Paskah 2019

Ribuan Umat Paroki Sang Penebus Waingapu Antusias Mengikuti Misa Kamis Putih

misa Kamis Putih ini untuk merayakan atau mengenangkan kembali dimana Yesus membasuhi kaki para muridnya.

Ribuan Umat Paroki Sang Penebus Waingapu Antusias Mengikuti Misa Kamis Putih
POS KUPANG/ROBERTUS ROPO
Misa Kamis Putih ini untuk merayakan atau mengenangkan kembali dimana Yesus membasuhi kaki para muridnya. 

Ribuan Umat Paroki Sang Penebus Waingapu Antusias Mengikuti Misa Kamis Putih

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU---Ribuan umat di paroki Sang Penebus Wara Wangapu di Keuskupan Weetabula sangat antusias mengikuti misa perayaan malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus sang juru selamat bersama para murid pada Kamis Putih, Kamis (18/4/2019) malam.

Selama misa berlangsung yang dipimpin oleh Pater Yusuf Freinademetz H. Uran, CSsR ini suasana nampak berlangsung tenang dan penuh hikmah. Tanpak juga petugas keamanan dari TNI dan Polri berjaga-jaga selama berlangsungnya misa itu.

Pater Yusuf Freinademetz H. Uran, CSsR, dalam memberikan khotbahnya mengatakan, misa Kamis Putih ini untuk merayakan atau mengenangkan kembali dimana Yesus membasuhi kaki para muridnya.

"Kata orang hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang di atas, kadang di tengah, dan kadang di bawa. Ketika kita berada pada posisi di atas, mungkin hanya ada kesombongan dan tidak ada kerendahan hati, ketika kita berada di bawa kita dicemoohkan dan ditertawakan orang, dan ketika kita berada di tengah orang akan memperhatikan kita,"Pater Freinademetz.

PSI Beri Contoh Siap Menang dan Siap Kalah

Tersingkir dari Liga Champions, Man City Dihadapkan 2 Laga Berat

Ini jadi Alasan West Ham Ganti Karpet Pinggir Lapangan Stadion

Persib Perkenalkan Dua Pemain Baru, Ini Rekrutan Pemain Anyarnya

Pater Freinademetz, untuk itu agar kita senantiasi dihargai, dihormati maka harus ada sikap kerendahan hati kita baik itu dimanapun posisi kita, apapun posisi kita, siapa pun kita kerendahan hati harus menjadi dasar dalam kehidupan kita.

Dikatakan Pater Freinademetz, perayaan ekaristi malam Kamis Putih itu, pengenalan akan perayaan ekaristi Yesus Kristus dan juga pembasuhan kaki para murid melambangkan kerendahan hati Yesus Kristus yang harus kita contohkan dalam kehidupan kita pada setiap hari.

"Yesus adalah seorang raja yang rela menanggalkan jubahnya yang mulia, rela turun dari taktanya yang mulia untuk melayani orang kecil. Maka untuk menemukan Tuhan tanggalkanlah kehebatanmu, tanggalkanlah harta yang ada pada mu, dan tanggalkanlah kekuasaan yang ada padamu maka yakinlah kamu akan menemukan Tuhan di dalam orang-orang yang kamu layani,"kata Pater Freinademetz.

Kata Pater Freinademetz, peristiwa atau tindakan pembasuhan kaki memang tidak merupakan tradisi dalam budaya kita, namun ini sebagai simbol pelayanan Tuhan Yesus yang sungguh sangat luar biasa dan tak tertandingkan.

 Dua Perempuan Saudi Ajukan Suaka, Ini Alasannya

Pater Freinademetz juga mengatakan, kita tidak membutuhkan pelayanan yang mirip dengan Yesus, tetapi yang dibutuhkan adalah semangat yang ditunjukan oleh Yesus kepada Kita untuk mau melayani sesama.

Tentu kita tidak mungkin ingin terus menjadi orang kecil, pesuruh, hamba, tetapi itu yang diharapkan Yesus agar kita berani meninggalkan kedudukan dan status kita untuk dapat menolong orang lain.

"Bukan berarti kita harus meninggalkan PNS kita, kepala dinas, sekertaris, atau lain sebagainya. Justru dalam posisimu itulah yang dituntut Tuhan Yesus untuk melayani sesama tidak hanya kamu harus menjadi orang kecil untuk melayani, tetapi dimana sifat kerendahan hati mu untuk melayani,"tandasnya.

Dan jauh lebih penting dari itu, kata Pater Freinademetz adalah dimana Yesus memberikan dirinya secara utuh yang dilambangkan dengan pemecahan Tubuh Kristus dan dibagi-bagikan kepada banyak orang.

"Dalam perayaan ekaristi kita belajar dari Yesus yang bersediah memberikan dirinya untuk dibagi-bagikan, kemudian diberikan kepada banyak orang dan Yesus mengatakan bahwa terimalah ini, inilah Tubuhku yang diberikan bagimu,"pungkas Pater Freinademetz. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved