Kampanye Pilgub NTT
Tunas Sejahterakan Nelayan di NTT
KITA yakin bahwa masa depan masyarakat NTT bukan hanya di darat tetapi laut pun menjanjikan masa depan yang lebih baik.
POS-KUPANG.COM --- KITA yakin bahwa masa depan masyarakat NTT bukan hanya di darat tetapi laut pun menjanjikan masa depan yang lebih baik. Karena itu patut disyukuri bahwa NTT memiliki wilayah pesisir pantai dan laut yang sangat luas.
Ternyata bukan hanya Indonesia, dunia pun kini sedang menatap laut sebagai sumber kehidupan masa depan. Maka lahirlah ide EKONOMI BIRU (Blue Economy) yang kemudian diikuti dengan gerakan REVOLUSI BIRU (Blue Revolution).
Ekonomi Biru sejatinya mengarahkan kita untuk menggunakan sumber daya laut secara hati-hati (efisien) dan bertanggung jawab agar kita bisa menikmati keuntungan ekonomis yang memadai, antara lain melalui penciptaan kesempatan kerja dan pangan usaha produktif yang sebakin banyak, pendapatan yang meningkat, dengan demikian kemiskinan dapat diatasi.
Revolusi Biru menghendaki perubahan mendasar cara berpikir dan oriantasi kita dari daratan ke maritim dengan konsep pembangunan berkelanjutan untuk peningkatan produksi kelautan dan perikanan melalui Program Minapolitan yang intensif, efisien dan terintegrasi guna peningkatan pendapatan rakyat yang adil dan merata.
Ide Revolusi Biru sesuai dengan arah kebijakana nasional yakni peningkatan kesejahteraan rakyat (Prosperity), penguatan demokrasi (Democracy), dan penegakan keadilan (Justice).
Kami berdua, Ibrahim Agustinus Medah-Melkiades Laka Lena, sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sangat setuju dengan ide ekonomi biru dan revolusi biru tersebut, dan bertekad menjadikan ekonomi biru dan revolusi biru sebagai sarana untuk kesejahteraan nelayan dan kesejahteraan warga NTT umumnya. Singkatnya, kami berdua yakin bahwa INTISARI EKONOMI BIRU & REVOLUSI BIRU ADALAH NELAYAN YANG SEJAHTERA.
Kalau demikian, maka dalam penerapan ekonomi biru, NELAYAN harus menjadi titik sentral; subyek dan obyek sekaligus. Nelayan sebagai subyek, karena ia merupakan pelaku utama. Nelayan sebagai obyek, karena dia harus menikmati hasilnya.
Dengan penegasan ini, kiranya tidak ada lagi keraguan terhadap kami berdua bahwa kami berdua akan secara sungguh-sungguh mencurahkan pikiran, hati dan tenaga kami untuk membawa kesejahteraan bagi nelayan dan warga NTT umumnya.
Pemanfaatan wilayah pesisir dan lautan Provinsi NTT sangat potensil dan beragam, baik dari usaha perikanan (tangkap, budidaya dan pengolahan) juga pariwisata (bahari dan pantai), namun pemanfaatan sumber daya ini belum optimal.
Jenis usaha perikanan tangkap (seperti tongkol, kakap, nipih, selar, teri, dsbnya) dan perikanan budidaya (seperti rumput laut, kerapuh, mutiara dan teripang) dapat menjadi usaha minapolitan di Provinsi NTT.
Program Minapolitan berdasarkan pemanfaatan ruang ada dua jenis yakni minapolitan perikanan tangkap dan minapolitan perikanan budidaya. Kegiatan budidaya laut menjanjikan kontribusi besar terhadap peningkatan perekonomian daerah dan mampu meningkatkan pendapatan nelayan, karena sebagian besar komoditinya memiliki pangsa pasar ekspor dengan harga relatif tinggi.
Kegiatan budidaya laut lebih memberikan kepastian bagi nelayan dibandingkan kegiatan penangkapan yang sangat bergantung pada cuaca dan musim.
Betapapun pemanfaatan laut dan wilayah pesisir di NTT menjanjikan secara ekonomi, namun perlu pula disadari faktor pembatasnya.
Dengan menempatkan nelayan sebagai titik sentral ekonomi biru, maka nelayan itu sendiri akan menjadi faktor pembatasnya. Potret nelayan kita saat ini sungguh kurang mengembirakan. Pendidikan mereka relatif terbatas, demikian juga kondisi ekonominya serba pas-pasan bahkan kekurangan.
Kondisi seperti ini dapat melahirkan tindakan yang kurang baik terhadap kelestarian laut dan wilayah pesisir. Terdorong oleh kebutuhan ekonomi yang tinggi dan dengan pengetahuan yang terbatas, masih sering kita saksikan praktik-praktik yang mengancam keselamatan suberdaya laut dan pesisir.
Karena itu, kami berdua mencanangkan program peningkatan kesejahteraan nelayan melalui ekonomi biru dan gerakan revolusi biru melalui pendekatan yang bersifat makro dan mikro.
Melalui pendekatan makro, ditekankan pada rencana, strategi, regulasi, kelembagaan dan pembangunan infrastruktur dasar sebagai basil pengembangan aktivitas pemanfaatan sumberdaya laut dan wilayah pesisir. Beberapa program penting adalah