Berita Provinsi NTT

Kasus Tenggelamnya Kapal Berkah Ilahi, Dishub NTT Akui Ada Kelalaian

Dinas Perhubungan (Dishub) NTT menilai tenggelamnya Kapal Berkah Ilahi di Perairan Sape, NTB adalah sebuah kelalaian.

Kasus Tenggelamnya Kapal Berkah Ilahi, Dishub NTT Akui Ada Kelalaian
net
ilustrasi kapal tenggelam

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Dinas Perhubungan (Dishub) NTT menilai tenggelamnya Kapal Berkah Ilahi di Perairan Sape, NTB adalah sebuah kelalaian. Kelalaian ini terutama dari nahkoda dan pemilik kapal serta otoritas pelabuhan.

Hal ini disampaikan Kepala Dishub NTT, Isyak Nuka, S.T, M.M kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (31/7/2018).

Menurut Isyak, peristiwa tenggelamnya Kapal Berkah Ilahi di perairan NTB itu membuktikan bahwa ada kelalaian.

Baca: Antasari Azhar Bilang Jokowi Harus Menang

"Karena itu perlu diinvestigasi atau diteliti secara mendalam. Apakah ada yang memerintahkan berlayar ataukah nahkoda memaksakan kehendak untuk berlayar," kata Isyak.

Dijelaskan, sejauh ini pihaknya belum mendapat informasi resmi peristiwa itu, namun dari kronologi, sudah bisa dipastikan, bahwa telah ada larangan berlayar dari BMKG untuk tidak ada pelayaran.

"Sudah ada warning dari BMKG untuk larangan berlayar, namun kapal ini tetap berlayar, sehingga ini termasuk kelalaian. Jadi perlu diinvestigasi, siapa yang memerintahkan berlayar, apakah ada perintah atau nahkoda yang memaksakan kehendak untuk berlayar.
Bahkan dalam peringatan BMKG biasanya ada tercantum jenis kapal yang bisa berlayar pada waktu dan lintasan tertentu," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, memang sesuai informasi dari BMKG terjadi gelombang tinggi di Laut Sawu dan juga di Selat Sape serta Perairan Selatan NTT.

Karena itu, dengan kondisi ini, seharusnya otoritas. Di Pelabuhan Waekelo, SBD harus mempertimbangkan ketika memberi izin pelayaran dengan mengacu pada informasi dan peringatan cuaca dari BMKG.

"Perlu juga diteliti. Apakah kapal ini berlayar sesuai prosedur pelayaran yang ada ataukah memaksakan diri. Ini yang harus ditelusuri," kata Isyak.

Dikatakan, dengan kondisi itu, pihaknya terus mengingatkan kepada seluruh operator dan nahkoda supaya benar-benar mengindahkan peringatan dari BMKG.

"Kalau dilihat dari sistem yang ada, maka saya kira informasi dari BMKG seperti warning dapat diakses semua pihak, apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini. Namun, yang terjadi itu, saya katakan bahwa kelalaian, karena mungkis saja nahkoda hanya melihat kondisi laut di depan mata, sementara di tengah laut tidak bisa diprediksi," ujarnya. (*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved