Berita Sumba Timur

Tunggu Hanggongu Tunjukkan Aksi Seni Pembuatan Tenun Ikat Pahikung Sumba Timur di Borobudur

Tunggu Hanggongu warga asal Kampung Umabara, Desa Waru Hadang kabupaten Sumba Timur akan menampilkan demo seni dalam pembuatan tenun pahikung

Tunggu Hanggongu Tunjukkan Aksi Seni Pembuatan Tenun Ikat Pahikung Sumba Timur di Borobudur
ISTIMEWA
Tunggu Hanggongu sedang foto bersama kain tenun ikat Pahikung buatanya. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Tunggu Hanggongu warga asal Kampung Umabara, Desa Waru Hadang kabupaten Sumba Timur akan menampilkan demo seni dalam pembuatan tenun pahikung atau Pahudu yang merupakan kain tenun ikat tradisional masyarakat Sumba Timur dalam event festival Sepayung Indonesia.

Event tersebut diselenggarakan oleh Mataya Art dan Herigate yang akan berlangsung di Candi Borobudur Yokyakarta, dari tanggal 6 sampai 9 September 2018 mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Timur melalui Kasie Analisis Data Pasar Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Timur Yudi Umbu T.T.Rawambaku, SE kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (18/8/2018) pagi.

Baca: Warga Kota Tambolaka Keluhkan Air Bersih

Yudi mengatakan, Tunggu Hanggongu sangat hebat dalam menunjukan seni membuat tenun ikat Pahikung tersebut, dan sudah sangat siap untuk tampil di event yang masuk dalam Top Ten National Events-Calender of Event Tahun 2018 oleh Kementerian Pariwisata RI tersebut.

Yudi juga menjelaskan, Proses pembuatan ini melalui beberapa tahapan, seperti Persiapan benang, pameningu (mengatur lungsin), Pababatungu (tenun awal), Hikungu (songket), dan menenun.

Benang yang digunakan adalah benang yang dipintal dari kapas atau benang buatan pabrik (benang dari toko). Benang lunfsin diatur pada alat yang disebut Wanggi atau pembidangan, dimana panjang dan lebar sesuai dengan yang dikehendaki.

Setelah tenunan direntangkan pada Wanggi yang ditahan dengan tali, lidi disiapkan untuk membentuk gambar yang dikehendaki.
Proses menenun sarung songket, sambil menenun, lidi penentu corak dikeluarkan dari bawah ke atas, artinya satu lidi dan dari kayu Palambang Pahudu dikeluarkan secara beraturan.

Setelah semua kayu Palambang Pahudu dan Lidi penentu corak habis dikeluarkan, berarti selesailah proses membuat corak pada bagian pertama. Selanjutnya mulai lagi menyusun lidi penentu corak dan memasang kayu palambang pahudu, demikian seterusnya.

Kata dia, kemahiran memintal benang dan menenun kain, telah dikenal oleh leluhur orang Sumba sejak dari India. Bahan pembuatan benang, zat pewarna, alat tenun dan peralatannya diperoleh dari flora dan fauna yang tumbuh di alam Sumba, cara medium pantang dalam memproses dan menenun dilakukan untuk memberikan daya gaib atau magis terhadap corak dan kain. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved