Berita Ekonomi Bisnis

Ini Penyebabnya, Daging Ayam Selalu Jadi Penyumbang Inflasi NTT

Daging ayam ras selalu menjadi penyumbang inflasi di NTT. Produksi daging ayam belum bisa memenuhi kebutuhan

Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Hermina Pello
pos kupang
Ibu Ali, penjual daging ayam potong di pasar Kasih, Kota Kupang, Rabu (5/7/2017). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati

POS-KUPANG.COM | KUPANG-Daging ayam ras selalu menjadi komoditi pangan penyumbang inflasi tertinggi di NTT pada tengah tahun yakni libur Idul Fitri, liburan sekolah serta akhir tahun yakni Natal dan Tahun Baru.

Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Naek Tigor Sinaga mengatakan hal itu dalam rilis yang diterima Rabu (6/2/2019) pada Focus Group Discussion (FGD).

Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi NTT tentang Pengendalian Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras , Jumat (1/2/2016) mengatakan, selain menjadi pendorong inflasi, level harga daging ayam ras di NTT juga relatif lebih tinggi dibanding daerah lainnya.

"Bulan Desember 2018, daging ayam ras menyumbang 0,44 persen dari inflasi Desember yang sebesar 1,84 persen," katanya.

Pura-pura Jauh Padahal Ingin Deket, Pura-pura Cuek Padahal Perhatian, Enak

Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2018 Sebesar 5,13 Persen

FGD tersebut dihadiri oleh Bappeda atau Tim NTT Bangkit, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Samuel Rebo, Kepala Biro Kerjasama, Dr Lery Rupidara, Biro Perekonomian, Johny Waleng, Dinas Peternakan, Tay Renggi, Dinas Perindustrian, Windi dan Akademisi Undana, Frangky Telupere.

Dijelaskannya, para peserta FGD menyampaikan bahwa salah satu alasannya daging ayam menjadi penyumbang inflasi karena belum adanya industri pakan ternak, sehingga perlu mendatangkan dari daerah lain. Akibatnya harga daging ayam juga otomatis ikut terdorong naik.

Perwakilan Bappeda, Lucky menambahkan bahwa jumlah produksi daging ayam ras di NTT saat ini baru mencukupi 40 persen kebutuhan masyarakat. Bahkan untuk telur ayam, masih di bawah satu persen sehingga Pemerintah Provinsi sangat concern untuk melakukan pengembangan.

Kota Kupang Dapat Jatah 145 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, Ini Info Lengkapnya

Jangan  Bosan Terserang DBD, Kalau Perilaku  Warga Maumere Belum Berubah

Selain itu juga, lanjutnya, membuka peluang untuk ekspor ke negara tetangga Timor Leste mengingat kebutuhan daging ayam ras negara tetangga sekitar 80 persen didatangkan dari Brazil.

"Terkait kurangnya ketersediaan jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak, disebabkan belum adanya pull factor bagi petani yaitu industri pakan ternak sehingga dengan hadirnya industri pakan ternak maka produksi jagung akan meningkat dengan sendirinya," kata Lucky

Percepatan industri pakan ternak dan breeding farm merupakan salah satu program prioritas yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT Tahun 2019-2023.

Windi dari Dinas Perindustrian Provinsi NTT, mengatakan Pemerintah Provinsi sudah memiliki Roadmap pengembangan industri pakan ternak pada tahun 2016, namun belum dapat direalisasikan karena terkendala dana.

Dinas Perindustrian juga telah melakukan upaya diversifikasi pakan ternak dengan bahan-bahan seperti kakao dan kelapa untuk mengantisipasi kurangnya produksi jagung di Provinsi NTT.

Tay Renggi dari Dinas peternakan Provinsi NTT menyampaikan beberapa permasalahan terkait percepatan industri pakan ternak dan breeding farm di NTT.

Pihaknya telah melakukan pendekatan kepada perusahaan daging ayam ras dan pakan ternak namun terkendala kurangnya produksi komoditas jagung menyebabkan perusahaan enggan mendirikan industri tersebut di NTT.
Saat ini, katanya salah satu perusahaan mulai menjajaki untuk mendirikan breeding farm di Sumba.

Selain itu menanggapi solusi untuk mengurangi biaya pakan ternak dengan penggunaan ruang tol laut, kata Tay, dikarenakan spesifikasi kapal tol laut itu tidak memungkinkan untuk menggunakan kontainer sehingga biaya bongkar muat di pelabuhan menjadi lebih mahal. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved