Ujian Nasional
Derita Anak SD Menjelang UN (1)
BUNGA hanya nama rekaan semata. Usianya baru merangkak menuju angka tiga belas. Dia murid kelas VI salah satu sekolah dasar di Kampung Cireng
Gara-gara Parangmu Gusti
POS KUPANG.COM --- BUNGA hanya nama rekaan semata. Usianya baru merangkak menuju angka tiga belas. Dia murid kelas VI salah satu sekolah dasar di Kampung Cireng, Desa Poco Likang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Apesnya, Bunga bakal tidak bisa mengikuti ujian nasional (UN). Mengapa?
POS KUPANG.COM, SEPERTI --- kebanyakaan remaja putri, Bunga menjalani aktivitas keseharian seperti biasa. Anak keempat buah kasih Petrus Jebabut dan Getrudis Mul, bermain, cengkrama dan membantu orangtua menjadi bagian tugasnya sepulang sekolah. Sayang, gairah hidup di masa remajanya dirampok oleh seseorang. Bunga menanggung beban dan aib itu sampai ajal menjemput.
Bukan musibah atau kecelakaan.
Tetapi, ulah manusia lain yang tak punya akal dan moral menjerumuskan sesama yang lain. Sungguh mengerikan, Bunga diikat, mulutnya dibekap dengan kain kemudian diperkosa. Sebilah parang setiap waktu menjadi algojo membuatnya tak berdaya. Tak boleh memberitahukan kepada siapapun.
Penelusuran Pos Kupang ke Cireng, Selasa (17/4/2012), membuka tabir yang sekian lama menjadi cerita dari mulut ke mulut. Nenek Bunga dan keluarganya menuturkanya. Pimpinan sekolah dan semua guru di tempat Bunga menuntut ilmu mengecam kelakuan di luar batas kemanusiaan.
Mula kejadiannya sekitar bulan April atau Mei tahun 2011, ketika suatu hari Bunga pulang. Usai mengisi perut di siang hari itu, Bunga bermain di halaman rumah. Suasana sekeliling rumah rumah tampak sepi. Orangtua sedang ke kebun.
Datanglah Agustinus Pagung yang biasanya disapa Gusti mengajak Bunga masuk rumah. Tak terlintas perasaan curiga apapun dalam benak, Bunga menuruti saja kemauan Gusti yang sehari-hari mengojek. Mereka masih bersaudara dekat dan letak rumah mereka berhadapan-hadapan di Cireng.
Musibah yang tak pernah disangka-sangkanya itu mengejutkan Bunga setibanya di dalam rumah. Diancam akan dibunuh kalau bersuara, tangan bunga diikat ke belakang. Mulutnya disumpal dengan kain. Dalam keadaan yang tak berdaya, Agus melucuti pakaian Bunga dan melepaskan dahaga syawatnya.
Dengan parang menghunus, Bunga ditekan habis tak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Jika memberitahukan, maka Bunga dan orang yang menerima pemberitahuan itu dibunuh.
Ancaman Gusti cukup ampuh. Bunga tak buka suara. Dia bungkam seribu bahasa. Ketika malam menjelang, orangtuanya juga tak diberitahukan. Begitu pula keesokan hari dan seterusnya. Bunga tetap pergi dan pulang ke sekolah seperti biasa. Bermain dengan teman-teman sekampung dan membantu orang tua.
Entah ketagihan, beberapa minggu kemudian Gusti kembali melancarkan ancaman memperdayai Bunga. Suatu waktu, keadaan di sekeliling rumahnya tampak sepi, ditinggalkan penghuni yang lain. Saat itu, Bunga baru pulang sekolah. Ketika hendak makan, Gusti datang dari arah belakang kemudian membekak mulut korban mengancam tidak boleh berteriak.
Tak ada perlawanan. Tangan Bunga diikat lalu Dia diperkosa. Gusti mengulangi ancaman akan membunuh kalau Bunga menceritakan kepada siapa saja perbuatannya.
"Menurut pengakuan korban kepada saya, dia diperkosa dua kali. Pertama di rumah pelaku dan kejadian kedua di rumah korban. Pelaku mengikat tangan korban ke belakang, pakaian korban dibuka kemudian diperkosa. Korban diancam dibunuh kalau dia ceritakan kejadian ini kepada siapa saja," tutur Kepala Sekolah SDI Cireng, Beata Pebrum, S.Pd, saat ditemui Pos Kupang di kantor sekolah itu, Rabu siang (17/4/2012).
Dikira Gemuk
Hari, minggu dan bulan berganti. Ayah dan ibu Bunga tak curiga apapun. Ke sekolah, bermain bersama teman-teman dan membantu orangtuanya dilakoninya seperti sediakala. Keceriaan seperti anak-anak remaja umumnya.
Perubahan postur tubuh Bunga yang tampak cepat gemuk juga tak mengundang kerugiaaan orangtua kandung Bunga. Yang terlintas dalam benak mereka bahwa Bunga gemuk dan sehat. Itu saja. Mereka menganggapnya sebagai kejadian yang wajar dialami setiap anak perempuan yang memsuki usia akil balik selalu lebih pesat pertumbuhan fisiknya.
Ternyata asumsi ayah dan ibunya meleset. Suatu waktu di awal tahun 2012, Bunga jatuh sakit. Martina Sueng, sang nenek yang sedang curiga dengan perubahan fisik cucunya itu meminta Bunga menginap sementara di rumahnya.
Martina mengurut perut korban. Terasa ada tanda aneh di dalam perut Bunga. Bunga tak paham apapun. Martina membatin sesaat sebelum mengungkapkannya kepada Bunga.
Dia beranikan diri memvonis Bunga hamil. Seketika itu, korban langsung drop. Bunga pun membuka aib yang menimpanya. Gusti, yang menghamilinya diceritakan kepada neneknya.