Berita Pendidikan

Ini Empat Alasan Banyak Les Justru Sebabkan Anak Tidak Berhasil

Jelang ujian akhir semester makin banyak tawaran ekskul, bimbingan belajar (bimbel), kursus atau les ini-itu berdatangan.

ilustrasi/kompas.com
Banyak Les Justru Sebabkan Anak Tidak Berhasil 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Jelang ujian akhir semester makin banyak tawaran ekstra kurikuler (ekskul), bimbingan belajar (bimbel), kursus atau les ini-itu berdatangan.

Setiap orangtua pasti akan memberikan yang terbaik bagi anak. Tak jarang, orangtua mendaftarkan berbagai les bimbel dengan harapan anak meraih prestasi yang diharapkan orangtua.

Semua ini dilakukan dengan harapan anak berprestasi dan memiliki kesempatan lebih besar untuk sukses di masa depan.

Dispatch Baru Saja Merilis Foto Eksklusif BTS Saat Dibalik Layar Boy With Luv ARMY Baper

Namun, penelitian dilakukan D. Sharon Wheeler dan dipublikasikan dalam Taylor and Francis Journal Sport, Education, and Society Terlebih bila berbagai kegiatan itu terlalu dipaksakan dan berlebihan tanpa mempertimbangkan keinginan dan minat anak.

1. Anak kelelahan
Penelitian dilakukan dengan cara mewawancarai 50 keluarga dari 12 SD di Inggris.

Sekitar 88 persen dari seluruh anak mengikuti kegiatan di luar jam sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, sementara 58 persennya mengikuti lebih dari satu bimbel yang dimulai pada malam hari.

Penelitian menemukan anak-anak usia SD yang mengikuti ekskul dan kegiatan tambahan di luar sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, bahkan hingga sampai larut malam, membuatnya mudah kelelahan dan tidak fokus sehingga jarang menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Hidayat Nur Wahid: Suara PKS Naik karena Gagasan Pembebasan Pajak Motor dan SIM Seumur Hidup

2. Tuntutan terlalu tinggi
Suniya Luthar, profesor psikologi di Columbia University berpendapat bahwa jumlah bimbel diikuti anak bukanlah satu-satunya sumber masalah.

Masalahnya mulai muncul ketika orangtua mengawasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan dan menuntut ekspektasi terlalu tinggi pada anak.

Tekanan berat dan ekspektasi tinggi agar selalu sukses dalam bidang akademis dan non-akademis berpotensi membahayakan perkembangan dan kebahagiaan anak.

Bila tidak hati-hati, hal ini juga menjauhkan anak dari interaksi anggota keluarga karena merasa diteror dan diperlakukan bagai robot.

Inilah 4 Alasan Kamu Wajib Menantikan Comeback TWICE Hari ini, Catat Waktunya!

3. Lampaui batas kemampuan anak
Dr. Luthar dan Polly Young-Eisendrath, psikolog klinis sekaligus penulis buku "The Self-Esteem Trap", berpendapat terlalu banyak mengharuskan anak melakukan berbagai kegiatan sepulang sekolah dapat memberikan masalah pada kehidupan anak.

Pasalnya, saat usia anak belum menginjak 11-12 tahun, anak sedang belajar mengembangkan diri.

Mengikuti kegiatan terlalu banyak hingga di luar batas kemampuan dapat berisiko mengganggu perkembangan alami anak.

Ibarat sebuah perangkat elektronik terlalu dibebankan dengan pekerjaan berat, lambat laun perangkat itu akan rusak.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved