Renungan Kristen Protestan, 27 Februari 2019: Miliki Iman yang Dinamis dan Inovatif Jangan Kamatek
Renungan Kristen Protestan, 27 Februari 2019: Miliki Iman yang Dinamis dan Inovatif Jangan Kamatek
Oleh: Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
POS-KUPANG.COM - PDT. Ludger Gaillard pada Kebaktian Internasional di Christophoruskirche tahun 2005 mengutip cerita dari Jochen Lay (Ein Kreuz gegen den Hass, Vorlesebuch Ökumene, S. 491f) tentang pengalamannya sewaktu berada di Papua-Neuguinea.
Jochen Lay bercerita ia sedang berada di Kota Papua-Neuguinea. Panas terik sedang membakar kota itu. Linu, demikian nama seorang lelaki tua sedang berada dalam rumahnya. Ia sedang mengasah pisau besarnya.
Di tangan kirinya dia sedang memegang kayu besar untuk dipahat, sedang tangan kanannya sedang memegang pisau yang tajam Jochen duduk memperhatikan Linu bekerja memahat kayu itu.
• KPU Pastikan WNA Pemilik E-KTP Tak Masuk DPT, Viryan Azis Bantah Ada Warga Asal China
Sepertinya ia sedang mau membuat tombak panjang pikir Jochen. Dengan pisau ditangannya ia mulai memotong kayu itu disekelilingnya.
Tak tahan Jochen bertanya kamu mau buat apa dengan kayu ini. Linu menjawab: Anak laki-laki saya mati dibunuh dengan kapak dan kemarin saya baru saja menguburkannya. Ia seorang anak yang baik, kata Linu dengan raut muka yang sedih.
• 172 Pasien DBD Dirawat di RSUD Ruteng, Ini Riwayatnya
Bagi tradisi Papua Neuginea kematian harus dibalas dengan kematian.
Linu bercerita panjang lebar bahwa mereka sebetulnya dari kampung dan mau mencari keberuntungan dan hidup yang lebih baik di kota.
Namun nasib sial menimpa mereka. Salah seorang anggota keluarga dekat mereka telah menabrak seorang nenek tua. Nenek itu berjalan begitu saja di jalan tanpa memperhatikan mobil-mobil yang berseliweran, sehingga ia tertabrak oleh anggota keluarga dari Linu itu.
Keluarga nenek itu tidak terima dan menuntuk pembalasan. Mereka justru membalaskan kematian nenek itu pada anak laki-lakinya. Anaknya itu dibunuh dengan sebuah kapak.
Keluarga dekat Linu menjadi marah dan menuntut untuk balas dendam lagi pada keluarga nenek itu.
Sambil terus berbicara ia kembali memotong dan mengukir kayu itu. Seluruh rasa duka dan dendam ada dalam kayu ini, kata Linu.
Jochen terus memperhatikan dengan sesama apa yang sebetulnya dibuat oleh Linu. Akhirnya nampak potongan kayu itu jadi menyerupai patung tubuh Kristus yang tergantung di kayu salib.
Linu menyelesaikan patung itu dan memandang pada Jochen dan mengulangi kata-katanya: "Dendam dan rasa duka saya tersimpang dalam kayu ini".
Anak laki-laki saya benar-benar anak yang baik. Namun kami adalah orang kristen dan sudah sepatutnya kami tidak membalas dendam dan membunuh orang lagi dan muncul korban baru lagi," kata Linu tegas.