Berita NTT Terkini

Jelang Akhir Tahun 2018, 104 TKI Sudah Dikembalikan ke NTT dalam Bentuk Jenazah

Hingga akhir tahun 2018, sebanyak 104 TKI sudak kembali ke NTT dalam bentuk jenazah. Mereka rata-rata meninggal selama bekerja di Malaysia.

Jelang Akhir Tahun 2018, 104 TKI Sudah Dikembalikan ke NTT dalam Bentuk Jenazah
Dok Pos-Kupang.com
Jenazah Samuel Bere didoakan oleh Pastor bersama keluarga di Bandara El Tari Kupang, Jumat (28/9/2018). 

POS-KUPANG.COM - Hingga akhir tahun 2018, sebanyak 104 tenaga kerja Indonesia (TKI) sudak kembali ke NTT dalam bentuk jenazah. Mereka rata-rata meninggal selama bekerja di Malaysia.

"Duka akhir tahun untuk NTT, jenazah TKI/PMI asal NTT yang sudah kembali ke NTT per 31 Desember 2018 berjumlah 104 jenazah dan masih ada 3 jenazah TKI/PMI asal NTT yang sedang menunggu bantuan kepulangan ke NTT."

"Jadi jumlah TKI/PMI asal NTT yang meninggal paling banyak di Negeri Jiran menjadi 107 jenazah per 31 Desember 2018," kata Gabriel Goa dari Padma Indonesia melalui jaringan WhatsApp, Senin (31/12/2018).

Dia mengajak semua jaringan kemanusiaan di NTT, NKRI dan dunia bergandengan tangan bekerja keras selamatkan masa depan SDM NKRI dan NTT agar tidak lagi menjadi korban perdagangan orang (human trafficking.

Sebelumnya, Senin (31/12/2018), jenazah PMI bernama Deliaty Hedohari alias Layly Rosman tiba di Kupang. Dia berasal dari Bakunase, Kota Kupang. Dia tiba di Bandara El Tari Kupang dengan pesawat Garuda Airways 438 pada pukul 12.50 Witga.

Mengingat semakin banyaknya PMI asal Indonesia dan khususnya NTT yang meninggal dan mayoritas non prosedural, maka Padma Indonesia mengajukan sejumlah solusi.

Pertama, Perwakilan RI dan Kemenlu RI harus bekerja ekstra kerja bekerja sama dengan konsul Tenaga Kerja Kemenaker, BNP2TKi, IOM, ILO, lembaga-lembaga agama, jejaring nasional dan internasional (CSO) beserta negara-negara yang ada PMI-nya untuk mendata PMI kita di luar negeri ata caca Jiwa  Warga NKRI agar solusinya komprehensif.

Kedua, negara harus serius mempersiapkan  CPMI, baik untuk AKAN (Angkatan Kera Antar Daerah) maupun AKAD (Angkatan Kerja Antardaerah) dengan melibatkan semua stakeholder tidak main sendiri-sendiri lagi  tapi bekerja sama untuk menyiapkan SDM Indonesia yang handal, memiliki kapasitas dan keahlian melalui Balai Latihan Kerja Profesional dan diurus melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) sebagaimana amanat UU PMI No. 18 Tahun 2017.

Ketiga, Negara harus serius berantas mafia human trafficking, termasuk backing-backingnya.

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved