Kamis, 11 Juni 2026

Jaga Keharmonisan

MENDAPAT kepercayaan menjadi pelayan warga NTT merupakan suatu tanggung jawab yang tidak ringan. Namun sebagai putra Flobamorata, pria yang satu ini harus selalu siap ditempatkan di mana saja selama tenaganya dibutuhkan.

Tayang:

MENDAPAT kepercayaan menjadi pelayan warga NTT merupakan suatu tanggung jawab yang tidak ringan. Namun sebagai putra Flobamorata, pria yang satu ini harus selalu siap ditempatkan di mana saja selama tenaganya dibutuhkan.

“Pengalaman paling pahit sebagai Kepala ASDP adalah kadang-kadang merasa bersalah dengan istri dan anak-anak. Karena kurang lebih hampir 10 tahun saya harus tinggal berpisah dengan mereka dan sekarang baru berkumpul lagi setelah bertugas di Waingapu,” kata Kepala ASDP Waingapu, Drs. Fredrik Djoenina, ketika ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.

Demi menjalankan tugas sebagai Kepala ASDP,  alumnus Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Undana Kupang 1991 ini terpaksa harus hidup sendiri dan berpisah dari keluarga selama bertahun-tahun. Pasalnya, sejak tahun 2001 dirinya harus tinggal menetap di Kalabahi, Kabupaten Alor dan mengelola dua unit kapal di daerah itu. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur dan akhirnya bertugas di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Pria kelahiran Kupang, 17 Februari 1967 ini mengisahkan, selama menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin, banyak pengalaman yang telah dilalui. Salah satu hal yang paling menarik adalah ketika dirinya harus tampil sebagai pemimpin para Anak Buah Kapal (ABK).

“Orang-orang yang menjadi bawahan ini kan lebih banyak yang usianya lebih tua dari kita. Jadi dalam menjalankan tugas kepemimpinan saya selalu menggunakan pendekatan persuasif dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar ayah tiga orang putra dan satu putri ini.

Menurut suami dari Ny. Yeneti Lendu ini, untuk menjaga keharmonisan dan kekompakan tim kerja, pihaknya selalu menggelar evaluasi dan sharing dengan para nakhoda dan anak buah dari dua unit kapal feri yang melayani rute Kupang-Sabu-Waingapu-Aimere serta Kupang-
Ende-Waingapu.

“Setiap hari Sabtu saya kumpulkan semua staf  untuk kita rapat bersama. Kadang-kadang kalau tidak ada hal urgen yang harus dibahas kita sharing agar bisa menjaga keharmonisan dalam lingkungan kerja,” kata pria yang memiliki hobi bermain musik ini.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved