Berita Kota Kupang

Polda NTT Ungkap Kasus Perdagangan Orang, Begini Modusnya

Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT kembali mengungkap kasus dugaan perdagangan orang yang melibatkan korban Serli Aoriana Amalo (18)

Polda NTT Ungkap Kasus Perdagangan Orang, Begini Modusnya
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT, Kompol Rudy JJ Ledo Si dalam konferensi Pers yang dilaksanakan di ruang Ditreskrimum Polda NTT Senin (3/9/2018) siang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT kembali mengungkap kasus dugaan perdagangan orang yang melibatkan korban Serli Aoriana Amalo (18) asal Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Medan.

Serli dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di Medan setelah direkrut oleh VKB alias N alias RM pada 19 Januari 2018.

Namun setelah bekerja selama lebih dari dua bulan, Serli kemudian diupayakan untuk kembali oleh ibunya karena sulit dihubungi.

Baca: Ketua KPU Provinsi NTT Lakukan Supervisi Penghitungan Suara Ulang Pilbup TTS

Hal ini diungkapkan Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT, Kompol Rudy JJ Ledo Si dalam konferensi Pers yang dilaksanakan di ruang Ditreskrimum Polda NTT, Senin (3/9/2018) siang.

Rudy menjelaskan kronologis kejadian berawal dari korban Serli yang tertarik pada status lowongn kerja yang diposting oleh akun Rara Malayroz ke blog "Lowongan kerja NTT".

Serli yang tertarik terhadap iming-iming pekerjaan tersebut lalu menghubungi tersangka VKB alias N alias RM, kemudian keesokan harinya Serli diserahkan ke LO Alias E dan kemudian dikirim ke Yayasan Karya Kusuma di Jakarta dengan menggunakan pesawat Batik Air pada tanggal 21 Januari 2018 pukul 06.00 wita.

Serli diantar oleh tersangka LO alias E dan suaminya dan tiba di Yayasan Karya Kusuma Jakarta pada tanggal 21 Januari 2018 pukul 11.00 Wita.

Selanjutnya korban Serli diinapkan di Yayasan Karya Kusuma selama tiga hari dan setelahnya, PRT yang merupakan pimpinan Yayasan Karya Kusuma mengirim korban dan bekerja sebagai PRT di Medan pada majikan atas nama MERI.

"Keberangkatan korban tanpa sepengetahuan orang tua korban dan pemerintah setempat, sehingga ibu korban ketika tidak tidak dapat menghubungi korban pada buan Maret 2018 mulai merasa gelisah, sehingga mengupayakan agar anaknya yang saat itu masih berusia 17 tahun iitu dipulangkan ke Kupang," jelasnya.

Rudy menjelaskan, setelah itu, ibu korban atas nama Maria Amalo Fallo lalu mendatangi rumah Diana Oteph yang juga bekerja bersama korban. Dari ibundanya Diana Oteph diperoleh informasi bahwa bahwa Serli dan Diana sedang bekerja di Medan sehingga ibu korban meminta nomor telepon dan alamat tersangka LO Alias E lalu menghubungi tersangka LO Alias E dan meminta agar korban segera dipulangkan karena korban tidak dijinkan untuk bekerja di luar NTT.

Setelah itu, LO Alias E menelpon tersangka PRT untuk memberitahukan hal tersebut. Selanjutnya tersangka PRT menghubungi majikan korban atas nama Meri dan mengatakan bahwa orangtua korban meminta agar korban harus segera dipulangkan kembali ke daerah asal sehingga majikan membeli tiket untuk memulangkan korban ke Yayasan Karya Kusuma Jakarta.

"Keesokar harinya korban dipulangkan kembali ke Kupang dengan dijemput oleh tersangka LO Alias E namun pada saat dipulangkan korban tidak membawa gajinya dengan alasan gaji korban telah dipotong untuk biaya tiket pulang," lanjut Rudy.

Tersangka VKB alias N alias RM dan LO Alias E serta PRT disangkakan melanggar pasal 2 ayat 1, Pasal 6 Undang-Undang nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. (*)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved