Kampanye Pilgub NTT
Bersama Tunas, Pangan Berlimpah
KELAPARAN adalah bencana bahkan tragedi kemanusiaan. Bagaimana mungkin hal itu terjadi di masyarakat NTT.
POS-KUPANG.COM --- KELAPARAN adalah bencana bahkan tragedi kemanusiaan. Bagaimana mungkin hal itu terjadi di masyarakat NTT. Paket Tunas, Ibrahim Agustinus Medah-Emanuel Melkiades Laka Lena, mengemban misi utama yang hendak diwujudkan adalah masyarakat NTT tidak akan dilanda kelaparan lagi.
Lapar menjadikan orang tidak sehat dan berimbas tidak produktif. Padahal sehat dan produktif adalah kunci untuk maju, berhasil dan sejahtera. Supaya tidak lapar, pangan harus tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu.
Masyarakat harus memiliki kemampuan (akses) untuk memanfaatkan sumber-sumber pangan. Bahan pangan harus terdistribusi secara merata dan masyarakat harus memiliki pendapatan yang cukup untuk membeli bahan pangan.
Inilah persoalan yang digumuli Paket Tunas (No. Urut 2). Itu pasalnya, Paket Tunas, yang adalah perpaduan dua generasi sekaligus ini, menawarkan empat program pokok berkaitan dengan ketersediaan pangan bagi masyarakat NTT.
Pertama, penuntasan persoalan produksi pangan.
Penuntasan pada masalah produksi pangan sekali lagi tidak dapat diselesaikan melalui cara peningkatan produksi pangan semata apalagi meningkatkan produksi pangan tertentu.
Kondisi fisik Provinsi NTT yang didominasi oleh iklim kering dengan ciri sistem pertanian yang beragam, produksi pertanian hendaknya mengacu pada peningkatan produksi pertanian yang cocok menurut kondisi spesifik lahan yang tersedia.
Oleh karenanya upaya peningkatan produksi pertanian perlu untuk mempertimbangkan produksi pertanian lokal yang telah menetap yang telah menjadi kebiasaan petani.
Yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana memperbaiki teknik budidaya yang ada untuk meningkatkan produksi sekaligus menjaga kondisi fisik lahan agar terhindar dari masalah erosi dan degradasi lahan.
Upaya lain yang penting adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dari produksi pangan lokal baik itu untuk meningkat kualitas gizi maupun peningkatan nilai ekonomi.
Sudah barang tentu upaya ini memerlukan peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman petani mengenai teknik pasca panen maupun pengolahan pangan. Pendekatan ini mempunyai tujuan ganda yakni selain untuk meningkatkan status gizi dari produksi pangan yang dihasilkan dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan petani.
Diversifikasi pangan lokal dan peningkatan mutu pangan melalui pengolahan pangan di tingkat rumah tangga petani menjadi kunci dalam pendekatan ini.
Kedua, penuntasan masalah akses pangan.
Penuntasan masalah akses pangan tidak bisa diserahkan semata pada masyarakat petani. Penuntasan masalah ini mensyaratkan kontribusi berbagai pihak yang relevan dan tentunya kontribusi pemerintah baik sebagai koordinator dan fasilitator mutlak dibutuhkan.
Perbaikan sarana transportasi, penciptaan pasar, gudang, serta pranata aturan yang berkaitan dengan aliran komoditi pangan perlu diatur untuk mencapai efisiensi yang optimum guna menekan atau mengatasi persoalan biaya tinggi untuk akses ke pangan.
Upaya lain yang mendapat perhatian Paket Tunas yang tampil dengan nomor urut 2 (dua) dalam pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Priode 2013-2018 ialah bagaimana meningkatkan kemampuan masyarakat NTT dalam mendapatkan akses ke pangan.
Dan hal ini yang menjadi kunci adalah upaya peningkatan daya beli masyarakat terhadap pangan melalui peningkatan pendapatannya. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat namun yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan hal ini membutuhkan upaya advokasi yang lebih bermakna melalui peningkatan peranan pemerintah maupun swasta.
Ketiga, penuntasan masalah penggunaan pangan.
Penuntasan masalah pada dimensi ini diarahkan pada upaya meningkatan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman individu, rumah tangga, masyarakat, para birokrat dan pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat tentang arti penting nilai gizi dari pangan untuk meningkatkan efisiensi asupan pangan bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia.
Sudah barang tentu permasalahan kesehatan individu masyarakat perlu untuk diperbaiki baik dengan cara meningkatakan pemahaman mengenai pemeliharaan kesehatan dan juga penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai.
Keempat, penuntasan pada masalah keberlanjutan pangan/sustainability.
Penuntasan masalah pada dimensi sustainability pangan diarahkan pada tataran penciptaan kebijakan yang mendukung. Salah satu upaya yang perlu untuk diperhatikan adalah memperkuat kembali peranan penyuluh pertanian dan penyuluh keluarga untuk memberdayakan petani atau individu keluarga secara menetap.