Berita Regional

Sejarawan Solo Sebut Cucu Jokowi Mengingatkannya pada Seniman Jawa

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah berbahagia karena baru saja dikaruniai cucu perempuan dari putrinya, Kahiyang Ayu.

Sejarawan Solo Sebut Cucu Jokowi Mengingatkannya pada Seniman Jawa
KOMPAS.com/Labib Zamani
Para abang becak konvoi sambil membawa poster cucu kedua Presiden Jokowi di jalur lambat (citywalk) Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di kawasan Solo Grand Mall Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/8/2018). 

POS-KUPANG.COM | SOLO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah berbahagia karena baru saja dikaruniai cucu perempuan dari putrinya, Kahiyang Ayu.

Putri pertama pasangan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution tersebut diberi nama Sedah Mirah Nasution, perpaduan antara Jawa dan Batak.

Menurut Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Wahadi Sutirto, nama cucu kedua Presiden Jokowi, mengingatkannya terhadap sejarah pujangga sastra dan seniman yang unggul dari Keraton Kasunanan Surakarta, Nyai Adipati Sedhah Mirah. Nyai Adipati Sedhah Mirah merupakan ampil dalem (selir) pertama Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana IX.

Baca: Politisi Gerindra Sebut Anies Baswedan Masih Masuk Daftar Cawapres Prabowo

Meski hanya sebagai selir Sri Susuhunan Pakubuwana IX, ungkap Tundjung, Nyai Adipati Sedhah Mirah memiliki keunggulan dan kelebihan dibanding istri raja lainnya.

Selain menguasai Tari Bedhaya Ketawang (tari kebesaran penobatan kenaikan tahta raja), Nyai Adipati Sedhah Mirah juga seorang pujangga sastra yang menakjubkan.

Nyai Adipati Sedhah Mirah dikenal sebagai pemegang serat babon (buku induk) karya dalem Susuhunan seperti serat Wulangreh karya dalem Pakubuwana IV, dan serat Centhini yang ditulis pada era Pakubuwana V.

"Serat Centhini itu karya sastra tradisi Jawa yang dianggap sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa," kata Tundjung ditemui Kompas.com di UNS Solo, Jawa Tengah, Senin (6/8/2018).

"Nyai Adipati Sedhah Mirah adalah satu-satunya selir susuhunan yang mendapatkan gelar kebangsawanan atau adipati," tambahnya.

Nyai Adipati Sedhah Mirah konon selalu menjadi pemimpin upacara adang (menanak nasi) menggunakan dandang pusaka Kyai Dhudha dalam Garebeg Mulud (Maulid Nabi) pada tahun Dal.

Nyai Adipati Sedhah Mirah berada di kompleks Petilasan Keraton Kasunanan Kartasura. Ia dimakamkan pada 1826.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved