Laporan Petrus Piter
Surra Bunuh 14 Ekor Kerbau
WAIBAKUL, Pos-Kupang.Com---Umbu Rauta Praing, warga Kampung Waimamogu, Desa Wairasa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah mengaku 10 ekor kerbau miliknya tewas diserang surra, penyakit ternak yang mematikan. Empat ekor kerbau milik saudaranya juga tewas akibat terkena penyakit ternak ini. Kematian belasan ternak ini terjadi dalam interval bulan September 2010 sampai dengan Maret 2011.
WAIBAKUL, Pos-Kupang.Com---Umbu Rauta Praing, warga Kampung Waimamogu, Desa Wairasa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah mengaku 10 ekor kerbau miliknya tewas diserang surra, penyakit ternak yang mematikan. Empat ekor kerbau milik saudaranya juga tewas akibat terkena penyakit ternak ini. Kematian belasan ternak ini terjadi dalam interval bulan September 2010 sampai dengan Maret 2011.
Demikian disampaikan Umbu Rauta Praing ketika ditemui Pos Kupang di Waibakul, Rabu (23/3/2011), ketika tengah mengandangkan kerbau miliknya. Umbu Rauta mengaku kerbau miliknya saat ini yang tersisa tinggal 6 ekor. "Kerbau milik petani peternak di wilayah ini yang mati belum terhitung milik para tetangganya yang juga tak luput dari serangan penyakit surra yang mematikan itu.
Praing meminta pemerintah, dalam hal ini Dinas Peternakan Sumba Tengah, agar segera turun ke lapangan untuk mendata seluruh ternak milik masyarakat yang mati akibat penyakit itu tanpa harus menunggu laporan masyarakat. Apalagi dari informasi yang diterima dinas tidak memiliki persediaan obat. "Selama ini kebanyakan warga minta bantuan ke petugas Dinas Peternakan Sumba Barat yang sering memanfaatkan waktu luang sore hari untuk datang menyuntik hewan milik warga Sumba Tengah yang kena penyakit," jelas Praing.
Diakuinya, kondisi yang menimpa ternak milik warga di Desa Wairasa ini belum dilaporkan kepada pemerintah setempat, dalam hal ini Dinas Peternakan. Masyarakat memilih mengobati sendiri ternak yang sakit, namun upaya itu gagal memberikan hasil maksimal.
Dia meminta petugas dari Dinas Peternakan Sumba Tengah rajin turun ke lapangan untuk mendata seluruh ternak milik masyarakat sehingga memudahkan penanganannya. "Jangan tunggu ternak milik masyarakat mati dulu baru turun lapangan. Petugas peternakan jangan malas turun lapangan. Mereka harus proaktif turun ke lapangan bila mendengar keluhan masyarakat berkaitan sejumlah ternak miliknya terserang penyakit mematikan," kata Praing.
Dia menambahkan, "Petugas kesehatan hewan harus rajin turun ke lapangan untuk mengecek informasi penyakit yang menyerang ternak. Jangan menunggu laporan warga baru turun lapangan. Mentalitas petugas seperti itu akan mengurungkan niat dan semangat warga menjadikan Sumba Tengah sebagai gudang ternak. Bagaimana mau jadi gudang ternak jika ternak masyarakat tak mendapat perhatian serius pemerintah? Apalagi kejadian ini sudah berlangsung satu tahun lamanya."
Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Sumba Tengah, Ir. Umbu Tonga, belum berhasil dihubungi, Rabu (23/3/2011), karena sedang tidak berada di kantor. (pet)
Masyarakat Proaktif
SEMENTARA tokoh masyarakat Desa Wairasa, L Lodja, meminta masyarakat juga harus proaktif untuk menyampaikan kasus kematian ternak mereka.
"Masyarakat kita harap harus proaktif untuk melaporkan kepada petugas jika ternak kerbau, babi atau kambing milik mereka
terkena serangan penyakit. Bagaimana pihak dinas melalui mantri hewan atau petugas kesehatan mau tangani jika tidak ada laporan yang masuk? Petugas juga bukan malaikat yang tahu semua kejadian serangan penyakit yang menimpa ternak di tengah masyarakat," kata Lowo Lodja yang juga Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Umbu Kawolu, Sumba Tengah.
Lowo Lodja yang juga salah seorang calon petani teladan di Sumba Tengah yang sedang dipertimbangkan pemerintah setempat untuk menerima penghargaan sebagai petani teladan ini mengaku, di Desa Umbu Kawolu pihaknya selalu
berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat jika masyarakat di desanya terkena serangan penyakit. (pet)