PosKupang/

Sampah Medis Dibuang di Jalur 40 Kupang, Beginilah Reaksi Warga di Sana

Plastik kuning yang terikat rapih dibukanya. Beberapa sampah diambil lalu dimasukan ke dalam kantong plastik.

Sampah Medis Dibuang di Jalur 40 Kupang, Beginilah Reaksi Warga di Sana
ilustrasi
Sampah medis 

POS KUPANG.COM, KUPANG - Usianya sudah di atas 60 tahun. Seorang pria menjinjing sebuah kantong plastik merah. Tak peduli panas mentari yang suhunya di atas 32 derajat celcius.

Pria yang menggunakan kaus merah dan celana pendek di bawah lutut, menatap ke dalam semak-semak di tepi Jalan Jalur 40, Kelurahan Naioni, Kota Kupang, Sabtu (23/9/2017).

Tak ada rasa jijik, dengan tangan kosong, pria yang tak ingin disebutkan namanya ini mengorek-ngorek tumpukan sampah di dekatnya. Nampak bekas botol infus, botol kemasan obat cair, pembalut luka, hingga popok, ada di antara tumpukan sampah itu.

Plastik kuning yang terikat rapih dibukanya. Beberapa sampah diambil lalu dimasukan ke dalam kantong plastik. Tak lama berselang, datang seorang warga setempat, Moses Asa (65 tahun).

Moses nampak kesal dengan ulah warga yang membuang sampah di lokasi itu. Ia mengaku pernah memarahi seorang warga yang membuang sampah di lokasi itu, yang kemudian diketahuinya seorang tenaga medis di salah satu rumah sakit di Kota Kupang.

"Saya marah sekali. Mereka bawa mobil pikap. Saya bilang kenapa sudah pasang papan dilarang buang sampah, tapi kamu masih buang. Mereka rupanya ketakutan sehingga mau kasih naik lagi sampah itu. Tapi saya bilang, biar saja, nanti saya bakar. Rupanya mereka tidak tenang sehingga ikut saya ke rumah dan minta maaf. Mereka kasih saya uang Rp 150 ribu, namun saya tolak. Dua hari kemudian, mereka datang lagi ke rumah bawa bir dan makanan. Kami makan dan minum sama-sama. Sejak itu, mereka tidak lagi buang sampah di sini," tutur Moses.

Masalah pengolahan sampah medis, nampak sama di semua rumah sakit dan puskesmas di Kota Kupang.

Pantauan Pos Kupang seminggu terakhir, sampah medis ditumpuk lebih dari 1x24 jam seperti yang disyaratkan. Di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang sampah medis ditumpuk bercampur dengan sampah biasa di atas insinerator dan IPAL. Dalam seminggu pantauan, sampah-sampah itu tak diangkut.

"Alat di sini rusak, sehingga kami pakai di RSU Kota Kupang. Biasanya dari RSU Kota Kupang yang datang ambil, tapi sudah beberapa hari tidak datang. Kami tumpuk di sini saja sampai diangkut ke RS Kota KUpang," ungkap seorang petugas kebersihan RSU Prof Dr WZ Johannes, Kamis (21/9/2017).

Kondisi yang sama juga terjadi di beberapa rumah sakit di Kota Kupang. Sampah medis ditumpuk bersama sampah biasa lainnya. Sejumlah kotak sampah sudah penuh sehingga meluber. Kondisi ini menimbulkan bau yang tak sedap.

"Masyarakat di sini sudah pernah kirim surat protes ke rumah sakit. Bau sekali di sini. Kadang air limbah mengalir sampai halaman rumah warga. Mudah-mudahan segera di atasi," kata seorang pemuda di samping bawah RSU WZ Johannes.

Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber megungkapkan bahwa sampah medis di semua rumah sakit dan puskesmas di Kota Kupang diduga tidak diolah secara benar.

Perusahaan yang menjadi mitra pun, peralatan yang dipakai tidak memenuhi syarat. Ada juga rumah sakit yang mengelola sampahnya sendiri, meski tak memiliki peralatan.

"Kami sudah dapat informasi dari masyarakat bahwa mereka (rumah sakit) buang sampah medis di Jalur 40 dan TPA Alak. Kami sudah cek ke sana, ternyata benar. Hanya kami belum tangkap basah, siapa yang buang. Entah itu pihak rumah sakit ataukah perusahaan yang dipakai untuk mengolah sampah medis. Yang jelas, itu adalah sampah medis yang mengandung unsur B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), sehingga sangat membahayakan masyarakat," jelas sumber Pos Kupang. (eko)

Penulis: sipri_seko
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help