Kamis, 11 Juni 2026

Buat BH dan CD dari Tenun Ikat

POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, menantang para pengrajin tenun ikat untuk mengkreasi kain tenun ikat menjadi lebih variatif ketika dilepas ke pasar. Selama ini, yang dijual masih hanya berupa lembaran kain, belum dimodifikasi menghasilkan kerajinan berbentuk lain sehingga lebih kompetitif.

Tayang:

POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, menantang para pengrajin tenun ikat untuk mengkreasi kain tenun ikat menjadi lebih variatif ketika dilepas ke pasar. Selama ini, yang dijual masih hanya berupa lembaran kain, belum dimodifikasi menghasilkan kerajinan berbentuk lain sehingga lebih kompetitif.

“Coba buat BH dan celana dalam dari kain tenun ikat. Belum ada kan BH dan celana dari kain tenun ikat? Pasti akan dicari karena baru,” tantang Bupati Kodi Mete ketika membuka Pelatihan Pencelupan dan Pewarnaan Bagi Para Pengrajin Tenun Ikat di Aula Konventu Tambolaka, Rabu (28/9/2011). Acara ini diikuti para pengurus Dekranasda SDB, pengrajin tenun ikat dari Kecamatan Kodi dan Kecamatan Loura.

Kodi Mete mengatakan, tenun ikat telah ada sejak dulu. Tenun ikat merupakan warisan yang membanggakan semua orang Sumba. Tetapi apakah tenun ikat bisa menjadi jembatan menuju sukses dan kesejahteraan?

“Saya kira jawabannya mungkin belum. Karena itu jembatan itu harus dibangun dengan antara lain mengadakan pelatihan, mengkreasi tentun ikat sehingga lebih bervariasi. Selama ini yang dijual hanya kain tenun lembaran. Belum dikreasi menjadi lain,” kata Kodi Mete.

Karena itu, Kodi Mete menantang para pengrajin tenun ikat di SBD untuk meningkatkan dan melipatgandakan nilai lebih dari tenun ikat dengan berbagai kerajinan lain.
“Bisa buat BH, celana dalam,dasi, dompet, tas. Kalau itu orang akan cari karena belum ada di tempat lain,” katanya.

Kodi Mete mengatakan, sekarang ini  Sumba menjadi incaran para wisatawan. Orang sepertinya berlomba-lomba datang ke Sumba.

“Apa yang mereka bawa kalau pergi dari Sumba? Paling banyak tenun ikat. Tetapi hanya berupa lembaran kain, belum dalam bentuk kreasi lain dari tenun ikat. Ini tantangan inovasi yang harus kita jawab,” katanya.

Acara pembukaan itu dihadiri Ketua Dekranasda SBD, Margaretha Tatiek  W Mete, Wakil Ketua Dekranasda SBD, Mari JJ Lubalu Malo Bulu, Kepala Dinas Sosial,  Tenaga Kerja dan Transmigrasi SBD, Bernardus Bulu, Sekretaris Dekranasda SBD, John Tende, S.H. Pelatihan ini berlangsung tiga hari, terhitung Rabu (28/9/2011) sampai Jumat (30/9/2011).

Menurut John Tende, pelatihan ini diberikan oleh para tutor dari Sumba Timur. “Mengapa dari  Sumba Timur? Karena mereka itu sudah mendapat pelatihan di Bali dan Bandung. Daripada mendatangkan tenaga dari Bali dan Bandung, lebih baik kita manfaatkan tenaga kita di sini,” kata Tende.

Tende menjelaskan, pelatihan ini bertujuan antara lain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta pelatihan dalam melakukan teknik pencelupan dan pewarnaan yang benar dengan bahan alami, meningkatkan kualitas hasil tenun ikat dari para peserta sehingga mampu bersaing dengan kain tenun dari daerah lain.
“Juga menjadikan tenun ikat bukan hanya sebagai  usaha sampingan tetapi menjadi usaha utama yang mampu menekan tumbuhnya laju pengangguran di daerah,” tegas Tende.

Selain mendapat teori di ruang pelatihan, kata Tende, para peserta juga akan mengikuti praktek di tempat yang telah ditentukan panitia.  Para peserta terlihat semangat dan antusias mengikuti pelatihan ini.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved