Maxi Julians : Saya Bukan Tipe Birokrat
Bekerja pada lembaga internasional seperti PBB dengan penghasilan yang memuaskan tidak serta merta membuat Maxi Julians Dengak
Penulis: Alfred Dama | Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM -- Bekerja pada lembaga internasional seperti PBB dengan penghasilan yang memuaskan tidak serta merta membuat Maxi Julians Dengak-Rihi Dara, ST, MEMD lupa tanah Timor, tempat asalnya. Bahkan ia memilih kembali ke Kupang untuk memulai hidup baru dan ikut membangun tanah asal kedua orangtuanya.
Berbekal pengetahuan dan pengalamannya, membuat wanita berparas ayu ini memulai usaha. Ia memilih usaha di bidang property. Sebagai anak muda, Maxi bersama teman-temannya membangun sebuah perusahaan yang kemudian diberi nama PT Timor Bangun Mandiri. Fokus usaha yang dijalankan dalam bidang perumahan dan property. Tidak mudah memulai usaha yang memadukan padat modal, seni arsitektur dan jaminan kenyamanan bagi konsumennya. Namun karena percaya diri, Maxi mengatakan optimis bahwa usaha yang digelutinya bakal maju.
Ditemui di sela-sela kesibukannya, Maxi yang juga seorang arsitek, magister lingkungan dan pembangunan ini mengatakan beralih profesi dari staf lembaga internasional menjadi pebisnis membuatnya mendapat banyak pengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Meski berbelit-belit, namun pemilik wajah rupawan ini mengaku menyukai tantangan itu. Obesinya adalah membangun kawasan hunian yang ramah lingkungan. Berikut perbicangan dengan Pos Kupang.
Anda memulai usaha dalam bidang property. Tentu ini tidak mudah, mengapa Anda memilih jenis usaha ini?
Pertama karena lataer belakang pendidikan saya S1 arsitektur, kemudian S2 (pasca sarjana) saya ambil lingkungan dan pembangunan di Australia. Kaitannya dengan itu, saya pikir basic ilmu kita di situ, jadi serasa tidak mungkin melakukan aktivitas di luar dari keilmuan saya sehingga ilmu yang saya dapatkan itu bisa sepantasnya diterapkan. Selama ini saya memang tidak di Kupang. Saya kerja di berbagai lembaga internasional mulai dari Jawa hingga Sumatera, bahkan di Aceh. Memang saya sudah punya prinsip sebelum kembali ke Kupang, saya harus sekolah S2 dulu sehingga saat kembali ke Kupang, saya bisa melakukan sesuatu. Saya bicarakan ini dengan orangtua dan saya berjanji dengan orangtua bahwa saya berkarier dulu dan sebelum kembali ke Kupang, saya harus ambil pendidikan S2.
Bisa dikatakan pendapatan Anda cukup besar saat kerja di luar NTT. Mengapa Anda ingin kembali dan memulai sesuatu dari awal?
Saya sekolah di Surabaya, kemudian kerja dengan lembaga PBB di Aceh dan ambil S2 lalu kembali ke Kupang. Saya tidak pungkiri bahwa sebenarnya tawaran untuk bekerja di luar itu lebih menggiuarkan, tapi bekerja berpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain tentu membuat kita berpikir agar suatu saat harus menetapkan di suatu daerah, untuk membangun masa depan dan keputusannya adalah ke kembali ke Kupang. Awal kembali ke Kupang memang saya dapat beberapa tawaran kerja, hanya saja ketika mereka melihat CV saya, mereka bilang ini over qualivite, jadi mereka mengakui kalau mereka tidak bisa memberi gaji dengan standar yang sama seperti pada tempat-tempat sebelumnya. Karena dalam proses perekrutan karyawan biasanya dilihat rekam karier sebelumnya seperti pengalaman kerja dan gaji di tempat yang lama. Mereka bilang kalau dengan gaji yang demikian, maka di Kupang tidak bisa demikian, karena gaji kami sebelumnya adalah standar PBB. Jadi, setelah saya pikir-pikir mau atau tidak mau harus berwirausaha.
Apakah memang berniat untuk memulai bisnis ini?
Iya, memang sebelumnya saya juga berniat membuka consultan. Konsultannya memang bukan pure arstiktur tapi digabungkan dengan manajemen lingkungan. Maka saya ambil di property. Kalau di real estate kita bisa gabungkan itu antara arsitektur dan pembangunan manajemen lingkungan. Kalau dulu arsitektur hanya mendesain rumah-rumah saja kemudian digabungkan ke perumahan jalan dan lainnya. Jadi pengalaman itu, sih. Saya pikir memang ada garis merah karena sebelumnya saya di Aceh dari arsitek murni di Aceh, kita juga urus lingkungan, kawasan, jalan dan sekolah dan lainnya. Kemudian sekolah lagi untuk mengambil yang ada kaitannya dengan lingkungan untuk diterapkan di perumahan.
Kenapa pilih Kupang, sementara orang beranggapan rumah-rumah yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan dianggap mahal dan sangat sulit dijangkau!
Dulu orang bilang Kupang ini daerah miskin. Saya punya pengalaman di Aceh di mana saya hidup di daerah yang baru habis tsunami dan saya juga hidup lama di Surabaya. Jadi, saya sudah bisa membanding-bandingkan. Sebenarnya di Kupang ini lebih baik karena secara ekonomi sosial, kita lebih stabil.
Istilahnya kita ini berdiri di atas batu karang sehingga sangat kokoh. Kemudian saya dan orangtua saya juga lahir dan besar di sini dan saya berpikir di sinilah tempat saya untuk berbuat.
Kalau di Jawa, kita dihitung perjam, di sini kita harus buka usaha dan rintis dari bawah. Tapi saya tetap optimis bakal maju. Karena orang sekarang mulai jenuh dengan Bali, orang mulai bergeser ke timur yaitu ke wilayah NTB seperti Lombok dan Sumbawa dan mau atau tidak mau pergeseran ini akan terus ke arah timur ke wilayah NTT. Dan, kita di NTT memiliki potensi yang hebat, kita punya gunung, pantai dan lain-lain. Hanya saja semua potensi itu belum kita lihat sepenuhnya. Saya sangat optimis, Kupang akan berkembang nantinya. Satu lagi adalah saya sudah lihat banyak hal yang bagus, mungkin karena saya sudah pernah tinggal di Surabaya, Aceh dan Australia, jadi sudah lihat banyak sistem yang bagus. Kalau kita mau mengomel, mau protes pemerintah serasa percuma saja kalau hanya berkoar-koar protes sana, protes ini. Jadi, kita berpikir minimal saja apa yang bisa kita buat ya kita buat, lebih baik kita melakukan sesatu yang kecil tapi berguna dari pada hanya omong-omong tapi tidak ada hasilnya.
Sebelumnya Anda bekerja di PBB, sekarang Anda memilih bisnis ini. Apa yang menarik dari menjalankan bisnis ini?
Kalau dulu masih bekerja di bidang arsitek dengan PBB, itu lain kerjanya. Ke mana- mana akses kita gampang masuknya karena nama PBB itu. Tapi bekerja di sektor swasta ini baru kita lihat, oh ternyata birokrasi pemerintah ini seperti ini, menghadapi masalah seperti ini. Kita masuk di Kupang ternyata belok-beloknya banyak sekali. Jadi, menjadi pengusaha lebih rumit ketimbang kita bekerja di lembaga internasional, tapi saya menikmati saja urusan ini. Tapi di Kupang sudah makin maju. Lihat saja orang dari luar berani investasi. Masa sih kita yang asli orang sini tidak berani berinvestasi. Kupang memang punya potensi untuk investasi.
Anda kerja di PBB, pendapatan tentu bagus. Kenapa mau bersusah payah terjun ke dunia usaha yang nota bene dari nol?
Saya tipe orang yang ingin dekat dan perhatikan keluarga. Dulu waktu kerja dengan PBB juga sering pulang Kupang hanya untuk bersama dengan keluarga (ayah, ibu dan kakak adik). Memang pendapatan kita besar, tapi kita juga punya budaya Kupang, Timor ini, yang kalau ada apa-apa, maka kita harus pulang, harus sering-sering lihat orangtua. Enak juga karena punya pendapatan yang lumayan tapi ada juga cost yang harus kita bayar. Memang tidak enak kalau jauh dari keluarga, saya sudah merasakan itu. Dan, saya dan suami juga sudah komit untuk kembali ke Kupang, entah mau jadi apa nantinya, target kita adalah total di Kupang, paling tidak dalam lima tahun ke depan.
Mengapa tidak mau menjadi PNS saja?
Sejak sekolah, saya memang tidak suka jadi PNS. Karena tipe saya bukan kerjaan di PNS, saya tipe orang yang ingin melakukan apa saja berdasarkan ide saya. Jadi, kalau ada apa, ya saya buat. Kalau di PNS tentu tidak bisa. Saya pernah kerja di LSM dan PBB, saya malah lebih menikmati kerja dengan LSM karena progresnya bagus, bahkan saya hampir setiap tiga bulan ada promosi jabatan. Bayangkan kalau kita kerja di PNS, kita performa bagus belum tentu dihargai. Mungkin semua orang bisa begitu, tapi saya buka tipe yang begitu karena saya sadar bahwa saya bukan orang yang memiliki tipe birokrat. Kan kalau mau jadi PNS harus punya jiwa birokrat, saya tidak punya jiwa birokrat itu.
Anda dan teman-teman Anda memulai usaha bisnis properti untuk segmen menengah!
Memang kita coba saja dulu usaha ini karena yang saya lihat pasar perumahan di Kota Kupang banyak yang bermain di perumahan RSS. Dan, memang saya lihat kondisinya tidak terlalu bagus juga. Jadi, kita juga tidak bisa bilang baik atau tidak. Jadi, saya lihat sudah banyak pasar yang main ke situ, jadi saya coba buka usaha ini dengan melihat pasar menengah ke atas. Ini karena pengalaman saya dalam dunia arsitek itu menangani rumah-rumah yang tipe bagus, mewah. Kalau saya langsung masuk ke RSS, mungkin perlu penyesuaian dulu. Sebenarnnya rumah yang kita sediakan, menurut saya, juga biasa-biasa saja. Karena rumah yang bisa saya desain itu mension atau rumah yang ada kolam renang atau komplit. Konsep yang saya kembangkan itu sebenarnya sudah disederhanakan tapi tidak bisa turun lagi lebih jauh dari model yang kita ingin tawarkan. Jadi, kita ambil jalan tengahnya saja.
Kebetulan ada juga teman-teman saling cerita-cerita dan ajak untuk memulai usaha ini. Sebelumnya saya di Jawa, ada teman-teman yang ajak untuk usaha di Kupang tapi saya juga masih sibuk dan hanya bilang nanti saja begitu. Ketika menikah, saya balik ke Kupang. Jadi, kita mencoba pengalaman bagus yang kita dapat di Jawa atau di mana saja, lalu kita terapkan di Kupang.
Orang selalu mengkhawatirkan masalah kepemilikan tanah. Apa jamiman kalau bangunan yang ada di atas tanah itu benar-benar aman selamanya?
Itu yang menjadi perhatian utama kita. Memang urusan pengalihan tanah akan lebih panjang dan kita tidak inginkan tanah ini jadi masalah. Usaha ini dimiliki empat orang atau empat orang yang punya saham. Kita tidak mau atas nama pribadi sehingga tanah ini langsung milik PT atau atas nama perusahaan ini. Memang pengurusannya lebih panjang, lebih berbelit sehingga ketika orang beli rumah di sini langsung kita upayakan balik nama. Memang tanah ini penting tapi saya yakin tidak semua developer memiliki tanah bukan atas nama PT mereka atau ada yang masih nama pemilik. Ini atas nama PT karena itu merupakan jaminan bagi konsumen.
Memang urusannya lebih panjang, lebih repot tapi demi kenyamanan konsumen, kita harus lakukan itu. Dan, meskipun birokrasinya panjang tapi memang seharusnya begitu yang mesti kita buat dan lebih aman juga buat konsumen. Bila ada pergantian pemegang saham atau apapun nantinya konsumen tetap aman. Sekarang sudah ada sistem yang baru juga. Kalau PT kita punya HGB (Hak Guna Bangunan) belum punya SHM (Sertifikat Hak Milik), tapi begitu balik nama, pemerintah pusat sudah kasih kewenangan ke daerah sehingga ketika rumah itu dibeli, kalau perorangan, bisa langsung mengurus SHM dan mengurus itu tidak mahal juga.
Jadi, kekhawatiran orang di Kupang pada umumnya terkait latar belakang kepemilikan tanah!
Itu kalau tanah yang tidak jelas. Kita membeli tanah dari tuan tanah atau pemilik tanah yang jelas, serta memiliki surat-surat yang jelas seperti pajak dan surat lainnya jelas. Memang kita akui kalau semua proses melalui jalur yang benar itu cukup rumit juga, tapi kita inginkan hasil yang baik juga. Kita harus membereskan semua transaksi dan kita membayar pajak sesuai ketentuan. Pemerintah Kota Kupang mestinya mendorong atau menggairahkan bisnis perumahan mewah karena di situ ada pajak-pajak daerah yang bisa ditarik, dibandingkan ke RSS, itu pemerintah malah berikan subsidi. Jadi, dalam transaksi rumah kita punya semua struk pajak. Tahap awal, kita jual 16 unit berbagai tipe, ada tipe 73, 90, 156 dan lainnya. Tiap-tiap tipe lengkap dengan namanya masing-masing.
Mungkin tertarik punya rumah yang bagus ini, tapi dana tidak mencukupi. Apakah ada solusinya?
Itu juga menjadi perhatian kita, sehingga kita memberi DP bisa diangsur. Jadi, prinsip kita adalah rumah ini dibangun tiga bulan, empat bulan. Minimal sebelum terima kunci untuk masuk tapi DP-nya sudah lunas. Ada orang yang mungkin mengatakan tidak menempati dalam waktu lama. Jadi DP bisa enam hingga delapan kali dan pas masuk, DP lunas. Sisanya adalah KPR. Dan, kita kerja sama dengan Bank BNI, BCA, tapi BTN juga sudah tawarkan dengan bunga yang menarik. Tapi prinsip kita adalah setiap pembeli bebas memilih banknya asal dapat KPR, jadi kita tidak boleh membatasi.
Apa ada rencana ekspansi ke kabupaten lain di NTT?
Memang planning kami demikian. Cuma kami mau buat pilot project-nya di sini. Kalau kita sudah stabil, kita kembangkan ke daerah lain tapi kita tidak mau langsung ekstrem. Kita coba pelan-pelan saja dulu. Istilahnya masih projek awal.
Anda yakin orang Kupang mampu menjangkau dengan model dan harga rumah yang Anda tawarkan?
Sebenarnya orang Kupang itu mampu, hanya mereka lebih berhati-hati. Ada beberapa klien kami yang berkali-kali datang dan mereka ingin benar-benar yakin karena ini bukan masalah sedikit, apalagi ini masalah beli rumah, bukan seperti kita beli baju. Orang datang harus lihat kondisi rumah, harus perhatikan lingkungan sehingga tidak heran kalau ada yang datang hingga lima dan enam kali baru merasa cocok dan deal.