Pusat Terjunkan 6.000 Guru ke NTT
Pemerintah pusat melalui program sarjana mendidik di daerah terpencil, terdepan dan terluar (SM-3T) menerjunkan ribuan guru ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlahnya lebih dari 6.000 orang.
POS KUPANG.COM, KUPANG --- Pemerintah pusat melalui program sarjana mendidik di daerah terpencil, terdepan dan terluar (SM-3T) menerjunkan ribuan guru ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlahnya lebih dari 6.000 orang.
Dari jumlah tersebut, tak satu pun guru dari tamatan perguruan tinggi di NTT. Kenyataan inilah yang mendapat reaksi keras dari para dosen, guru dan mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP).
Para dosen FKIP dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang kemudian membentuk tim 10 sebagai tim inisiator perjuangan menolak kebijakan pemerintah yang melecehkan para calon guru dan tamatan fakultas atau sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan di NTT.
Tim 10 yang dipimpin Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.KHum itu bekerja sama dan berkoordinasi dengan pengurus badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) FKIP dari berbagai perguruan tinggi di kota ini.
Ketua Tim 10, Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.KHum mengatakan, penerimaan guru program SM-3T itu memiliki nuansa politis dan melecehkan para sarjana pendidikan tamatan perguruan tinggi di NTT.
"Program SM-3T ini memang bagus dan perlu didukung. Tapi di NTT ini banyak sekali guru kontrak, guru honor dan guru yang belum bekerja. Mengapa para sarjana pendidikan di NTT tidak diakomodir dalam program tersebut?" tanya Simon.
Menurut dia, pemerintah daerah dalam hal ini gubernur, DPRD dan Dinas PPO NTT harus menyikapi ini. Kebijakan pusat seharusnya diikuti dengan kebijakan daerah dengan memperhatikan ketersediaan SDM yang ada di daerah.