Laporan Kanis Lina Bana
Bendung Wae Mbaling Ambruk 200 Meter
BORONG, Pos-Kupang.Com -- Bantal bendung dan saluran irigasi Wae Mbaling, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, patah akibat banjir, Senin (4/4/2011).
BORONG, Pos-Kupang.Com -- Bantal bendung dan saluran irigasi Wae Mbaling, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, patah akibat banjir, Senin (4/4/2011).
Anggota DPRD Manggarai Timur, Ustman Jemain, S.Ag, menyampaikan hal itu melalui telepon seluler dari lokasi bencana, Sabtu (9/4/2011) siang.
Dia berharap instansi terkait segera melakukan penanganan darurat, diikuti penanganan permanen agar saluran irigasi itu bisa berfungsi karena irigasi tersebut sangat vital bagi petani sawah di wilayah itu.
Dia menjelaskan, hujan dengan intesitas tinggi selama sepekan terakhir di wilayah itu menyebabkan banjir bandang. Luapan banjir di Sungai Wae Mbaling mengakibatkan bantal bendung dan saluran irigasi ambruk.
Diharapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Matim segera melakukan normalisasi Sungai Wae Mbaling. Jika tidak segera ditanggulangi, maka dipastikan ratusan hektar sawah petani di daerah itu bakal gagal panen.
"Selama empat hari ini tidak ada pasokan air sehingga tanaman mulai kering. Hal ini berdampak pada gagal panen nanti," ujarnya.
Dia menjelaskan, solusi yang harus dilakukan pemerintah, yakni normalisasi sungai Wae Mbaling sepanjang 9 km. Jika sudah ada pengerukan material sungai, maka perbaikan bantal dan saluran irigasi bisa bertahan dan distribusi air ke sawah akan berjalan baik. "Jika tidak disikapi cepat, maka akan terjadi gagal panen dan 1.300 hektar sawah di wilayah itu tidak bisa dimanfaatkan," jelasnya.
Dia mengaku, khusus normalisasi Sungai Wae Mbaling, DPRD Matim pada tahun anggaran 2010 sudah mengalokasin dana Rp 350 juta, namun belum ada pelaksanaan. Sementara tahun anggaran 2011, DPRD Matim menambah anggaran Rp 200 juta untuk melanjutkan normalisasi sungai. "Jadi sudah ada anggaran Rp 550 juta untuk normalisasi sungai itu," jelasnya.
"Saya belum tahu apa kendalanya sehingga kegiatan normalisasi sungai itu belum berjalan. Padahal sudah ada anggaran. Minimal dana itu sebagai penyangga dan antisipasi pertama sebelum kegiatan normalisasi sungai," katanya.
Dia mengaku para petani sudah gotong royong untuk normalisasi sungai itu, namun hasilnya tidak memuaskan karena pekerjaan cuma mengandalkan tenaga manusia.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Timur, Frans Malas, belum berhasil dikonfirmasi. Pos Kupang menghubunginya melalui telepon seluler, namun tidak ada jawaban.
Sebelumnya, ketika kegiatan kerja bakti di Cepi Watu, Jumat (18/3/2011), Malas menjelaskan, BPBD setempat tidak memiliki sarana-prasarana memadai sehingga penanganan bencana tidak bisa berjalan cepat.
Menurutnya, setiap laporan bencana akan disikapi dan dikoordinasikan dengan instansi terkait untuk penanganannya. (lyn)