titip pada Romo Herman Jumat. Ketika saya tulis ini saya lagi terkatung-katung di laut. Saya mau sampaikan ketika pergi saya lupa tesis  di lemari kerja. Tolong ambil dan amankan. Saya pulang nanti baru saya ambil. Tidak usah balas surat ini karena tidak lama lagi  saya pulang," beber Romo Frans, sambil mengatakan, skripsinya Mary Grace hingga saat ini dirinya masih simpan.                     

Setelah itu, tandas Romo Frans, dirinya tidak lagi berkomunikasi dengan Mary Grace. Kemudian selang berapa lama, kata Romo Frans, dirinya pernah menerima sebuah SMS tanpa nama yang menuliskan bahwa Mary Grace dibunuh Herman Jumat dan dikuburkan di TOR Lela. Ketika itu, ungkap Romo Frans, dirinya marah dan membalasnya kalau tahu demikian silakan lapor kepada polisi.                             

Romo Frans mengatakan, dirinya sebagai seorang pastor  tidak percaya akan hal itu.  Selanjutnya, ungkap Romo Frans, dirinya pernah bertemu Pater Peter Payong yang mencari tahu keberadaan dari keluarganya Mary Grace.                               

Kemudian, lanjut Romo Frans, dirinya mendapat informasi ada rencana penggalian oleh polisi di TOR Lela, namun informasi ini dalam hati kecil saya tidak percaya sebagai seorang pastor. Kemudian Pater Peter Payong menginformasikan lagi bahwa Pater Peter sudah bertemu dengan Bapak Uskup Maumere dan Bapak Uskup mengizinkan penggalian itu. Ternyata dalam kegiatan penggalian pada hari minggu berhasil ditemukan tiga kerangka manusia. Informasi ini, kata Romo Frans, dirinya terima dari Pater Peter sekitar jam 5 sore.

"Kesan saya selama Mary Grace kerja di yayasan, dia cerdas, profesional, dan baik dengan rekan kerjanya yang lain. Dia juga periang atau selalu gembira," ungkap Romo Frans.                       

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved