Berita NTT

Gubernur NTT Perintahkan Investor Lain Kelola Tambak Garam. Inilah Tanggapan Pemegang HGU

PT Puncak Keemasan Garam Dunia, perusahaan yang mengakuisisi lahan HGU PT Panggung Guna Gandasemesta menanggapi serius pernyataan

Gubernur NTT Perintahkan Investor Lain Kelola Tambak Garam. Inilah Tanggapan Pemegang HGU
pos kupang.com edy hayong
Ilustrasi: ALat berat milik perusahan siaap melakukan pembukaan lahan tambak garam

Laporan Reporter Pos-Kupang.Com, Paul Burin

POS-KUPANG.COM, KUPANG - PT Puncak Keemasan Garam Dunia, perusahaan yang mengakuisisi lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Panggung Guna Gandasemesta di Teluk Kupang, mengatakan dapat memahami mengapa Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat  mendorong investor lain mengelola lahan garam di Teluk Kupang. Pada prinsipnya gubernur menginginkan agar ekonomi masyarakat di lokasi lahan garam itu dapat  tumbuh. Lahan garam di Teluk Kupang yang meliputi beberapa desa dengan luas 3.720 hektar itu menjadi HGU perusahaan ini sejak tahun 1992 atau kini telah berusia 26 tahun.

External Relations Manager PT Puncak Keemasan Garam, A. Harry Widyantoro mengatakan hal ini kepada Pos-Kupang.com di Kupang, Rabu (19/9/2018). Ia  mengatakan, pada prinsipnya manajemen perusahaan yang kini tengah menempuh  jalur hukum atas penyerobotan lahan oleh PT lain di lahan HGU itu dapat memahami jalan pikiran Gubernur NTT.  Meski demikian, Harry secara pribadi mengatakan, seyogyanya gubernur memanggil semua pihak termasuk manajemen ini untuk menanyakan duduk persoalannya.

Gubernur Viktor dalam beberapa hari terakhir meminta investor dari mana saja mengelola lahan garam di NTT  meski lahan itu dalam sengketa. "Silakan masuk dan kelola agar lahan dapat memberi dampak ekonomi kepada masyarakat dan daerah. Saya sebagai gubernur sudah pasang badan. Jika nanti putusan pengadilan menetapkan siapa yang menang dan kalah baru kita duduk lagi. Sekarang ini olah lahan-lahan itu," katanya ketika melakukan panen raya garam di Desa Bipolo, Kabupaten Kupang, Senin (10/9/2018). (*)

Penulis: Paul Burin
Editor: Ferry Ndoen
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help