PosKupang/

Ada Apa Ini! Kok Harga Beras di Lembata Melonjak Tajam

Para pedagang di Pasar Pada, Kabupaten Lembata menjelaskan ini terkait harga beras di daerah itu

Ada Apa Ini! Kok Harga Beras di Lembata Melonjak Tajam
Pos Kupang/Frans Krowin
Mardiyah, pedagang beras di Pasar Pada saat melayani konsumen, Selasa (14/11/2017) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Harga beras di Kabupaten Lembata saat ini, mengalami lonjakan yang cukup tajam. Beras yang dijual para pedagang di daerah itu naik antara Rp 5.000 - Rp 20.000 per kg. Kenaikan harga tersebut sudah berlaku dua pekan lalu.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah pedagang ketika ditemui Pos Kupang Selasa (14/11/2017).

Para pedagang yang ditemui, di antaranya Mardiyah, Ahmad dan Khadijah.

Mardiyah menuturkan, harga beras itu mulai naik saat kapal pengangkut beras tiba di Lewoleba, Lembata awal November 2017 lalu.

Beras yang dijual para pedagang itu dipasok dari Makassar, Sulawesi Selatan, juga dari Surabaya.

Beras dari Surabaya, di antaranya Phraya juga beras cap Empat Mata. Sementara beras dari Makassar, yakni beras Cap Sayur, beras Khadafi, beras Pak Tani juga beras aneka merek lainnya.

Dua pekan lalu, tutur Madiyah, beras Phraya dijual seharga Rp 215.000 per karung (18 kg). Tapi saat ini beras dengan merek yang sama, dijual seharga Rp 220.000 - Rp 225.000.

"Saat ini harga beras sudah naik," ujar Mardiyah.
Sementara beras cap empat mata yang sebelumnya seharga Rp 220.000/karung (18 kg), sekarang ini sudah naik menjadi Rp 225.000 - Rp 230.000/karung. Kenaikan beras cap empat mata antara Rp 5.000 - Rp 10.000/karung.

Sedangkan beras cap sayur dari Makassar, lanjut dia, saat ini harganya mencapai Rp 495.000 per karung (50 kg).

Sebelumnya, beras merek tersebut dijual pedagang dengan harga yang berkisar antara Rp 470.000 hingga Rp 475.000 per karung.

Mardiyah menyebutkan, penduduk di Lembata senantiasa bergantung pada beras yang dipasok dari Surabaya maupun Makassar.

Ini terjadi karena beras lokal yang diproduksi oleh petani setempat, hanya untuk memenuhi kebutuhan petani semata.

Selebihnya tidak bisa. Karena volume produksi beras petani sangat terbatas. Selain itu, lahan sawah yang ditanami padi hanya ada di Waikomo. Itu pun sekitar tak seluruhnya ditanami benih padi. Pada lahan itu ditanami pula jagung dan sayur-sayuran.

Oleh karena itu, lanjut Mardiyah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Lembata, pedagang harus mendatangkan dari luar, terutama dari Surabaya juga Makassar. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: marsel_ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help