Guru-guru di Kolisia Maumere Tinggalkan Sekolah Lebih Awal Jika Lihat Barang Ini
kaum ibu guru yang masih menyusui anak dan domisili di Maumere tinggalkan sekolah.
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Fredrikus Royanto Bau
Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Eugenius Moa
POS KUPANG.COM,MAUMERE - Beberapa orang guru yang mengajar di sekolah dasar dan SMPN Satu Atap Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda domisili di Maumere pulang lebih awal sebelum berakhir jam sekolah Senin (26/2/2018) siang.
Ketika itu awan hitam menggelayut di langit segera turun hujan lebat, kaum ibu guru yang masih menyusui anak dan domisili di Maumere tinggalkan sekolah khawatir tidak bisa menyeberang Sungai Dagemage.
Baca: Waspada! Ruas Jalan Ende-Maumere di Nuamuri, Longsor Batu Mengintai Setiap Waktu
Bila sungai banjir besar, mereka harus mengeluarkan ongkos jasa antara Rp 50.000-Rp 200.000, menyeberangkan manusia dan sepeda motor.
“Tadi siang hijan lebat dan jembatan darurat dibangun Dinas Pekerjaan Umum tidak bisa menahan banjir,
sehingga kendaraan roda dipikul oleh warga menawarkan jasanya,” kata Yuvensius Dindus, Kepala Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Senin malam.
Dindus mengaku prihatian dengan para guru yang tinggal di Maumere dan mengajar di Kolisi.
Baca: Kasihan, Lintasi Sungai Lewat Jembatan Bambu, Warga Kolisia-Maumere Harus Bayar Bayar Rp 5.000
Sejak Crossway Dagemage diterjang banjir dua pekan yang lalu, para guru dan warga umumnya mengeluarkan biaya lebih mahal membayar jasa warga yang menyeberangkan kendaraan lewat sungai.
“Saya dengar tadi sore, tawar menawar antar pengguna jasa angkat motor berkisar Rp 50.000-Rp 200.000,” ujar Dindus.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Sikka dan Propinsi NTT membangun jembatan darurat untuk manusia dan kendaraan.
Rakyat sangat menderita bila hujan lebat mendatangkan banjir.
Tidak ada alternatif lain bagi warga yang akan menyeberang dari wilayah Magepanda serta wilayah Kecamatan Kota Baru dan Maurole di Kabupaten Ende bila ke Maumere dan sebaliknya. (*)