9 Tahun Memburu Noordin M Top

ANGKA sembilan, bukan selamanya menjadi simbol keberuntungan. Tepat selama sembilan tahun tinggal dan menjadi buronan nomor satu pemerintah Indonesia, Noordin M Top akhirnya tewas. Densus 88 Anti Teror berhasil menembak mati Noordin dalam pengerebekan di sebuah rumah kontrakan sederhana di dekat Tempat Pembuangan Sampah Akhir di kampung Kepohsari, Mojosongo, Solo, Kamis (17/9).

Pria kelahiran 11 Agutus 1968, di Kluang, Johor, Malaysia awalnya adalah seorang mahasiswa biasa di  University of Technology, Malaysia (UTM). Ia lulus dengan gelar sarjana muda sains pada tahun 1991. Noordin selanjutnya belajar di Pesantren Lukmanul Hakiem yang menjadi markas Jemaah Islamiyah pada tahun 1995.

Sejak saat itu, Noordin lantas berubah dari seorang akademisi menjadi santri. Ia bahkan juga diangkat menjadi dosen. Sebelum bergabung dengan Pesantren Lukmanul Hakiem, Noordin sudah memiliki ketertarikan dengan tokoh Al Qaeda. Namun di pesantren itulah, Noordin menjadi militan. Apalagi ia juga mengenal Hambali, Mukhlas, Amrozi, Ali Imron, Zulkarnaen, Faturrahman al-Ghozi, Dulmatin, Imam Samudra, dan Azhari Husni saat berlatih di Camp Hudaibiyah, Mindanao, Filipina .

Pemerintah negeri Jiran pun mulai gerah dengan aktifitas JI Malaysia Tahun 2001, pasca menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika diluluhlantakkan teroris. Terlebih lagi, Pesantren Lukmanul Hakiem dijadikan markas JI untuk wilayah Malaysia, Singapura, dan Brunei. Bahkan, JI disebut-sebut  masih satu jaringan dengan Al Qaeda.

Sikap represif  pemerintah terhadap JI di Malaysia, membuat petinggi dan kader JI meninggalkan Malaysia. Untuk menyelamatkan diri, Noordin yang waktu itu sudah menjadi salah seorang petinggi JI melarikan diri ke Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Hijrah Noordin ke Riau diperkirakan sekitar  tahun 2000. Istrinya yakni Siti Rahmah, memang berasal dari Riau. Siti Rahmah adalah adik Mohammad Rois, anggota Jamaah Islamiyah yang juga guru di Lukmanul Hakiem.

Bersama beberapa anggota keluarganya, Noordin sempat membuka bengkel mobil dan mengorganisir kembali para pengikutnya. Bersama anak buahnya, Noordin melakukan pengeboman sejumlah gereja di Sumatera. Namun, ketika itu nama Noordin belum dikenal sehingga tidak menjadi target.

Target Operasi
Saat bom Bali I meledak tahun 2002, nama Noordin sudah masuk menjadi dalam daftar pencarian orang (DPO), namun Noordin belumlah menjadi target operasi (TO) utama. Soalnya, peran Noordin waktu itu hanyalah mengantar Dr Azahari yang juga dosennya di UTM.  Ketika itu, ilmu Noordin masih jauh dari seniornya. Noordin awalnya ahli dalam melakukan doktrinasi.

Selepas penangkapan sejumlah tokoh utama JI yakni Imam Samudera, Amrozi, Ali Imron dan Mukhlas  peran Noordin menjadi vital dalam gerakan faksi sempalan JI garis keras. Ia mulai berduet dengan Dr Azahari yang memiliki ilmu tertinggi dalam merakit bom. Duet maut dosen-mahasiswa asal Malaysia ini  lantas menjadi momok menakutkan.

Keduanya nyaris tertangkap di sebuah pasar di Bogor pada 2002. Mereka lolos lantaran mengenakan rompi bom. Tak lama kemudian, polisi menggerebek sebuah rumah kontrakan di dekat kawasan kampus Universitas Islam Bandung (Unisba).Lagi-lagi duet maut tersebut berhasil lolos.

Untuk keamanan, Azahari-Noordin memisahkan diri. Namun mereka tetap menjalin komunikasi. Jejak Noordin pernah terlacak di Medan, sekitar awal 2003. Ketika itu, polisi juga menangkap Tomi Togar dan Sardona Siliwangi, kedua anggota JI yang terlibat perampokan toko emas untuk pembiayaan aksi terornya. Namun, lagi-lagi polisi gagal membekuk Noordin.

Duet Dr Azahari-Noordin membuahkan hasil Bom Marriott I pada 2003 dan Kedutaan Australia pada 2004. Setelah itu, mereka bergerak terus berpindah-pindah. Mulai dari kawasan Wonosobo, Boyolali, Serang, Cilacap, hingga kemudian masuk ke Jawa Timur.Pasca serangan Bom di Kedutaan Australia tahun 2004.

Dalam pelariannya, Noordin  pada tahun 2004 menikahi seorang perempuan di Malang, Jawa Timur. Namanya Munfiatun. Perempuan itu asli Pecangakan Kulon, Jepara. Dia sebetulnya punya ijazah sarjana pertanian. Tapi Munfiatun juga fasih sebagai pengajar bahasa Arab di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Subang, Jawa Barat.

Lama tak terlacak, polisi kemudian mendapati jejak Noordin di kawasan Surabaya. Noordin kembali bergabung dengan Dr Azahari pada 2005 Noordin. Tak sekedar, mereka juga menyiapkan serangan bom dan mengirim sejumlah bahan peledak ke Poso. Di Surabaya, polisi gagal menangkap Noordin-Azahari lantaran mereka terlambat beberapa hari.

Merasa tak aman lagi di Surabaya, duet tersebut kemudian pindah dan memisahkan diri. November 2005, saat polisi mengerebek di Villa di Malang, Jawa Timur, Noordin berhasil melarikan diri. Naas untuk Dr Azahari yang tewas tertembus timah panas.

Noordin nyaris tertangkap sesaat setelah Azahari ditembak. Ini setelah polisi mengejar dan nyaris menangkap Teddy alias Mubarok, tangan kanan sekaligus kurir lapis terakhirnya di Simpang Lima. Namun Teddy meloloskan diri setelah terjadi baku tembak.

Pada Maret 2006, jejak Noordin terlacak di Wonosobo, Jawa Tengah. Polisi kemudian menggerebek sebuah rumah, dan menewaskan Abdul Hadi dan Jabir, dua tangan kanan Noordin. Abdul Hadi adalah perencana Bom Kedutaan Australia sementara Jabir adalah ahli bom binaan langsung almarhum Dr. Azahari. Tapi, Noordin lagi-lagi lolos dengan mengambil jemuran perempuan yang selanjutnya dipakainya untuk jilbab guna menyaru sebagai perempuan.

Keberadaan Noordin hilang bagai ditelan bumi. Rupanya, ia menikahi gadis di Desa Pesuruan, Binangun, Cilacap, Jawa Tengah bernama Arina Rahma putri dari Badruddin Latif alias Baridin, pemilik Pondok Pesantren Al-Muaddib di Desa Pesuruhan yang kini menjadi buron. ,

Awal 2007, Noordin diperkirakan berada di Palembang. Jejaknya terendus polisi pada pertengahan 2008 ketika  polisi mengintai sebuah kelompok baru di Palembang yang rajin merakit bom. Akhirnya kelompok pimpinan Abdurrahman Thaib tersebut digerebek pada November 2008 lalu.

17 Juli 2009 adalah aksi terakhir dan paling suksesnya pengeboman yang dirancang Noordin M Top. Dua hotel yakni JW Marriott dan Ritz Carlton yang akan dijadikan tempat menginap pemain Manchester United yang akan bertanding melawan Indonesian All Star, berkeping-keping setelah bom yang hampir bersamaan diledakkan oleh bomber muda yakni Danni Dwi Permana (18) dan Nana Ichwan Maulana (27).

Polisi sempat kecele ketika mengerebek rumah Moh Djahri di Temanggung Jawa Tengah pada 8 Agustus 2009. Ratusan Densus dan aparat polisi yang dikerahkan, menghujani rumah Muh Djahri. Namun tewas adalah pengendali bom Marriott-Ritz Carlton, Ibrohim. Tepat dua bulan setelah bom Marriott-Ritz, Noordin akhirnya tewas bersama tiga anak buahnya yakni Urwah, Ario Sudarso dan Susilo alias Adib di Solo. (persda network/yuli s)
 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved