Berita Puisi

Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini. Kepoin Yuk!

Dedaunan semakin rindu meniduri kolam-kolam, dan kau selalu saja asyik membaca sisa-sisa kenangan, Tinggalkan sepi di atas pedihmu.

Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini. Kepoin Yuk!
ils

Puisi-Puisi Veran Making
Di Luar Jendela

Dedaunan semakin rindu meniduri kolam-kolam
dan kau selalu saja asyik membaca sisa-sisa kenangan
Tinggalkan sepi di atas pedihmu
Sedangkan, tapak-tapak dari setiap lembaran buku-buku
Yang pernah ditandai dengan sebuah coretan janji
Telah terhapus di kala kita saling menusukkan
Kata-kata yang membual berupa tidak mengingat
Padahal ketika kau dan aku membohongi sebuah perasaan
Di situ kita menjadi manusia yang menyimpan luka
Lantaran di luar jendela tak lagi terasa angin berhembus
Karena sebuah tipuan adalah jalan menuju lukisan kehancuran
Tak pernah lagi terasa dalam hangatnya di luar sebuah jendela
Yang kembali mempertemukan.
(Cemara Sepi, Oktober 2017)

Menelusuri Jejak Malam

Mata yang Setia membaca malam
Adalah tentang menulis kembali
ingatan otak akan harumnya kopi,
terbuat dari tangan kasih, katamu awal percakapan
Yang menghangatkan setiap pertemuan kita
Sembari melemparkan senyuman
Menyapa dan bercanda gurau dalam sajak-sajak
Yang merasuki mimpi-mimpi kita
Seperti yang kau katakan
"Ketika kau jadi ratu semalam, biarkan aku
Sebagai seorang pengembara yang setia mencari
Di mana kau menyimpan resep untuk tidak melupakanmu"
(Cemara Sepi, Oktober 2017)

Jejak

Sejak kecil kau dan aku suka mengambar garis-garis
Membuat rumah-rumahan yang kesekian kali telah menjadi kenang
Berupa senyum kita, Jemari yang membekas rindu
Dan mengetuk setiap pintu hati
Untuk sekadar menuliskan apa yang kita ingat
Dari perjalanan yang sudah sekian lama

Mungkinkah kau pernah menyimpan sebuah peta
Untuk menyusuri setiap kepulangan?
Karena penungguan
Di batas samudra khayal, di sungai-sungai benak
Menjadikan kesepian, terlempar jauh dari lautan harapan
(Cemara Sepi, Agustus 2018)

Puisi Masan Kurman
Politik, Drama Berujung Karma

Politik itu menarik
Menarik untuk diikuti, bukan dicontohi
Drama akhir-akhir ini
Seolah menyita mata publik untuk jeli melihat
Drama pekan ini
Ibarat "sinetron yang masih bersambung"
Epilog, siapakah tokoh sebenarnya?
Alur drama disajikan begitu alot
Sampai pada suatu titik, publik bisa menerka
Inikah permainan para aktor atau aktris
Supaya jelas, keliatan secara kasat mata?
Sebenarnya, nilai moral yang perlu diambil
Mulutmu adalah Harimaumu.
(Penulis adalah mahasiswa Institut STIAMI Jakarta).

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved