Berita Kabupaten Lembata

Kades Tobotani Isi Uang di Tas Ransel

pencairan uang di Bank NTT Cabang Lewoleba, Kabupaten Lembata senilai lebih dari Rp 200 juta, AB membawa tas punggung (rangsel) dan mengisi semua uang

Kades Tobotani Isi Uang di Tas Ransel
Pos Kupang.com/Frans Krowin
BERI KETERANGAN -- Karyawan Bank NTT Cabang Lewoleba, Margareta Ladjar (kiri) saat memberikan keterangan kepada penyidik tipikor, Jumat (18/1/2019) 

POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
BERI KETERANGAN -- Karyawan Bank NTT Cabang Lewoleba, Margareta Ladjar (kiri) saat memberikan keterangan kepada penyidik tipikor, Jumat (18/1/2019)

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Oknum Kepala Desa (Kades) Tobotani berinisial AB yang diduga menyalahgunakan uang negara dalam proyek pembangunan posyandu di desanya tahun 2017 lalu, melakukan tindakan nekad.

Saat melakukan pencairan uang di Bank NTT Cabang Lewoleba, Kabupaten Lembata senilai lebih dari Rp 200 juta, AB membawa tas punggung (rangsel) dan mengisi semua uang itu pada tas yang dibawanya.

Hal ini diungkapkan Margaretha Ladjar, karyawan Bank NTT Cabang Lewoleba ketika diperiksa penyidik tipikor Polres Lembata, Jumat (18/1/2019). Margaretha memberikan keterangannya dalam kapasitas sebagai saksi kasus dugaan penyalahgunaan uang negara tersebut.

Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Yohanis Wila Mira tidak berada di tempat ketika hendak dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Minggu (20/1/2019). Diperoleh informasi, Iptu Wila Mira sedang ke Kupang karena buah hatinya mengalami kecelakaan lalulintas.

Informasi yang diperoleh Pos Kupang.Com di Mapolres Lembata, menyebutkan, Margaretha diperiksa sekitar dua jam lebih. Saksi tiba di ruang tipikor sekitar pukul 10.00 Wita dan menjalani pemeriksaan hingga pukul 12.00 Wita.

BREAKING NEWS : Di Lewoleba-Lembata Pencuri Babi Dihajar Babak Belur

Ternyata Perwali dan Perda Sampah Sudah Ada ! Ini Penjelasan Walikota Kupang

Margareta diperiksa terkait proses pencairan uang oleh bank tersebut kepada oknum Kepala Desa Tobotani berinisial AB. Saksi menyebutkan, uang yang bersumber dari dana desa itu direalisasikan setelah Bank NTT mendapat semacam rekomendasi dan Badan Keuangan Daerah (BKD) untuk pencairan uang tersebut.

"Saat pencairan uang itu, AB datang dengan membawa tas rangsel. Setelah dicairkan uang itu lantas disimpan dalam tas kemudian kades itu melangkah keluar dari bank," ujar sumber Pos Kupang.Com.

Saat ini, tipikor sedang menunggu laporan dari Inspektorat Kabupaten Lembata tentang perhitungan kerugian negara yang telah dilakukan atas proyek pembangunan posyandu tersebut. Penyidik tipikor telah meminta hal itu sejak akhir tahun 2018. Namun sampai saat ini inspektorat belum menyerahkannya kepada polisi.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Inspektorat Kabupaten Lembata, Frans Emi Langoday menyebutkan tidak akan menghambat proses hukum kasus dugaan penyimpangan itu. Ia berjanji akan memerintahkan stafnya untuk segera merampungkan pekerjaan menghitung kerugian negara dalam kasus tersebut. Namun sampai saat ini inspektorat belum menyerahkan laporan tersebut.

Bila perhitungan keuangan negara itu telah dikantongi penyidik, maka kasus dugaan korupsi dalam kasus tersebut akan segera ditingkatkan ke tahap penyidikan. Kasus pembangunan gedung posyandu itu diduga merugikan negara lebih dari Rp 100 juta. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved