Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026

Dira Tome: Saya Buat Hitung-hitungan

Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, mengancam mencabut dana ratusan miliar rupiah milik Pemkab Sabu di Bank NTT.

Tayang:
Penulis: alwy | Editor: Sipri Seko
zoom-inlihat foto Dira Tome: Saya Buat Hitung-hitungan
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Thome
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, mengancam mencabut dana ratusan miliar rupiah milik Pemkab Sabu yang tersimpan di Bank NTT bila kondisi bank itu tidak sehat.

"Kalau berbagai  intervensi sesuai pengakuan Pak Ibrahim Imang  itu benar, maka saya akan buat hitungan-hitungan. Saya akan kembali ke daerah nanti dan rapat dengan para pimpinan lingkup Pemkab Sabu Raijua. Apakah untuk sementara  bisa menarik kembali anggaran yang ada di situ. Saya khawatir nasib Bank NTT akan seperti Bank Century" ujar Marthen Dira Tome kepada Pos-Kupang.Com, Senin (9/4/2012).

Marthen mengatakan hal itu setelah membaca pemberitaan di media lokal terkait kisruh internal Bank NTT yang berujung drama pemecatan Direktur Pemasaran, Ibrahim Imang. Menurutnya, masih banyak bank lain yang sehat dan siap menampung dana milik Pemkab Sabu-Raijua. "Sikap mencabut tidaknya dana milik Pemkab Sabu-Raijua akan disampaikan dalam pekan ini setelah bertatap muka dengan seluruh pucuk pimpinan satuan kerja perangkat daerah," tutur Marthen.

Ia menyatakan, bila terjadi intervensi dan kekuatan dari atas terhadap kinerja bank, maka bank tersebut sudah menjadi tidak sehat. Ia mencontohkan gonta-gantinya pejabat Bank NTT hanya karena kisruh internal dan intervensi pejabat pemerintah ke depannya akan mengancam keberlangsungan Bank NTT. Ia tidak menginginkan agar pertumbuhan Bank NTT  tidak diintervensi kekuasaan pemerintah. Dengan demikian, dia menjadi perusahaan yang sehat dan membawa manfaat besar bagi masyarakat NTT.

"Semestinya pemerintah propinsi membiarkan bank itu dikelola perangkat pejabat dari direktur utama sampai dengan pegawai tingkat bawah," ujar Marthen.

Dia mengkhawatirkan bank kehabisan uang manakala uang yang didapatkan dari pemerintah kabupaten dipinjamkan kepada pihak ketiga.  "Bisa saja kehabisan uang kalau dipinjamkan ke kiri dan kanan, kemudian bank tersebut kolaps. Semisal Ibrahim Imang menyatakan di koran lokal ia mengaku dimarahi gubernur karena tidak menyetujui kredit pengusaha. Kalau memang itu benar dan terjadi, maka berbahaya," tegas Marthen.

Bagi Marthen, kondisi itu akan menyulitkan pemerintah di kabupaten. Uang rakyat yang disimpan di Bank NTT tiba-tiba habis karena dipinjamkan untuk pihak investor.

Ia menambahkan, semestinya investor datang ke NTT membawa modal untuk disimpan di Bank NTT bukan malah mengandalkan pinjaman dari bank untuk modal. Kalau model seperti itu kenapa bukan pengusaha lokal yang kerja seperti itu. "Kenapa harus pengusaha dari luar, itu yang dipertanyakan," ujarnya.

Dikatakannya, kalau investor yang betul itu, ia mengeluarkan uang dan menanamkan modalnya di Kupang. Dengan demikian perputaran uang menjadi lebih bagus.

"Bukan keruk uang dari Bank NTT, kemudian bawa ke sana. itu Salah. Kalau model begitu, banyak pengusaha di NTT yang bisa melakukannya. Kami khawatir bank bisa menjadi kolaps kalau kondisi itu terus terjadi di Bank NTT," ungkap Marthen.

Pengalaman dengan kinerja bank NTT, Marthen mengakui sering kehabisan uang dan pelayanannya lama. Tetapi bagi dia itu masih dalam hal yang wajar. Apalagi Sabu-Raijua berada jauh dari Kota Kupang. "Apakah karena uang tidak ada karena persoalan transportasi, itu kami tidak tahu," ujar Marthen.

Persoalan penempatan uang pemerintah daerah harus di Bank NTT, Marthen menyatakan persoalan itu hanya kebijakan saja. Sebagai kabupaten di wilayah NTT, maka harus menumbuhbesarkan Bank NTT. "Tetapi tidak aturan baku dan mengikat uang pemerintah daerah harus disimpan di Bank NTT," tandasnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved