Korban Tinggalkan Adonara Menuju Larantuka

Suanggi Kembali Makan Korban

LARANTUKA, POS KUPANG.Com -- Setelah di Rote, Alor, Kota Kupang dan Ende, tuduhan suanggi kembali makan korban. Kali ini terjadi di Adonara, Kabupaten Flores Timur. Dua rumah hancur dirusak massa. Penghuni yang dituduh suanggi tinggalkan Adonara.

LARANTUKA, POS KUPANG.Com --  Setelah di Rote, Alor, Kota Kupang dan Ende, tuduhan suanggi kembali makan korban. Kali ini terjadi di Adonara, Kabupaten Flores Timur.  Dua rumah hancur dirusak massa. Penghuni yang dituduh suanggi tinggalkan Adonara.

Korban tuduhan suanggi adalah Dominggus Libu Kleden (66) dan Kamilus Ketan Lier Kleden, warga RT 6/RW 12, Dusun Watodei, Kecamatan Adonara Barat. Rumah keduanya dirusak massa hingga rata tanah pada Jumat (31/12/2010) dan Sabtu (1/1/2011).  

Semua harta benda milik korban tidak terselamatkan kecuali pakaian di badan. Bahkan, semua perkakas dapur dan rangka jendela untuk bangunan sekolah dasar (SD) Danibao dihancurkan dan bakar massa sekitar 100 orang.

Warga Dusun Watodei menuding korban sebagai suanggi yang menyebabkan anak mereka meninggal dunia. Karena itu mereka membakar dan mengusir korban yang sudah bermukim puluhan tahun di desa tersebut.

Dominggus Libu Kleden saat ditemui di rumah keluarganya di Kelurahan Lewerang, Kecamatan Larantuka, Selasa (4/1/2011),  menuturkan kronologis kejadian itu. Menurut dia, pada Rabu (29/12/2010), menantunya Florentina Perada yang juga kader posyandu  diminta salah satu keluarga di desa itu untuk  menyembuhkan seorang balita menggunakan jampi-jampi.

Dia melarang karena menantunya bukan dukun. Namun keluarga itu terus memaksa untuk menyembuhkan balita itu. Sehari kemudian, balita yang diduga menderita gizi buruk tersebut meninggal dunia. Karena balita itu meninggal, Kamis (30/12/2010), beberapa anggota keluarga balita itu langsung datang ke rumah Keleden dan marah-marah.

"Mereka mengatakan kami menggunakan ilmu hitam sehingga anak mereka meninggal. Apa yang mereka sampaikan, kami tidak tanggapi. Namun, esoknya mereka datang membawa massa sekitar 100 orang lebih hendak membakar rumah saya yang permanen dan rumah anak saya yang semi permanen. Saat itu saya bersama istri, anak dan cucu berada dalam rumah. Rumah tidak dibakar. Mereka melempar rumah saya dengan batu dan benda-benda keras lainnya. Saat itu, kami sekeluarga keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri. Dibantu beberapa keluarga yang ada di desa serta pihak keamanan kami ke Larantuka," tutur Kleden yang pada kesempatan itu didatangi Penjabat Bupati Flotim, Drs. H. Muhammad S. Wongso, ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Rosmini Semsi Wongso, SE, Inspektorat Daerah (Irda) Flotim, Ahmad Bethan, Kabag Humas, Rufus Koda Teluma, Camat Adonara Barat, Valentinus Basa, Lurah Lewerang, Yoseph K. Matutina serta keluarga korban.

Ia mengakui, setelah rumahnya dirusak harta benda di dalamnya dibakar. "Saya tidak bisa menghitung kerugian, karena yang dibakar selain dua rumah juga kios dan mebel. Kami tidak punya apa-apa lagi. Kami harus memulai dari nol," kata Kleden sambil menahan air mata.

Kleden mengakui, saat itu dia sempat berpikir untuk berhadapan dengan warga yang datang dengan beringas saat itu. Namun, mengingat sejumlah cucunya yang masih kecil di dalam rumah sehingga ia memilih untuk keluar dari rumah.

"Saya ini tidak takut dengan orang, tapi berpikir banyak anak dan cucu. Ini negara hukum sehingga saya memilih mengamankan keluarga saya. Dan, saya juga minta kepada keluarga agar tidak terpancing. Biarlah pemerintah yang mengatur. Kami ingin keadilan. Karena itu, kami minta kepada bapak Kapolres, bapak bupati untuk memberikan rasa adil kepada kami. Kami kami juga berterimakasih kepada semua khususnya bapak kapolres, bupati, kapolsek dan masyarakat yang bersimpati kepada kami," katanya.

Korban akibat tudingan suanggi sebelumnya menimpa rumah pasangan suami- istri Frans da Cunha dan Yosefina da Lima  di Jalan Undana, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende.  Rumah mereka  dilempari massa, Minggu (28/11/2010) sekitar pukul 02.00 Wita. Rumah itu dihujani   batu hingga pintu dan jendela rusak.  Tuan rumah, Yosefina terkena lemparan batu di pelipis. Ia dilarikan ke RSUD Ende.
Polisi masih menyelidiki motif dari pelemparan itu. Tetapi kuat dugaan aksi itu dilatarbelakangi  tudingan yang menyebutkan keluarga ini  memiliki ilmu hitam atau suanggi. (iva)

Serahkan Bantuan


KEJADIAN tragis yang menimpa dua warga Dusun Watodei, mendapat atensi dari Penjabat Bupati Flotim, Drs. Muhammad S Wongso. Di hadapan Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Kapolres Flotim dan Dandim Larantuka pada acara Natal bersama di Gedung Orang Muda Katolik (OMK), Senin (3/1/2011) malam, Wongso meminta agar Kapolres Flotim menangani kasus tersebut secara juga meminta uskup dan para rohaniwan mendoakan keluarga yang sedang didera masalah.

"Pantaskah di tengah-tengah kita melaksanakan kedamaian di malam Natal ini, masih ada saudara kita yang diperlakukan tidak adil. Batin tidak tenang. Karena itu saya minta agar Kapolres memberikan mereka keadilan. Negara ini negara hukum. Tidak ada yang boleh main hakim sendiri," kata Wongso.

Wongso yang baru menerima informasi dari Camat Adonara Barat, Senin (3/1/2011) malam, langsung meminta stafnya menyiapkan bantuan. Hari Selasa (4/1/2010), Wongso menyerahkan bantuan berupa uang Rp 10 juta dan beras 500 kepada  keluarga korban. Bantuan itu diterima Dominggus Libu Kleden (66) dan istri, Yasinta Tulit (65) di rumah keluarga mereka di Kelurahan Lawerang.

"Bantuan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerugian yang bapak derita, namun ini bagian dari partisipasi pemerintah untuk keluarga bapak. Bahwa bapak tidak sendiri namun bersama kami semua," kata Wongso.

Ia juga meminta kepada Camat Adonara Barat agar mengurus cucu-cucu dari keluarga Kleden yakni, Yohanes Sabon Ama Doni, SMP kelas I, Magdalena Tuto Kleden, SD kelas 4, Philipus Dahe Kleden SD kelas 5 dan Stevenia Ina Libu Kleden, SD kelas II untuk sekolah  di Larantuka.

"Saat ini camat masih konsentrasi pemulihan suasana di Desa Bukit Saburi. Anak-anak harus sekolah. Jangan dipersulit saat proses pemindahan untuk dititipkan sementara agar pendidikan mereka tetap jalan," harapnya.

Sementara Kapolres Flotim, AKBP Eko Kristianto yang dihubungi pertelephon ketika berada di Adonara Barat mengakui, pihaknya sedang mengidentifikasi pelaku.

"Kami masih melakukan identifikasi. Secepatnya, kami akan ungkapkan siapa pelaku pengrusakan karena tidak semua orang yang datang ke kediaman korban ikut merusak," katanya. (iva)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved