Berita Nasional

Kenapa Harga Telur dan Daging Ayam Masih Tinggi?

Ketut Diarmita menyebut, tingginya harga ayam dan telur ayam di pasaran karena rantai pasokan (supply chain) yang terlalu panjang.

Kenapa Harga Telur dan Daging Ayam Masih Tinggi?
KOMPAS.com
Daging ayam 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita menyebut, tingginya harga ayam dan telur ayam di pasaran karena rantai pasokan (supply chain) yang terlalu panjang.

Hal itu memberikan rentang perbedaan cukup tinggi dari produsen hingga ke konsumen. "Peternak itu selalu jadi kambing hitam dan sebenarnya mereka jual sesuai dengan apa yang mereka dapat. Sekarang permasalahannya adalah saat membawa dari produsen ke konsumen lewat berbagai tangan. Ini menyebabkan harga naik," ucap dia di Kompleks Gedung Kementan, Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Baca: Rayakan HUT Ke-11, SNSD Kirim Pesan Manis kepada Para SONE

Diarmita mengatakan, keuntungan paling besar didapat oleh pihak-pihak yang ada di tengah-tengah antara produsen konsumen. Menurut dia, di tingkat peternak harga telah turun.

"Cuma masalahnya kan di konsumen masih tinggi. Ini kenapa ada disparitas? Jadi langkahnya sekarang kan bagaimana kita operasi pasar. Kita mempunyai kalau tidak salah 15 titik, jadi semua membuat model mini market untuk membuat harga sesuai acuan Permendag, yakni ayam Rp 32.000 dan telur ayam Rp 22.000," kata Diarmita.

Kendati operasi pasar telah dilakukan, Diarmita masih belum bisa memprediksi kapan harga tersebut bisa turun.

Dia mengatakan bahwa butuh waktu menyeimbangkan harga tersebut terlebih dalam dua Lebaran harga pangan stabil.

"Tapi peternak saya dulu selalu menjerit setelah Lebaran, saya cari akar masalahnya. Setelah saya perbaiki, ternyata harga malah naik. Saya kemarin berpikir jangan naik-naik banget-lah. Untuk menjaga stabil memang sulit," sebutnya.

Harga pakan
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo membenarkan adanya kenaikan harga pakan ternak saat ini. Namun, hal tersebut bukan menjadi penyebab tingginya harga ayam dan telur di tingkat konsumen.

"Atas pelemahan rupiah terhadap dollar AS itu meningkatkan harga pakan sebesar delapan persen untuk biaya produksinya," kata Desianto di tempat yang sama.

Harga pakan ternak saat ini untuk ayam broiler ada pada angka Rp 6.500 per kilogram di level ritel dan Rp 6.800 per kilogram di tingkat konsumen.

Sementara untuk pakan ayam petelur dihargai Rp 5.500 per kilogram.

"Ini sudah termasuk tinggi karena naik sekitar lima sampai delapan persen. Tergantung pabrik dalam menyediakan stok bahan baku," imbuh Desianto.

Meski ada kenaikan harga pakan ternak, Desianto membantah berdampak pada tingginya harga ayam dan telur di pasaran.

Pengaruh justru terjadi pada struktur biaya produksi pakan. "Tidak ada hubungannya dengan harga ayam dan telur karena itu tergantung permintaan," ucap dia. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved