Kamis, 9 April 2026

Laporan Romualdus Pius

Ibu Rumah Tangga Beli Nasi di Warung

ENDE, Pos-Kupang.Com--Beberapa pekan terakhir minyak tanah di Kota Ende menghilang dari pasaran. Akibatnya, para ibu rumah tangga jadi kelabakan mencari minyak tanah ke semua penjuru kota ini. Untuk mengisi perut, ada ibu rumah tangga yang terpaksa harus membeli nasi di warung.

ENDE, Pos-Kupang.Com--Beberapa pekan terakhir minyak tanah di Kota Ende menghilang dari pasaran. Akibatnya, para ibu rumah tangga jadi kelabakan  mencari minyak tanah ke semua penjuru kota ini. Untuk mengisi perut, ada ibu rumah tangga yang terpaksa harus membeli nasi di warung.

Sejumlah pengecer yang biasa menjual minyak tanah kehabisan stok, dan hanya di tempat tertentu saja yang menyediakan minyak tanah. Itu pun langsung diserbu pembeli. Salah seorang ibu di Perumnas Ende, Ny. Rosa Ora,  ditemui Pos Kupang, Sabtu (9/4/2011), menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan minyak tanah biasanya dia mencari di sejumlah pengecer di Perumnas karena berdekatan dengan rumahnya. Namun dalam satu pekan terakhir, kata Ny. Rosa, dia kesulitan mendapatkan minyak tanah karena stok minyak tanah di Perumnas Kota Ende sudah habis.

Rosa menuturkan, karena stok minyak tanah di daerah Perumnas habis, maka dia menggunakan jasa ojek untuk keliling kota mencari minyak tanah, termasuk di Pasar Senggol, Jalan Durian ataupun di Jalan Gatot Subroto. Tetapi di tempat-tempat itu yang biasanya menyediakan minyak tanah juga habis.  "Dua hari saya cari minyak tanah di tempat itu tidak ada, beruntung pada hari ketiga saya dengar dari teman bahwa di daerah Marilonga ada minyak tanah dan saya ke sana. Beruntung bisa dapat," kata Ny. Rosa.

Dia  menuturkan, stok minyak tanah di Kota Ende saat ini mulai menghilang dari pasaran. Keadaan ini membuat para ibu jadi kesulitan ketika hendak memasak.

"Dua hari kami terpaksa beli makan/nasi di warung karena kami tidak bisa masak. Stok minyak tanah di rumah sudah habis," kata Ny. Rosa.

Nada keprihatinan juga diungkapkan Justinus Sani, anggota DPRD  Ende.  "Wartawan coba lacak saat ini minyak tanah di Kota Ende selalu berkurang setiap pekan. Para ibu rumah tangga mengeluh karena sudah cari keliling kota, namun stok minyak tanah habis," kata Justinus.

Justinus mengatakan, minyak tanah adalah kebutuhan vital. Karena itu Pertamina dan pemerintah harus mengatur proses pendistribusian minyak tanah secara teratur sehingga tidak merugikan masyarakat banyak.

"Di Pulau Jawa kebanyakan orang  menggunakan gas elpiji  untuk masak, namun kalau di Flores khususnya di Kota Ende masih pakai minyak tanah. Pemerintah dan Pertamina agar mengatur proses pendistribusian minyak tanah secara baik," kata Justinus.  

Akan Dikaji
Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ende, Josep Woge, yang dikonfirmasi Pos Kupang  terkait   kelangkaan minyak tanah di Kota Ende mengakui hal itu kerap terjadi. Pihaknya akan melakukan kajian dengan kondisi yang terjadi ini karena pasokan dari Pertamina dilakukan secara rutin setiap bulan 420 kiloliter kepada 4 agen yang ada di Kota Ende masing-masing PT Karya Sarmin Abdi sebanyak 105 kl, UD Anggrek 150 kl, Surya Pratama 105 kl,  dan UD Bintang 65 kl.

Dengan jumlah pasokan sebanyak 420 kl dari Pertamina selama satu bulan diperhitungkan akan memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Ende. "Kami akan kaji apa pasokan 420 kl masih kurang sehingga harus dilakukan penambahan kuota  atau ada penyebab lain seperti terjadinya kebocoran pada tingkat agen, pangkalan atau pengecer atau kemungkinan minyak tanah dibawa ke luar daerah sehingga kebutuhan dalam Kota Ende tidak bisa terpenuhi selama satu bulan," kata Yosep. (rom) 
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved