Willybrodus Lay: Hilangkan Primordialisme

Pembawaannya tenang. Tidak banyak bicara. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana bekerja sebagai bentuk sumbangsih terhadap

Willybrodus Lay: Hilangkan Primordialisme
Ist
Willybrodus Lay bersama istri
POS KUPANG.COM -- Pembawaannya tenang. Tidak banyak bicara. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana bekerja sebagai bentuk sumbangsih terhadap pembangunan di Kabupaten Belu. Itulah sosok pemilik nama lengkap Willybrodus Lay.

Jiwa pengusaha yang melekat pada dirinya tidak membuatnya menjadi congkak hati. Dari sederetan nama pengusaha di Kabupaten Belu, nama Wily Lay sudah sangat memasyarakat. Semua kalangan mulai dari akar rumput hingga elite, baik tingkat daerah maupun nasional, sangat mengenalnya.

Maklum, saat ini Wily Lay menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Belu. Sikap rendah hati  yang diwariskan orangtuanya menjadi modal utama. Di tengah arus kritik yang kuat di Tanah Belu mengenai warga keturunan Tionghoa, bagi Lay bukan halangan. Yang terpenting, berbuat untuk orang banyak dan berguna bagi orang lain.

Semua orang yang merasa diri dilahirkan di Belu, dibesarkan di Belu, mengabdi di Belu dan meninggal di Belu, wajib hukumnya untuk membangun Belu. Sikap rendah hati inilah yang membuat kader Partai Demokrat mempercayakannya untuk  memimpin partai ini. Tentang bagaimana sosok Wily Lay, berikut penuturannya kepada Pos Kupang ketika ditemui di Atambua, Jumat (27/7/2012).

Sebagai seorang pengusaha, Anda dipercayakan juga menjadi pimpinan partai. Bisa diceritakan sedikit awal mulanya?
Begini ceritanya. Saya memang selama ini lebih menekuni usaha sebagai seorang pengusaha. Saya tidak pernah berpikir bahwa suatu saat dipercayakan menjadi pimpinan sebuah partai pemerintah (Partai Demokrat,Red) di Kabupaten Belu. Dipercayakan memimpin Partai Demokrat di Belu memang bermula dari salah satu kader (menyebut nama Magel, Red) bertemu saya di jalan. Saya punya kebiasaan bersepeda sore hari. Saat itu kader Demokrat ini menawarkan kepada saya apa bisa bergabung di Demokrat.

Karena saya kurang mengenalnya, maka saya sampaikan bahwa coba didiskusikan lagi karena jiwa saya seorang pengusaha lalu terjun ke dunia politik tentunya harus banyak mendapatkan masukan. Bertemulah saya dengan kader Demokrat ini untuk tukar-menukar informasi. Jadi tidak ada rapat khusus saat itu. Saya pun coba berdiskusi dengan kader Demokrat untuk melihat seperti apa dunia politik. Banyak kader partai berdiskusi politik, saling berargumen mendorong saya untuk terlibat juga berdiskusi mengenai dunia politik.

Apakah menerima atau tidak tawaran itu?

Saya memang sebelum bergabung dengan Demokrat pernah juga di Partai Golkar dan PDIP. Tetapi jiwa saya seorang pengusaha, maka kecenderungan saya ketika itu lebih pada usaha. Setelah ada tawaran dari kader Demokrat, saya hanya bilang, mari kita bekerja bersama-sama. Karena membesarkan sebuah partai tidak bisa hanya mengandalkan saya seorang. Dan ternyata teman-teman kader Demokrat sepakat untuk saling mendukung.

Dukungan semakin kuat ketika ada tim dari DPP Demokrat datang ke Belu terkait pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Saat itu tim DPP Demokrat meminta saya supaya ikut menjadi tim sukses pemenangan Pemilu Presiden. Mulai saat itu, selain tugas rutin selaku pengusaha, saya juga mulai terlibat dalam urusan politik. Partai Demokrat di Belu sendiri sudah terbentuk sejak tahun 2002.

Baru pada masa bakti 2006-2011, saya terpilih memimpin Partai Demokrat Belu; dan terakhir pada Muscab, saya kembali dipercayakan memimpin Demokrat untuk periode kedua  masa bakti 2011-2016. Perlu saya sampaikan bahwa selama saya memimpin Partai Demokrat, saya terus mendorong kader-kader untuk maju bertarung dalam pemilu legislatif.

Syukur bahwa partai kami menempatkana lima anggota di parlemen (DPRD Belu periode 2009-2014) dan salah satu kader atas nama Simon Guido Seran menjadi Ketua DPRD Belu. Mungkin di NTT kader Demokrat yang jadi ketua dewan hanya di Kabupaten Belu. Ini suatu kebanggaan buat segenap pengurus dan kader Partai Demokrat di Kabupaten Belu.

Dengan latar belakang Anda, bagaimana Anda memimpin Partai Demokrat di Belu?
Mengurus partai tidak semudah yang dibayangkan. Orang bilang, harus berkorban. Ini konsekuensi dari sebuah pilihan. Mau tidak mau dijalani dengan penuh tanggung jawab. Tapi prinsip yang saya pegang, cara mengurus partai harus terbuka dan tidak boleh membeda-bedakan satu dengan yang lain. kita tidak boleh membedakan ras, suku, agama atau golongan.

Kita menganggap semua adalah aset untuk membesarkan partai dan mau berbuat untuk masyarakat Kabupaten Belu. Kita tidak boleh berpikir primordial untuk membesarkan partai. Saya rasa ini yang paling penting. Jangan bilang ini orang Belu, ini orang Rote, ini orang Sabu, ini orang Utara, ini orang Selatan. Kita harus berpikir bahwa semua orang yang lahir, tinggal dan besar di Belu adalah orang Belu.

Mereka semua siap bekerja untuk membangun Belu. Selama pola pikir kita masih menilai dia suku A, suku B, maka apa yang menjadi harapan bersama seluruh masyarakat Belu untuk laju dalam pembangunan tidak akan berhasil. Selama saya memimpin, puji Tuhan berjalan aman dan seluruh pengurus saling terbuka. Kita saling berdiskusi tentang segala hal mengenai Belu. Bagaimana strategi pembangunan yang pas agar Belu ke depan lebih baik.

Dari kacamata seorang pengusaha, bagaimana menilai soal kegiatan studi banding yang sering dilakukan pemerintah maupun dewan ke luar propinsi?
Ya, sesungguhnya hal ini yang sering kali di tingkat partai saya syeringkan kepada teman-teman. Sesungguhnya di NTT ini ada begitu banyak obyek yang menjadi perhatian kegiatan studi banding. Saya sudah mengelilingi Pulau Flores, terutama di Flores Timur khususnya di Kecamatan Tanjung Bunga. Di sana ada potensi jambu mete yang luar biasa. Kita cari anak kerja untuk proyek di Flores sangat susah karena mereka fokus kegiatan di bidang pertanian jambu mete.

Bahkan saya pernah tanya, hasil yang diperoleh mereka bilang kalau ditekuni secara baik, maka dari hasil jambu mete bisa kaya. Kenapa kita tidak studi banding ke daerah-daerah ini. Selain itu di Maumere, ada kawasan tanaman kakao, kopi yang luar biasa. Kalau kita ajak petani dari Belu studi banding ke sana, saya kira ilmu yang diperoleh di sana bisa kita terapkan di Belu. Makanya saya selalu bilang, mulailah dari hal kecil dan sederhana. Jangan kita berpikir hal yang besar. Kita harus mulai dari yang sederhana.

Kenapa petani di Flores bisa berhasil, padahal tanah kita di Belu juga sangat cocok dengan tanaman yang dikembangkan di Flores atau di tempat lain di NTT ini. Saya kira pola pikir sederhana seperti ini perlu kita kembangkan ke depannya.

Bagaimana Anda melihat proses pembangunan di Kabupaten Belu sekarang, apakah berjalan lambat atau cepat?
Begini, pembangunan seperti apa yang kita lihat. Sesungguhnya pembangunan di Kabupaten Belu berjalan tidak lambat. Menurut saya, berjalan cukup baik. Yang selama ini terjadi adalah pembangunan infrastrukturnya yang terlihat sangat jelas. Sementara pembangunan orangnya belum maksimal. Kita bisa lihat, kalau orang mau sekolahkan anak, mereka harus jual ternak, jual tanah. Ini salah satu contoh bagaimana kita belum mandiri soal ekonomi.

Bagaimana kita berpikir bersama untuk kemandirian ekonomi itu sehingga orangtua yang mau sekolahkan anak tidak musti repot-repot jual tanah. Lahan cukup, bagaimana kita kelola sumber daya. Pembangunan oke, tapi pembangunan manusianya yang belum maksimal. Pembangunan selama ini mungkin saja karena datang dari atas. Sekarang pola itu harus dibalik, kita bangun dari bawah (akar rumput, Red).

Biarlah masyarakat yang mengusulkan sesuai kebutuhan yang ada pada mereka. Contoh kecil, tanaman kunyit. Tanaman ini di hutan sangat banyak, tapi orang tidak pernah berpikir untuk membudidayakannya. Jahe, ini kan sumber pendapatan yang baik. Jika ini dikembangkan, ekonomi keluarga kita di desa akan berkembang maju. Intinya usaha itu harus bisa mendatangkan uang.


Tahun 2013 bakal digelar Pilkada Kabupaten Belu. Dari sederetan nama yang ada di masyarakat, salah satunya nama Anda. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?
Semua orang Belu tentu tahu bahwa saya berlatar belakang pengusaha. Memang benar, saat ini nama saya sudah ramai juga disebut di masyarakat untuk ikut bertarung pada pilkada nanti. Memang awalnya saya menilai diri saya, apakah saya sudah pantas dan layak untuk ikut bertarung dalam pilkada.

Sebelum saya menjatuhkan pilihan untuk maju, memang saya seringkali berdiskusi banyak dengan banyak kalangan. Saya lebih banyak mendengar masukan dari berbagai kalangan, termasuk keluarga. Memang keluarga awalnya mengharapkan agar tetap di partai, tapi kader Partai Demokrat terus mendorong saya untuk maju.

Teman-teman menilai saya sudah pantas untuk maju. Karena dukungan teman-teman dan keluarga serta terdorong oleh kata-kata bijak dari semua orang bahwa ini  ziarah hidup dan panggilan jiwa. Apa yang saya pilih untuk maju merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai salah satu warga Belu ke depan. Memang sebagai seorang pengusaha oke, tapi belumlah lengkap jika belum berbuat yang lebih untuk masyarakat Belu.

Kalau sudah memilih untuk maju, maka konsekuensinya harus berani berbuat untuk banyak orang. Ini juga sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menepis penilaian negatif bahwa kami dari etnis Tionghoa ini hanya fokus pada usaha saja, tidak berpikir tentang pembangunan masyarakat.

Persaingan politik di Belu menghadapi Pilkada nanti akan sangat seru. Ada berbagai nama termasuk Anda dengan latar belakang yang berbeda pula. Bagaimana Anda menyikapinya?
Saya anggap semua yang siapa bertarung di pilkada Belu adalah baik. Di antara semua yang baik itu, pasti ada yang terbaik. Kembali lagi kepada pilihan masyarakat untuk menentukan siapa yang terbaik dari yang baik itu. Yang terbaik itu biasanya diberkati. Jangan karena melihat dari latar belakang A lalu yang lain merasa kecil hati.  Kalau sudah menyatakan diri siap berarti harus bisa menjadi yang baik. Semuanya kita kembalikan kepada rakyat. Yang maju kan pasti semuanya baik.

Konsep pembangunan yang pas untuk Belu menurut Anda seperti apa?

Bicara soal pembangunan di Belu tidak seperti 'membangun' jalan atau jembatan atau gedung. Pembangunan yang sesungguhnya adalah bagaimana kita membangun lebih dahulu sumber daya manusia (SDM). Image selama ini bahwa suksesnya pembangunan karena ada jalan yang bagus, jembatan yang besar atau gedung bertingkat. Pola pikir ini harus diubah. Kita jangan berpikir dari hal-hal yang besar, tapi mulailah dari berpikir mengenai hal kecil. Saya ambil contoh kecil saja, kalau kita budayakan menabung bagi anak usia SD dengan sehari Rp 2.000.

Coba dihitung pada akhir tahun nanti berapa uang hasil tabungannya. Ini baru contoh kecil hal sederhana. Budaya seperti inilah yang belum kita coba. Kita hanya berpikir bagaimana gedung yang baru atau jembatan yang panjang. Kalau budaya menabung itu dikembangkan, maka untuk membiayai pendidikan anak-anak tidak sulit. Kita tidak perlu susah payah jual tanah atau ternak untuk biaya pendidikan anak.

Memang selama ini kecenderungan orang di Belu lebih berpikir hal yang besar. Kita selalu berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang besar. Pola pikir ini harus diubah, bahwa untuk mendapatkan hasil yang besar harus melalui hal kecil dan sederhana. Jika kita sudah bisa me-manage hal sederhana, maka otomatis yang besar akan lebih mudah.

Bagaimana Anda menilai apakah mengelola pemerintahan harus dari kalangan birokrat?
Saya memang dari swasta murni. Memang selama ini yang mengelola pemerintahan kecenderungan dari latar belakang birokrasi. Tapi belakangan di beberapa tempat orang swasta bisa memimpin pemerintahan. Memang selama ini orang lebih cenderung memilih yang berlatar belakang birokrasi murni. Dan saya mau sampaikan bahwa kalau di pemerintahan memang sistemnya sudah baku.

Uang begitu banyak masuk ke kas daerah. Sekarang tinggal bagaimana mengelola uang itu untuk pembangunan. Sementara orang swasta, berusaha untuk mencari uang untuk membesarkan usaha. Jadi kalau mau bandingkan tata kelola pemerintahan dan di swasta, justru di swasta lebih susah. Bagaimana pengusaha mencari uang untuk membesarkan usaha.

Tapi kalau di pemerintahan uang sudah ada, tinggal pemimpinnya mengelola uang itu lebih efisien. Jadi saya melihat pengelola pemerintahan itu sesungguhnya tidak sulit karena anggaran tersedia, SDM ada, tinggal bagaimana kita me-manage lebih baik. Jadi bukan soal birokrat atau tidaknya, tapi bagaimana mampu mengelola yang sudah ada menjadi lebih bermanfaat. Di sektor swasta, kita harus rekrut tenaga kerja sendiri, cari dana sendiri. Seperti itu saja seorang wiraswastawan bisa berhasil dengan baik mengelola usahanya. Saya bisa ambil contoh, Walikota Solo, Jokowi, kan bukan berlatar belakang birokrat, tapi dia mampu mengelola pemerintahan secara baik dan dia dianggap sebagai salah satu walikota yang sukses.(ferdinandus dole hayong)

Mulai dari Titik Nol

BARATHI Subramaniam, seorang penyair terkenal, pernah berkata, "Jika Anda bisa memimpin diri sendiri, Anda bisa memimpin seseorang. Jika Anda mampu untuk memimpin seseorang, maka seutuhnya Anda bisa memimpin semua orang".

Apa yang dikatakan Barathi ini sesungguhnya sangat dihayati pemilik nama lengkap Willybrodus Lay. Pria kelahiran Atambua, 18 Juni 1961 ini sungguh memahami bagaimana menjadi seorang pemimpin mulai dari diri sendiri.

Etika yang ditanamkan kedua orangtuanya untuk rendah hati, tidak sombong menjadi prinsip hidup. Tidak heran kalau di mana-mana namanya selalu disebut. Bahkan saking dekatnya dengan para pekerja yang berasal dari Flores, ketika dirinya mengawasi proyek di daerah ini, mantan pekerjanya masih menyapanya.

"Saya punya pengalaman ketika mengawasi proyek di Flores. Ada mantan pekerja saya, waktu saya lewat di jalan, mereka kejar. Sebagai orang baru tentu saya juga takut. Tapi mereka dengan motor palang dan menyalami saya. Saya tanya bagaimana pekerjaannya, mereka bilang dari pengalaman ikut bos, kami sekarang sudah berhasil. Jadi pola pendekatan kekeluargaan yang sering saya pakai. Di saat anak kerja saya mengalami kesulitan, saya bantu. Kalau memang kebetulan lagi ada kelebihan, kenapa tidak bisa dibantu. Yang penting modal kepercayaan. Saya menjadi seperti sekarang juga bermula dari nol. Dari usaha membuat mie lalu orangtua sekolahkan kami. Jadi saya tahu betul bagaimana kehidupan orang kecil," tutur Wily Lay.

Wili yang punya hobi memancing ini mengakui, dirinya sampai menjadi pengusaha besar untuk ukuran Kabupaten Belu karena dalam bekerja selalu fokus. Jika setiap pekerjaan dilakukan tidak fokus, maka apa yang diharapkan tidak tercapai.

Fokus dari kacamata Wily, semisal, jika usaha yang dikembangkan banyak macam, tidak akan tahu mana yang menjadi keahlian kita. Tapi kalau satu saja usaha dan terus dikembangkan, maka niscaya kelak akan membuahkan hasil yang besar.

"Saya dulu pengusaha ternak. Dulu fokus ternak, jadi dulu usaha ternak cukup besar di Belu. Terbesar, karena waktu itu dikirim ke luar pulau cukup besar jika dibandingkan dengan teman-teman pengusaha lainnya. Ini karena saya fokus di peternakan itu. Setelah selesai itu, saya mau fokus sebagai kontraktor. Dari nol, dari tidak ngerti sama sekali bagaimana menjadi seorang kontraktor. Tapi karena komitmen untuk fokus, maka saya terus lanjutkan sampai saat ini. Ini juga karena petuah yang sering diajarkan kedua orangtua saya, bahwa setiap pekerjaan yang ditekuni harus benar-benar dijalani secara baik. Harus jujur dan rendah hati kepada semua orang," tutur Wily yang punya hobi sebagai pencinta alam.

Menurutnya, ada banyak potensi alam di Belu yang belum diberdayakan. Dia mencontohkan, ada tanaman Maek, asam yang selama ini belum dibudidayakan. Maek jika diolah secara baik akan memiliki nilai jual yang tinggi. Sebaliknya asam. Jika dikelola secara baik, nilai jualnya akan sangat tinggi dengan harga sekarang. (yon)


CURRICULUM VITAE

NAMA                : Willybrodus Lay
TTL                : Atambua, 18 Juni 1961
Nama Istri            : Lidwina Viviawaty
Anak                : Jason Lay
                        : Levina Larissa
                        : Jonathan Lay
Riwayat Pendidikan:
1.    SDK 1 Atambua
2.    SMPK Don Bosco Atambua
3.    SMA Budi Luhur Surabaya
4.    Universitas PGRI Kupang

Riwayat Karier Politik:
1.    Fungsionaris Golkar
2.    Bendahara PDIP
3.    Ketua Partai Demokrat

Ormas :
1.    KNPI
2.    AMPI

Organisasi Profesi:
1.    Wakil Ketua Pepehani (Perhimpunan Pedagang Hewan Nasional Indonesia)
2.    Wakil Ketua I KADIN (Kamar Dagang dan Industri)
3.    Bendahara Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi)

Hobi:
1.    Memancing
2.    Adventure
3.    Baca

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved