Dana Bansos Dikasih kepada Kontraktor
MAUMERE, FloresStar, pos-kupang.com — Penyimpangan dana bantuan sosial (bansos) sebesar Rp 10,7 miliar digunakan di luar nomenklatur sebagaimana temuan tim Pansus Bansos DPRD Sikka yang melakukan uji petik ke desa-desa. Di Kecamatan Talibura, dana Rp 100 juta dari Bagian Kesra Setda Sikka dikasih kepada kontraktor untuk membangun rabat jalan.
MAUMERE, FloresStar, pos-kupang.com — Penyimpangan dana bantuan sosial (bansos) sebesar Rp 10,7 miliar digunakan di luar nomenklatur sebagaimana temuan tim Pansus Bansos DPRD Sikka yang melakukan uji petik ke desa-desa. Di Kecamatan Talibura, dana Rp 100 juta dari Bagian Kesra Setda Sikka dikasih kepada kontraktor untuk membangun rabat jalan.
Pengajuan dana itu berdasarkan proposal warga yang dibawa oleh oknum calon anggota DPRD menjelang pemilu legislatif tahun 2009. Mereka merencanakan proyek rabat jalan sepanjang 100 meter, ternyata hanya dikerjakan 95 meter.
“Mutu rabat beton juga jelek, sudah rusak.Yang kami heran, kenapa pemerintah membuat disposisi dana bansos untuk bangun rabat jalan. Ini kesalahan fatal atau mungkin pemerintah tidak sadar. Tidak ada nomenklaturnya,” kata Amboros Dan, yang memimpin tim uji petik Pansus Bansos DPRD Sikka bersama Darius Evensius, dan Yohanes Aristakus, pekan lalu ke sejumlah kecamatan di wilayah timur Kabupaten Sikka. Di Kecamatan Doreng, tim pansus menemukan bantuan satu ton beras kepada warga Desa Waiwaha disalurkan melalui pemerintah desa. Namun, sekretaris desa diminta menandatangani pertanggungjawaban beras delapan ton. “Ini benar-benar keterlaluan. Sekretaris desa tidak mau tanda tangan kuitansi beras delapan ton, karena yang diterimanya hanya satu ton,” ungkap Ambros.
Ambros mengatakan, masyarakat Doreng mengalami musibah kebakaran rumah, angin puting beliung dan menerima bansos 2009 menandatangani dokumen penyaluran dari Bagian Kesra Setda Sikka, tapi bantuan diambil dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disnakertrans) Kabupaten Sikka. Bahkan, uji petik penerima bantuan oleh inspektorat, penerima bantuan dimintai keterangan di Kantor Inspektorat Sikka. Tim pemeriksa tidak melaksanakan uji petik langsung di lokasi penerima bantuan itu.
“Kejanggalan yang kami temukan di wilayah timur, mirip dengan temuan dua tim lainya di wilayah tengah, utara dan barat. Bantuan yang diberikan tumpah tindih. Jumlah tidak sesuai, dan administrasi amburadul,” kata Ambros.