Jumat, 15 Mei 2026

Oleh Romualdus Pius

Melihat Titik Tengah Pulau Flores

PENDUDUK Desa Tomberabu 2, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, berulang kali memperingatkan para sopir, kondektur dan pengguna jalan jurusan Ende - Detusoko - Maumere, demikian sebaliknya. Atau pengemudi kendaraan yang melewati titik tengah Pulau Flores itu, supaya hati-hati dan waspada bila bertemu gadis cantik di kawasan Watu Gamba. Jangan coba-coba usil cewek itu. Sebab, setiba di rumah, Anda akan jatuh sakit hingga kemudian meninggal dunia.

Tayang:

PENDUDUK Desa Tomberabu 2, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, berulang kali memperingatkan para sopir, kondektur dan  pengguna jalan jurusan Ende - Detusoko - Maumere, demikian  sebaliknya. Atau pengemudi kendaraan yang melewati titik tengah Pulau Flores itu, supaya hati-hati dan waspada bila bertemu gadis cantik di kawasan Watu Gamba. Jangan coba-coba usil cewek itu. Sebab,  setiba di rumah, Anda akan jatuh sakit hingga kemudian meninggal dunia.

Lalu apa itu Watu Gamba? Sebenarnya, Watu Gamba adalah satu bongkahan batu raksasa, dari dua batu kembar berukuran serupa. Satu batunya lagi diberi nama Rewa Nganggo. Kedua batu ini berada persis di titik tengah Pulau Flores. Dan, batu ini dulunya dijadikan sebagai prasasti oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menetapkan pembagian wilayah teritorial Pulau Flores.

Batu berukuran raksasa ini terletak di Kilometer 17 arah Timur Kota Ende, persis di tepi jalan raya, di Desa Tomberabu 2. Penduduk desa setempat meyakini salah satu batu yang diberi nama Watu Gamba, ditunggui oleh seorang gadis cantik. Dan, batu yang satunya juga diberi nama Rewa Nganggo  ditunggui seorang pria tampan dan ganteng.

Pria ganteng dan gadis cantik ini, kerap berkeliaran di ruas jalan itu pada saat tengah malam. "Jika berpapasan, jangan coba usil atau mengganggunya. Jika Anda usil, sampai rumah Anda akan jatuh sakit dan beberapa hari kemudian akan meninggal dunia," kata Leomardis Raki (75), seorang kakek yang menjabat sebagai tetua adat di Desa Tomberabu 2, ketika ditemui FloresStar, Selasa (4/5/2010) sore.

Bagi pengemudi kendaraan, baik bus, truk atau sepeda motor, bila melewati Watu Gamba, harus membunyikan klakson kendaraan. "Itu tandanya minta permisi untuk lewat wilayah kekuasaan Si Gadis Cantik yang misterius itu," katanya memperingatkan.

Gadis cantik dan pria tampan yang misterius itu, kata Raki, sering bersalin rupa menjadi sepasang kera, atau ular raksasa atau kalajengking besar. Binatang jadi-jadian ini sering menghadang di tengah jalan. "Bila berpapasan dengan hewan ini, jangan diusir. Biarkan saja. Bila dia sudah menyingkir ke tepi jalan, baru boleh melintas jalan itu," nasehat kakek Raki.      

Sang kakek juga menuturkan, sebenarnya kedua batu ini letaknya di atas bukit, di tepi jalan. Tetapi, ketika terjadi longsor, kedua batu ini bergeser ke tepi jalan. Dulunya, kisah sang kakek, pada batu raksasa itu dibuatkan prasasti bergambarkan wajah mantan Presiden Soeharto. "Sehari sebelum lengser dari kursi presiden, gambar wajahnya masih jelas. Tapi keesokan hari, gambar wajah mantan presiden itu sudah kabur dan hilang. Dan, sekarang tulisan itu juga sudah kabur," tuturnya. (*)

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved