Jumat, 12 Juni 2026

Ujian Nasional

Derita Anak SD Menjelang UN (1)

BUNGA hanya nama rekaan semata. Usianya baru merangkak menuju angka tiga belas. Dia murid kelas VI salah satu sekolah dasar di Kampung Cireng

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Gara-gara Parangmu Gusti
 
POS KUPANG.COM ---  BUNGA hanya nama rekaan semata. Usianya baru merangkak  menuju angka tiga belas. Dia murid  kelas VI salah satu sekolah dasar di Kampung Cireng, Desa Poco  Likang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Apesnya, Bunga bakal tidak bisa mengikuti ujian nasional (UN). Mengapa?

POS KUPANG.COM, SEPERTI ---  kebanyakaan remaja putri,  Bunga menjalani aktivitas  keseharian seperti biasa. Anak keempat buah kasih Petrus Jebabut dan Getrudis Mul, bermain, cengkrama dan  membantu orangtua menjadi bagian  tugasnya sepulang sekolah. Sayang, gairah  hidup di masa remajanya  dirampok  oleh seseorang.  Bunga menanggung beban dan aib  itu sampai ajal menjemput.
Bukan musibah atau kecelakaan.  

Tetapi, ulah manusia lain yang tak punya akal dan moral  menjerumuskan sesama yang lain. Sungguh mengerikan, Bunga diikat, mulutnya dibekap dengan kain kemudian diperkosa. Sebilah parang setiap waktu  menjadi algojo membuatnya tak berdaya. Tak boleh memberitahukan kepada siapapun.

Penelusuran Pos Kupang ke Cireng, Selasa (17/4/2012), membuka tabir yang sekian lama menjadi cerita dari mulut ke mulut. Nenek Bunga dan keluarganya menuturkanya. Pimpinan sekolah dan semua guru di   tempat Bunga menuntut ilmu  mengecam kelakuan di luar batas kemanusiaan.

Mula kejadiannya sekitar bulan April atau Mei tahun 2011, ketika suatu hari Bunga pulang.  Usai mengisi perut di siang hari itu, Bunga  bermain di  halaman rumah. Suasana sekeliling rumah rumah tampak  sepi. Orangtua sedang ke kebun.
Datanglah Agustinus Pagung yang  biasanya  disapa Gusti mengajak Bunga  masuk rumah. Tak terlintas perasaan curiga apapun dalam benak, Bunga menuruti saja kemauan  Gusti yang sehari-hari mengojek. Mereka masih bersaudara dekat dan letak rumah mereka berhadapan-hadapan di Cireng.

Musibah  yang  tak pernah  disangka-sangkanya itu mengejutkan Bunga setibanya di dalam rumah. Diancam akan dibunuh kalau bersuara, tangan bunga diikat ke belakang. Mulutnya disumpal dengan kain. Dalam keadaan yang  tak berdaya,  Agus  melucuti pakaian  Bunga  dan  melepaskan dahaga syawatnya.

Dengan parang menghunus,  Bunga  ditekan  habis tak  menceritakan  kejadian itu kepada siapa pun. Jika memberitahukan, maka Bunga dan orang yang menerima pemberitahuan itu dibunuh.

Ancaman  Gusti cukup ampuh. Bunga  tak buka  suara.  Dia bungkam seribu bahasa. Ketika malam menjelang,  orangtuanya juga tak diberitahukan. Begitu pula keesokan hari dan seterusnya.  Bunga tetap  pergi dan pulang  ke sekolah seperti biasa.  Bermain dengan teman-teman sekampung dan membantu orang tua.  

Entah ketagihan, beberapa minggu kemudian Gusti  kembali melancarkan ancaman memperdayai Bunga.  Suatu waktu, keadaan di sekeliling rumahnya tampak sepi, ditinggalkan penghuni yang lain. Saat itu, Bunga baru  pulang sekolah. Ketika hendak makan,   Gusti datang dari arah  belakang kemudian  membekak mulut korban mengancam tidak boleh berteriak.  

Tak ada perlawanan.  Tangan Bunga  diikat lalu  Dia diperkosa. Gusti  mengulangi ancaman akan membunuh kalau Bunga  menceritakan kepada siapa saja perbuatannya.

"Menurut pengakuan korban  kepada  saya, dia diperkosa dua kali. Pertama di rumah pelaku  dan  kejadian kedua di rumah korban. Pelaku mengikat  tangan korban ke belakang, pakaian korban dibuka kemudian diperkosa. Korban diancam dibunuh kalau  dia ceritakan kejadian ini kepada siapa saja," tutur Kepala Sekolah SDI Cireng, Beata Pebrum, S.Pd, saat ditemui Pos Kupang di kantor sekolah itu, Rabu siang (17/4/2012).

Dikira Gemuk
Hari, minggu dan bulan berganti. Ayah dan ibu Bunga tak curiga apapun. Ke sekolah, bermain  bersama teman-teman dan membantu orangtuanya dilakoninya seperti sediakala. Keceriaan seperti  anak-anak remaja umumnya.

Perubahan postur tubuh Bunga  yang  tampak cepat  gemuk juga tak mengundang kerugiaaan orangtua kandung Bunga.  Yang terlintas dalam benak mereka bahwa Bunga gemuk dan sehat. Itu saja.   Mereka menganggapnya sebagai kejadian yang wajar dialami setiap anak perempuan yang memsuki usia akil balik selalu lebih pesat pertumbuhan  fisiknya.

Ternyata asumsi ayah dan ibunya meleset. Suatu waktu  di awal tahun 2012, Bunga jatuh sakit.  Martina Sueng, sang nenek yang sedang  curiga dengan perubahan fisik cucunya itu meminta  Bunga menginap sementara di rumahnya.

Martina mengurut perut korban. Terasa  ada tanda aneh  di dalam perut  Bunga. Bunga tak paham apapun. Martina membatin sesaat sebelum mengungkapkannya kepada Bunga.

Dia beranikan diri  memvonis  Bunga hamil. Seketika itu, korban  langsung drop. Bunga pun membuka aib yang menimpanya.  Gusti,  yang menghamilinya diceritakan kepada neneknya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved