Pos Kupang
Puisi-Puisi Minggu Ini
Pos Kupang - Minggu, 1 April 2012 | 20:15 WITA
Share |
Puisi Yoan Damaiko Udu

Selesailah Sudah...
 
Itu
Tubuh penuh luka
Siapa punya?
Tiada tersedan
Mengucur darah
Terkapar lunglai
Salahkah Dia?
 
Dalam tubuh luka itu berkuasa
Dalam dada sesak itu bertakhta
Karena kesumat,
karena dendam yang membara
Datang semasa,
Akan berbakti,
Lepaskan khianat,
Demi tiga puluh keping perak
 
Demikian rasa,
Sedih jiwa-Ku
Demikian perih,
Sobek sukma-Ku
Mengalun, menimbun,
mendesak, mengepung
Menyesakkan hati,
manawan tubuh
Mendayung jiwa
ke rimba persinggahan akhir
Menyundul ulasan serapah dan cerca,
Bapa...kalau boleh,
Biarlah cawan ini berlalu dari-Ku
Namun bukan kehendak-Ku,
Kehendak-Mu  itulah yang bertakhta
 
Demikian syahdu,
Lembut suara-Nya
Datang semasa,
Keburu nyawa sebentar lagi kan berpamit
Dalam kabut jumat hitam penuh pekat
Dalam gelap yang belum sempat  hinggap
Di petang dingin tomohon gerimis,
Tapi kapan bisa usai?
 
Hujan batu masih tersisa dalam bidak nestapa
Wajah keruh mulai meluruh
Tiada hati buat mengadu
Muka pucat, lagi-lagi penuh luka
Risau menggelitik hati mungil,
Rambut luruh satu-satu
Disambar halilintar mahkota duri
Hampa gulana...
 
Tergopoh-gopoh ada kesaksian
Pendopo Golgota menantikan arakan lautan algojo
Golgota...Golgota...Golgota,
Saksi mata nista dan kesumat yang membara
Hitung-hitung titahan-Nya adalah petaka
Petaka buat empunya taurat, buat farisian
Hitung-hitung kasih-Nya adalah bara api
Menyala-nyala membakar dusta dan durjana
Durjana milik  tuan-tuan yang rajanya taurat
Tak tersisa,
 
Kini,
Nyawa beranjak dari raga nan renta
Tersungkur bibir menyeloroh pinta,
Selamat tinggal waktu dan kenangan,
Jejak kutitip di sini
Dalam ketiadaan semesta
Dalam kenistaan fana penuh lalim
Bapa...selesailah sudah...
Consumatum est...
(Sebuah Refleksi Atas Masa Prapaskah yang Menyapa.
* Siswa Seminari Labuan Bajo)



Puisi-puisi Arie Putra


Obituari Kekasih

Semenjak kaki-kaki
mengantar jauh dari pisah
Angin tidak lagi meniup
bayang pekatmu
Senja pun tahu,
kau bukan milikku siang itu
Sesuntuk senyummu
yang terakhir mengukir basah

Tak kuketahui kemungkinan dalam cinta
Menyelam masuk ke kekelaman niatmu
Hanya kosong, hampa diketahui, bukan kau

Sebungkus kata,
yang kukirim tuk terbang bersamamu
Jadi pilu, kubiarkan kau menari jauh
Ah, pergilah pada kejauhanmu,
jangan kembali
Mahkota itu kuserahkan
kembali untuk yang lain

Sebagai rindu akhir, kususun tembok
Untuk mendirikan kata pisah abadi
Antara aku dan kepergianmu hilang.
                 2012


Senja di Batas Bumi

Dalam duniaku, duniamu
Dunia kita yang dituju
Kaukah itu, aku yang menggerusmu
Tidak, kita sama-sama tergerus

Sesampainya waktu itu
Yang mulanya kupandangi jauh
Kini tiba dipenghujung senja
Kau pun ingin menarikku kembali
Kukatakan itu sulit
Kabut telah mengelabuhi mata kita

Kaulah yang bertugas menyambung dunia
Menata kalender dengan cerita baru
Mengukur langit dengan perkalian waktu
Hingga tiba diperhentian senjamu
Untuk menemui batas bumi.
              2012


Saat Ayah Telah Fana
 
Kubiarkan suara burung pagi
Terngiang dalam nadimu
Kubernyanyi lewat nada terakhir
Ruang  pergerakkanku terlepas
Saat rindu terakhir
Kau lemparkan
Di dinding hancurku

Kutiupkan harapku
Dari balik perahu diamku
Menitipkan hari esok
Di pundak getirmu

Di luar sana duniamu
Aku di sini sunyi
Lekang dalam tirai pupus
Kutersenyum bisu

Aku telah fana.
     2012


Kampungku, Surgaku

Surga itu tak sejauh timur ke barat
Atau seluas selatan ke utara
Tetapi berada sepanjang halaman kampungku
Yang ditimbuni susu dan madu

Seperti ibu
Seperti ayah
Dan sanak saudara sekampung
Menggotong damai semenjak fajar tiba
Hingga senja tertutup
Mereka menaruhnya di tepi kampung

Saudara-saudara binatang malam
Menari-nari di pinggir kampung
Menghibur anak-anak jelata bahagia

Kampungku, surgaku
Lebih baik, lebih hidup
Lebih indah, lebih cerah
Lebih tenang, lebih senang.
              2012

Editor : alfred_dama