Wakapolres Lembata: Lewotolok-Tanjung Lembata Memanas Lagi, Angkut Bila Ada yang Bertindak Anarkis!

Bahkan warga yang sedang dalam perjalanan keluar dari Tanjung pun dipaksa turun dari kendaraan lantas diinterogasi.

Penulis: Frans Krowin | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Wakapolres Lembata, Kompol Riwu Lambertus 

Laporan Wartawan POS KUPANG.COM, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA - Dalam beberapa hari terakhir, warga tiga desa di Lewotolok dan warga lima desa di Tanjung, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, memanas lagi.

Ketegangan tersebut nyaris menimbulkan pertumpahan darah tapi untungnya aparat Polres Lembata segera tiba di lokasi kejadian.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang.Com, menyebutkan, ketegangan itu berawal saat sejumlah oknum warga dari Lewotolok datang ke persimpangan jalan menuju Tanjung, kemudian memblokir ruas jalan ke wilayah tersebut.

Tak hanya itu. Oknum warga itu juga mencegat sejumlah tukang ojek dan pengendara sepeda motor lainnya yang sedang melaju menuju Tanjung. Bahkan warga yang sedang dalam perjalanan keluar dari Tanjung pun dipaksa turun dari kendaraan lantas diinterogasi.

Baca: Syukuran Kompas Gramedia, Jaman Now Harus Jadi Inspirasi

Oknum warga tersebut memaksa para pihak untuk menuruti kemauan mereka. Hal tersebut terpaksa dituruti lantaran oknum saat melakukan tindakan tersebut, mereka membawa serta senjata tajam seperti parang, tombak, busur dan anak panah serta lainnya.

Tatkala aksi penghadangan dan pemblokiran jalan sedang berlangsung, tiba-tiba aparat keamanan yang sedang memantau situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dari Polres Lembata, tiba di lokasi kejadian.

Wakapolres Lembata, Kompol Riwu Lambertus, membenarkan adanya peristiwa tersebut, ketika dikonfirmasi Pos Kupang.Com di Lewoleba, Sabtu (10/3/2018).

"Benar ada sejumlah oknum warga yang melakukan penghadangan dan pemblokiran jalan menuju Tanjung. Tapi beberapa oknum warga itu telah diamankan polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Wakapolres Riwu.

Dikatakannya, jauh sebelum ketegangan antara warga desa di Ile Ape itu terjadi, pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata telah berusaha menyelesaikannya.

Pihak kepolisian juga telah berulang kali meminta masyarakat agar mempercayakan penanganan masalah itu kepada pemerintah.

Akan tetapi, lanjut dia, dalam pertemuan dengan pemerintah, warga kedua belah pihak menyatakan sepakat untuk opsi penyelesaian masalah tersebut.

Namun setelah pulang, warga berubah pikiran sehingga melancarkan aksi sesuai kehendak masing-masing.

Faktor itulah, tandas Wakapolres Riwu, yang memicu ketegangan di antara kedua belah pihak.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved