Breaking News
Kamis, 23 April 2026

Aku Bangga Jadi Anak Andaluri

WAINGAPU, POS KUPANG.COM --- MELINTASI Zaman, Mengalirkan Kehidupan, Aku Bangga Jadi Anak Andaluri. Itulah judul buku yang diluncurkan dalam pesta emas 50 tahun, SMAK Andaluri, Senin (26/10/2009), di Aula sekolah itu. Buku ini juga diluncurkan para alumni sekolah untuk mengenang sejarah kelahiran dan perjalanan sekolah selama 50 tahun.

Hadir dalam acara itu sejumlah penulis buku seperti Pater Wilhelm Wagner, CSsR dan Agus Dapaloka ( mantan pengajar di sekolah), Silvy Anggraeni Mehang Kunda.

Buku setebal 208 halaman itu juga ditulis oleh Prof. Ir. Frans Umbu Data (Rektor Undana Kupang), dr. Umbu M.Marisi, MPH, HIA, AAK, Direktur Operasional PT Askes, Dr. rer.nat Kebamoto, Rm. Dr. Herman Punda Panda, Pr, Pater Dr. Mateus Mali, CS.sR, Nurlely Darwis, BcIP,S.H, M.Si (Staf Direktorat Jenderal Perlindungan HAM, Departemen Hukum dan HAM RI), Martha Heby (pegiat LSM), Pater Rano Nedy, dan lain-lain.

SMAK Andaluri merupakan sekolah menengah atas pertama yang didirikan di daratan Sumba oleh para misionaris Kongregasi Redemptoris dari Jerman Barat yang mengemban tugas gerejawi di Sumba pada 20 Oktober 1959. Sekolah ini berperan penting dalam sejarah pendidikan di Sumba Timur (Sumtim). Dan, hingga kini telah banyak melahirkan cendekiawan dan imam yang kini bertugas di Sumtim bahkan di seantero jagat. 

Dalam tulisannya, Pater Wilhelm, menulis sejarah lahirnya SMAK Andaluri. Tulisannya berjudul 'Berdiri di Masa Konfrontasi Zending dan Misi', Pater Wagner, menulis, pendirian SMA Andaluri jatuh pada zaman pra ekumene yang ditandai konfrontasi keras antara Gereja Kristen Sumba (GKS) dan Gereja Katolik di Sumba.

Zending dan Misi saling menantang, mencurigai, memusuhi dan menyaingi. 'Saling' yang tidak produktif itu, sangat nampak di bidang pendidikan antara Yayasan Persekolahan Masehi (Yapmas) dan Yayasan Persekolahan Nusa Cendana (Yapnusda). Itu sebabnya, pendirian SMAK Andaluri tidak berjalan mulus. Ada ketakutan dari masyarakat bahwa kehadiran sekolah katolik akan  mengkatolikan siswa-siswi yang beragama Protestan dan Merapu.

Berbagai surat keberatan dikirim ke dinas pengajaran di Kupang untuk mencegah pembukaan SMA Katolik Andaluri di Waingapu. Namun, berkat perjuangan yang gigih dari Pater Gerhard Legeland, CssR, yang saat itu bertugas sebagai Pastor Paroki Wara, akhirnya tanggal 4 September 1959, ijin pembukaan SMA Andaluri diterbitkan dari Kepala Tentara Sumba (Kodim, red) setelah mendapat persetujuan dari pimpinannya di Singaraja.

Izin itu bersyarat, yakni SMA Andaluri boleh buka kalau ada sekurang-kurangnya satu tenaga guru yang berwenang artinya yang berijazah BA atau BI. Sementara guru-guru yang disekolahkan oleh Pater Legeland di IKIP Yogyakarta, belum selesai.

Di tengah kegelisahan itu, tanggal 16 Desember 1959, Kris Djemari, guru BA yang disekolahkan ke Yogyakarta, tiba di Waingapu sebagai penyelamat dan langsung diangkat jadi kepala sekolah pertama dan kemudian diikuti guru lain dari Jawa. SMAK Andaluri merupakan perintis ekumene dimana hadir saat konfrontasi Zending dan Misi.

Melalui pendekatan ekumenis, SMA Andaluri yang sejak awal mendidik siswa siswi dari agama lain seperti Protestan dan Merapu akhirnya bisa diterima. Semangat Ekumenis itu kemudian dituangkan dalam bentuk kesepakatan Naskah Kerja Sama Antara GKS dan Gereja Katolik di Sumba di Bidang Persekolahan pada tahun 1973.
Agus Dapaloka, mengatakan, kelahiran SMAK Andaluri lebih kepada pembangkangan terhadap ragam kemiskinan, kebodohan dan sejumlah bentuk keterbelakangan yang ada di Sumba Timur saat itu.

Kepala SMAK Andaluri, Drs. Rofinus Ng. Kaka, menilai  SMAK Andaluri sebagai rahim yang telah melahirkan banyak pemikir di negeri ini. Andaluri, tidak saja melahirkan para pemikir tetapi juga membentuk pemikir dengan kepribadian yang baik karena siswa yang didik di sekolah itu tidak hanya mengasah otak tetapi pembentkan karakter. Tidak heran, dari sekolah itu juga lahir sekitar 25 imam yang tersebar di berbagai wilayah Sumba dan Indonesia.

Kedisiplinan sangat diterapkan di sekolah itu. Ir.  Norbert Ama Ngongu, MP, dalam tulisannya berjudul 'Bengkel Disiplin Bernama Andaluri', menuangkan seluruh pengalamannya selama mengenyam pendidikan di sekolah itu. Dengan budaya disiplin dari Andaluri itu, ia berhasil menjadi lulusan terbaik dan alumnus pertama dari Fakultas Pertanian Unram. Juga menjadi lulusan dengan predikat Cum laude di Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang .

Kepala Sekolah, Rofinus Kaka, meminta para alumni ikut memberikan perhatian terhadap masa depa sekolah tersebut yang kondisinya semakin memrihatinkan. Bahkan hingga kini, Yapnusda, yayasan yang mengelola sekolah tersebut belum memiliki komputer dan masih mengandalkan mesin ketik peninggalan para pendiri sekolah tersebut. Kondisi gedung juga mulai rusak dan keterbatasan tenaga pengajar. (adhiana ahmad)

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved